Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. email:pattahindi@gmail.com

Bersahabat dengan BUDI

Beberapa hari yang lewat saya berkenalan dengan BUDI, mengenalnya sudah lama sejak saya masih di bangku Sekolah Dasar (SD). Kata terakhir yang saya sebut ini bukan menyebut 'orang', sama sekali bukan--walaupun orang yang lahir di tahun 80-an ke bawah mengenal sosok yang selalu disebut dalam pelajaran SD itu--Budi dimaksudkan ini adalah beasiswa unggulan dari Ristekdikti. Nomenklatur baru ini awalnya bernama BPPS atau BPPDN/BPPLN. 

BUDI ini akronim dari Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia (BUDI) kerjasama Ristekdikti dan LPDP. Sebuah program percepatan sumber daya manusia dari Ristekdikti. Pelibatan LPDP saya melihatnya sebagai pengelola pendanaan. Jamak diketahui bahwa pencairan dana beasiswa dari Ristekdikti (dulu disebut beasiswa Dikti) selalu mengalami keterlambatan. Saya melihat LPDP dengan pengalaman mengelola dana abadi pendidikan yang memberi beasiswa ribuan anak muda Indonesia dianggap berhasil dalam pendanaan. Jadi pelibatan LPDP akan memberikan angin segar bagi penerima beasiswa Ristekdikti.  

Sempat terdengar kabar angin bahwa beasiswa Ristekdikti dialihkan kepada LPDP untuk mengurusnya. dan tentu membuat panik dosen-dosen setanah air. Ini berarti dosen akan bersaing dengan darah muda dalam seleksi di LPDP. saya sudah merasakannya. jika persiapannya setengah-setengah lebih baik urungkan niat bahkan hilangkan niatnya untuk mendaftar LPDP (bukan berarti Beasiswa Ristekdikti untuk orang setengah heheheh). Beasiswa ini diperuntukkan bagi Dosen dibagi dalam dua format, BUDI-DN dan BUDI-LN.

Setelah pengumuman periode pendaftaran saya tidak menyiakannya. segera mengurus berkas 'sisa-sisa' peninggalan pendaftaran LPDP. dan saya menemukan ada beberapa yang diadopsi dari sistem LPDP. dan saya agak terbantu karena sudah pernah mendaftar di LPDP.  

lanjut cerita, saya memilih BUDI-LN karena sudah mendapat LoA dari University of Western Australia. sebenarnya saya masih bernafsu mendaftar beasiswa LPDP. namun persiapan saya pendek. fokus ke BUDI lebih realistis. Saya Dosen dan mencoba petualangan baru di BUDI.

Saya berharap beasiswa yang saya kejar ini tidak bertepuk sebelah tangan. Pasalnya dari beberapa percobaan selalu pulang dengan tangan hampa. tapi yang namanya nekat, gunung pun didaki. sudah kepalang tanggung. jika gagal mencoba lagi, toh belum mencapai 999 kali percobaan. saya sudah melakukan lima kali percobaan. jadi target kadaluarsa untuk tidak disebut berhasil masih panjang. 

Saya sudah ikhtiar, sisanya serahkan kepada Allah...

print screen pendaftaran

Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

3 comments:

  1. selamat pak udah lulus
    --
    kalau saya belum lulus wawancara bUDI-LN
    walaupun udah dapat LoA unconditional, ielts 6.5
    --
    susah ternyata.
    --
    ini tgl 26/7/16 mau daftar lagi gel.2,
    tapi sistem nya menolak dg keep saying this "Periode pendaftaran telah berakhir!."
    padahal gel 2 dimulai 25/7-5/8/16
    mungkin belum beruntung dan masih berliku jalannya hehe
    ---

    salam
    Safitri Perdana

    ReplyDelete
  2. terimakasih mbak Savitri. tadinya saya anggap 'enteng' bahwa kalo sudah ada IELTS 6.5 dan unconditional sudah pasti lulus. ternyata 'keberuntungan' selalu ikut berpengaruh. saran saya mbak coba lagi di gelombang kedua. minggu depan sy baca informasinya. 130 masih ada kuota untuk periode 2016. sy beberapakali gagal. dan saya harap mbak juga tidak menyerah :)

    salam hangat

    ReplyDelete
  3. Trima kasih Pak Patta Hindi atas wejangannya :)
    ---
    Insya Allah, gak ada terlintas "anggap enteng" kok
    Malah fitri merasa lebih banyak kuatiar saja.. hehe
    ----
    Tapi Yang aneh adalah:
    Di panduan Budi-LN, tertera bhw syaratnya adalah LoA Unconditional
    Tetapi kenyataannya, peserta yang dipanggil wawancara mempunyai
    LoA yang masih Conditional (belum layak dari pandangan host uni nya)
    ----
    Yang semakin aneh adalah:
    ada Yang lulus wawancara padahal LoA nya masih Conditional
    Sedangkan peserta yang mempunyai LoA UNconditional kok tidak lulus ??
    ---
    Saran 1:
    Bilamana LoA-Uncoditional boleh, ya ditulis saja di Panduannya boleh.
    Sehingga tidak ambigu.

    ---
    Banyaknya faktor tidak terukur inilah yang menjadikan
    seleksi Budi-LN 'terkesan' cuman faktor keberuntungan bukan
    pada Kelayakan Peserta

    ---

    Saran 2:
    Sebaiknya Dikti mensyaratkan faktor terukur kelulusan wawancara, Contoh:
    1. LoA harus sudah UNconditional
    2. Test bahasa inggris harus sudah level internasional (bukan level ITP atau prediksi)
    (Toefl ITP kan gak cocok diadu dg TOEFL IBT, dst..)
    3. Tentukan Uni yg diperbolehkan dilamar (dinilai sesuai peringkat uni)
    (Fakta: Banyak peserta yg debat kusir saat wawancara ttg kualitas UNI yg dilamar
    padahal uni nya sudah nyata2 diperbolehkan di panduan-BudiLN)
    4. dan dan banyak lagi faktor2 terukur lainnya
    5. Faktor2 terukur ini kemudian discoring, sehingga akan meminimalkan faktor2
    subjektifitas para pewancara.
    ----
    Anyway, saya akan coba lagi gelombang 2,
    semoga dimudahkan oleh Allah.

    Wish Me LUCK
    fitri

    ReplyDelete

Terimakasih yang tak terhingga untuk sahabat yang berkenan menuliskan komentar kritisnya...salam bahagia