Monday, September 12, 2016

Tak Ada Jalan Pintas Belajar IELTS


Mendapat beasiswa--BUDI LN--tidak lantas hati saya tenang. Ada hal yang masih mengganjal dalam mewujudkan sekolah keluar negeri. Selain berkas yang belum kelar, satu hal lain yang masih terus menghantui saya: IELTS.

Untuk mengejar nilai Band 6.5 saya harus merelakan atau bisa dikatakan mengorbankan segala 'kenyamanan' di Kendari; pekerjaan kampus, bermain bersama keluarga dan tentu mencari uang tambahan seperti membantu isti menjaga kedai di rumah dan meneliti. Semua demi IELTS.

Sebulan di Pare saya mengambil beberapa kursus, sebelumnya mengambil grammar di Kresna, kemudian kelas IELTS di English Studio dan kelas tambahan grammar lagi bersama Mr. Mike di Royal English Course. 

Setelah menjalani hari-hari. Scoring saya lakukan untuk mengukur sejauh mana nilai IELTS saya. dan hasilnya? band saya masih 5 overall. Masih jauh dari Perth. Kampus UWA tujuan saya meminta 6.5 dan setiap Band tidak boleh kurang dari 6.0. Tentu mustahil bagi saya yang hanya mengambil kursus tiga bulan di Pare.

Setipa hari scoring listening


  1. Minggu 1: 4
  2. Minggu 2: 4,5
  3. Minggu 3: 5
  4. Minggu 4: 6 


Nilai masih naik turun. skor ini belum masuk di reading, writing dan speaking. 

Setidaknya setiap bagian membutuhkan 25-30 benar untuk masuk dalam tahap aman mencapai Band 6.5.

Di kampus UWA menyediakan kelas IELTS untuk dua bulan. namun penawarannya diluar kewajaran bagi saya; 5,500 Australian Dollar. Kalo di rupiahkan mencapai Rp 50,000,000 (kurs 10000). Ini namanya buang-buang uang.

IELTS membutuhkan standar tinggi. artinya perhatian kita harus 100 persen bahkan lebih. jadi kita benar-benar harus belajar terus menerus sedikitnya tiga bulan untuk bisa mendapat nilai 6.5 namun jika anda punya dasar grammar yang kuat. Bagaimana kalo tidak ada dasar sama sekali? sedikitnya 6-12 bulan alias setahun untuk bisa mencapai skor 6.5. 

Perth masih jauh atau bahkan tidak akan pernah bisa dijangkau karena IELTS yang masih jadi beban berat. Saya menyesal tidak belajar dari jauh-jauh hari atau pada saat aktif kuliah. jadi anda yang ingin mencari beasiswa dan masih muda sisakan waktu untuk belajar bahasa inggris (baca:IELTS)

***

Di Pare tempat kursus yang dianggap punya kredibilitas baik menyelenggarakan IELTS menurut pengalaman saya dan beberapa informasi dari teman-teman yaitu Global English, TEST, dan English Studio. Kata yang terakhir ini saya mengambil kelas band 5 dan 6 harga dikisaran tiga juga per dua bulan. 

Belajar IELTS di Pare bisa dikatakan terjangkau. Namun jangan terlalu banyak berharap karena tinggi rendahnya hasil/skor tergantung kemampuan seseorang. IELTS dibutuhkan keseriusan untuk belajar apalagi yang memiliki waktu yang singkat, dibutuhkan kerelaan menghabiskan waktu untuk menghapal vocab, tenses, membaca dan menulis bahasa inggris. Jika prasyarat terpenuhi IELTS bukan menjadi barang yang menakutkan. 

Dan saya mencoba untuk itu...

Share:

4 comments:

  1. ijin share ya mas ... semoga bisa menginspirasi ..

    ReplyDelete
  2. Sebelumnya selamat Mas Patta udah lulus beasiswa Budi LN. Insha Allah saya jga mau apply Budi LN tahun 2017. Kalau lgi ada waktu luang, bisa share juga mas pengalaman mas unk dapat Loa. makasih dan smga study S3 nya lancar mas. Aamiin

    ReplyDelete
  3. Terimakasih mas Budi, Insya Allah sy siap sharing2 ttg pengalaman suka dan duka mencari beasiswa dan supervisor...insya Allah, setelah perjalanan IELTS sy selesai dan masih ada peluang dari dikti untuk defer ke Juni 2017, saya akan fokus lagi mengurus blog dan berbagi ttg pengalaman.

    salam hangat

    Patta

    ReplyDelete

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...