Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. e-mail: pattahindi@gmail.com

Seni Berkuasa


Salah satu hal yang selalu menjadi perhatian masyarakat kita akhir-akhir ini adalah politik (baca:kekuasaan). sepanjang waktu istilah ini selalu melekat; tidak di rumah, di kampus, di warung kopi hingga ke lapak-lapak pasar. jika kita lebih intens mendengarkan pembicaraan orang-orang di tempat-tempat itu akan terasa perbicangan tidak jauh dari politik/kekuasaan. memilih siapa? Si Anu tidak punya kemampuan menjadi walikota, Si B hanya bermodal retorika, Si C aji mumpung karena bapaknya berkuasa. Selanjutnya Si D dan selanjutnya Si E, seterusnya dan seterusnya.

Kekuasaan memang tabiat manusia. karena manusia punya kehendak untuk berkuasa, will to power demikian Nietzsche pernah berkata. saking inginnya terus berkuasa manusia mencari cara untuk mempertahankannya bagaimana pun itu. 

Mempertahankan kekuasaan bukanlah hal baru dari manusia. sejak manusia lahir dan perjalanannya bertahan hingga ribuan tahun perebutan kekuasaan selalu mewarnai perjalanan sejarahnya. perjalanan sejarah kemudian silih berganti merebut tahta dan kekuasaan. selalu sampai kapan

Apakah kekuasaan semata-mata hanya mepertahankan diri atau menghilangkan yang lain? Saya pikir tidak. mari kita tengok masa lalu sebagai pelajaran. saya ingin mengutip kepemipinan raja Persia pertama Koresy Yang Agung yang dikagumi sebagai pejuang pertama hak asasi manusia. saya membaca kisahnya di majalah National Geographic Indonesia edisi Agustus 2008. 

Koresy yang Agung bukanlah satu-satunya penguasa yang menerapkan prinsip kemanusiaan. Nabi Muhammad SAW sudah menerapkan pemerintahan yang berprikemanusiaan. kisah Piagam Madinah adalah salah satu contohnya. juga para nabi lainnya yang selalu menuntun kearah kebajikan. dan di abad modern ini sudah ada-sedikit-contoh pemimpin/penguasa yang menerapkan prinspi profetisme dalam memerintah.

Menjadi penguasa (baca: pemerintah) adalah seni merawat jiwa. Trias Kuncahyono dalam kolomnya di Kompas Minggu 21 Februari 2016 dengan menyitir Plato menjelaskan kepada kita bahwa politik/kekuasaan adalah seni merawat jiwa yang berkomitmen pada nilai-nilai kebajikan. 

Kenyataan bahwa arah politik/kekuasaan dewasa ini justru selalu menjauh dari nilai-nilai kebajikan. seolah-seolah dibawa kepada kehancuran nilai-nilai. bukan sebuah seni. jadinya, politik KKN, korupsi dan saling curiga merebak dalam hidup kita. 

Saya mengutip Firdausi, penyair Iran yang menulis Babad Shah-namah (kisah raja-raja) yang dikutip dalam majalah National Geographic tahun 2008 bahwa:

yang paling pantas memerintah/berkuasa adalah orang yang paling enggan memerintah/berkuasa yang lebih memilih mencurahkan waktunya untuk masalah utama manusia, yaitu khidmat kebijaksanaan, takdir jiwa manusia, dan kemisteriusan kehendak Tuhan. 
Demikianlah, kita akan berkuasa, entah dalam skala apa. Tapi kita mau jadi penguasa atau memerintah seperti apa? Itu adalah pilihan. 
Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...