Friday, December 23, 2016

Memulai dari 5.0

Berjuang untuk sekolah ke luar negeri bukan perkara mudah buat saya. Pasalnya nilai IELTS belum mencukupi seperti yang dipersyaratkan kampus; minimal 6.5 dan setiap band minimal 6.0. Segala daya telah saya lakukan, ke Pare selama 3 bulan, kursus privat selama sebulan namun hasil yang saya dapatkan belum memenuhi harapan. Yang belum saya lakukan hanyalah menghalalkan segala cara seperti membeli nilai abal-abal. 

Saya telah mendapatkan nilai akhir, hasilnya, belum seperti yang saya inginkan. Tes akhir masih 5.0 overall. Saya memaklumi, untuk test taker seperti saya yang memulai bahasa Inggris dari nol sangat bisa dipahami jika angka dibawah 6.5. Ada beberapa orang sampai belasan kali mengambil real test hingga akhirnya mendapat nilai yang diingikan, minimal 6.0. Saya mencoba untuk tetap berusaha hingga meraih nilai standar kampus. Bukan apa-apa, saya sudah mendapat beasiswa LPDP-Dikti dan surat penerimaan kampus, CoE (Certificate of Enrollment) tinggal mengurus visa untuk berangkat Februari 2017. Jika faktor IELTS yang menggagalkan keberangkatan saya, maka penyesalan yang tak kunjung usai akan saya rasakan. dan itu menyakitkan.  

Jadi apa selanjutnya? tes lagi, belajar lagi, gagal lagi, tes lagi. Saya masih punya enam bulan masa deadline jika harus menunda keberangkatan. di kontrak tercantum bahwa karyasiswa bisa menunda hingga satu tahun. 

Apa hikmahnya? hikmahnya dari angka 5.0, saya sudah mengetahui kelemahan dan beberapa poin lagi ang harus saya dapatkan untuk mendapat minimal 6.5. Saya sudah mencoba menghubungi kampus untuk diberikan kursus singkat namun jawabannya musti membayar 5000 dollar Australia, jika dirupiahkan mencapai 50 juta. Angka fantastis hanya untuk IELTS 6.5. 

Buat pencari beasiswa, jika memang niatnya untuk sekolah keluar negeri alangkah baiknya mempersiapkan diri. dan saya menganjurkan untuk mengambil IELTS karena rata-rata kampus di EROPA dan Australia dan sebagian Amerika (setahu saya) mempersyaratkan IELTS. Setahun cukup rasional untuk pembelajar yang baru memulai IELTS. Belajar dari pengalaman saya, setidaknya butuh minimal enam bulan fokus (tidak boleh nyambi) untuk mendapat skor maksimal.

Saya akan melihat sejauh mana memulai dari 5.0 bisa merubah nasib; ke Australia atau? Ah, berusaha dulu minimal 3 kali percobaan baru memikirkan hal-hal terburuk.

Sesuatu musti diraih dengan kerja (keras)...seperti nasehat guru bahasa Inggris saya, Mam Pamela Davis; if you need something you should work hard because you can learn about it for your life and family. Untuk meraih sesuatu memang harus diperjuangkan. dan saya mencobanya,
Share:

Monday, September 12, 2016

Tak Ada Jalan Pintas Belajar IELTS


Mendapat beasiswa--BUDI LN--tidak lantas hati saya tenang. Ada hal yang masih mengganjal dalam mewujudkan sekolah keluar negeri. Selain berkas yang belum kelar, satu hal lain yang masih terus menghantui saya: IELTS.

Untuk mengejar nilai Band 6.5 saya harus merelakan atau bisa dikatakan mengorbankan segala 'kenyamanan' di Kendari; pekerjaan kampus, bermain bersama keluarga dan tentu mencari uang tambahan seperti membantu isti menjaga kedai di rumah dan meneliti. Semua demi IELTS.

Sebulan di Pare saya mengambil beberapa kursus, sebelumnya mengambil grammar di Kresna, kemudian kelas IELTS di English Studio dan kelas tambahan grammar lagi bersama Mr. Mike di Royal English Course. 

Setelah menjalani hari-hari. Scoring saya lakukan untuk mengukur sejauh mana nilai IELTS saya. dan hasilnya? band saya masih 5 overall. Masih jauh dari Perth. Kampus UWA tujuan saya meminta 6.5 dan setiap Band tidak boleh kurang dari 6.0. Tentu mustahil bagi saya yang hanya mengambil kursus tiga bulan di Pare.

Setipa hari scoring listening


  1. Minggu 1: 4
  2. Minggu 2: 4,5
  3. Minggu 3: 5
  4. Minggu 4: 6 


Nilai masih naik turun. skor ini belum masuk di reading, writing dan speaking. 

Setidaknya setiap bagian membutuhkan 25-30 benar untuk masuk dalam tahap aman mencapai Band 6.5.

Di kampus UWA menyediakan kelas IELTS untuk dua bulan. namun penawarannya diluar kewajaran bagi saya; 5,500 Australian Dollar. Kalo di rupiahkan mencapai Rp 50,000,000 (kurs 10000). Ini namanya buang-buang uang.

IELTS membutuhkan standar tinggi. artinya perhatian kita harus 100 persen bahkan lebih. jadi kita benar-benar harus belajar terus menerus sedikitnya tiga bulan untuk bisa mendapat nilai 6.5 namun jika anda punya dasar grammar yang kuat. Bagaimana kalo tidak ada dasar sama sekali? sedikitnya 6-12 bulan alias setahun untuk bisa mencapai skor 6.5. 

Perth masih jauh atau bahkan tidak akan pernah bisa dijangkau karena IELTS yang masih jadi beban berat. Saya menyesal tidak belajar dari jauh-jauh hari atau pada saat aktif kuliah. jadi anda yang ingin mencari beasiswa dan masih muda sisakan waktu untuk belajar bahasa inggris (baca:IELTS)

***

Di Pare tempat kursus yang dianggap punya kredibilitas baik menyelenggarakan IELTS menurut pengalaman saya dan beberapa informasi dari teman-teman yaitu Global English, TEST, dan English Studio. Kata yang terakhir ini saya mengambil kelas band 5 dan 6 harga dikisaran tiga juga per dua bulan. 

Belajar IELTS di Pare bisa dikatakan terjangkau. Namun jangan terlalu banyak berharap karena tinggi rendahnya hasil/skor tergantung kemampuan seseorang. IELTS dibutuhkan keseriusan untuk belajar apalagi yang memiliki waktu yang singkat, dibutuhkan kerelaan menghabiskan waktu untuk menghapal vocab, tenses, membaca dan menulis bahasa inggris. Jika prasyarat terpenuhi IELTS bukan menjadi barang yang menakutkan. 

Dan saya mencoba untuk itu...

Share:

Sunday, August 14, 2016

Surat dari BUDI

Setelah berjuang dengan harap akhirnya berita bagus datang dari seberang. Sebuah surat yang saya tunggu-tunggu dua bulan lamanya; Saya Lulus Seleksi Beasiswa BUDI (Ristekdikti-LPDP). Alhamdulillah...Berkah Ramadhan.

Saya percaya hasil tidak akan mengingkari usaha. Usaha yang saya dapatkan ini berbuah akhirnya. Bayangkan sejak mendapat LoA dari supervisor di akhir tahun 2012 saya harus menunggu hingga empat tahun lamanya untuk mendapat surat ‘kelayakan’ untuk beasiswa.

Beasiswa yang mendanai saya adalah Beasiswa BUDI (Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia) kerjasama Kemristekdikti-LPDP. Beasiswa ini ditujukan kepada Dosen yang memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) dan Nomor Dosen Induk Khusus (NIDK) bagi dosen non-PNS di perguruan tinggi negeri. Berukut link-nya : Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia

Bagi Dosen yang ingin mendaftar LPDP maka diberikan slot khusus dengan format BUDI-DN dan BUDI LN. Proses seleksi dilakukan secara bersama (joint selection) mulai dari seleksi administrasi, wawancara hingga lokakarya keberangkatan. Pewawancara terdiri dari tiga--juri/interviewer (biasanya Doktor dan Professor) dua orang perwakilan Ristekdikti, dan satu perwakilan LPDP. tidak ada psikolog sebagaimana kebiasaan pewawancara dikti. LPDP mungkin tahu bahwa yang diwawancarai adalah dosen yang sudah tua-tua. hehehe...

Dan selanjutnya untuk pendanaan, LPDP memiliki kewenangan besar terhadap penyantun dana karyasiswa. Jadi selamat tinggal beasiswa Dikti yang selalu dikenal selalu telat cair. Heheheh….

Untuk lolos BUDI tidak susah tapi tidak gampang-gampang juga. Melihat data statistik pendaftar bisa menjadi melihat angka. Dalam laporannya pendaftar BUDI DN dari laman sumber daya dikti sekitar 7789 dosen yang akan diterima hanya 2000. Sedang BUDI LN digelombang pertama pendaftar sekitar 1800-an dari 300 kuota yang tersedia. Hasilnya, yang lolos seleksi hanya 168 jadi masih tersisa sekitar 132. Anda nilai sendiri beasiswa ini gampangan atau tidak. Bagi saya cukup gampang, seorang dosen sudah pasti bisa mendaftar BUDI. Pendanaan full dari LPDP saya yakin akan lebih kompetitif. Tapi siapa peduli beasiswanya bergengsi atau tidak yang penting bisa sekolah keluar negeri itu keren bagi saya. Yang penting setelah selesai, ilmu, metode dan jejaring digunakan atau tidak. Bagi saya Beasiswa BUDI sangat bergengsi.

**

Keberhasilan meraih beasiswa BUDI kali ini bukan hal yang mudah perjalanan setelah tahun 2012 yang tidak pernah mengenal lelah bahkan bisa dibilang nekat (sekali-kali memang harus nekat) Beasiswa keluar negeri bisa saya dapatkan. Saya ingin mengambil jeda sedikit tentang perjalanan beasiswa saya yang semoga bisa menjadi penyemangat buat BUDI-man dan BUDI-wati. 

Pengalaman seleksi beasiswa dari tahun ke tahun
  1. Manbukagusho – Tidak lolos berkas
  2. Stuned – Tidak lolos berkas, sudah ada LoA
  3. New Zealand – Tidak lolos berkas
  4. ADS – Tidak lolos berkas
  5. Leiden-Dikti - hanya sampai wawancara, bertemu David Henley
  6. LPDP – hanya sampai diwawancara
  7. LPDP (lagi) – Tidak lolos berkas (karena dianggap memalsukan tanda tangan pemberi rekomendasi)
  8. BUDI – Berhasil (akhirnya…)
(ini belum termasuk dalam persiapan mengejar founding lain)

Bagi pencari beasiswa gagal sekali, dua kali atau berkali-kali itu biasa yang bahaya jika tidak pernah berhasil. Berarti tidak pernah mendaftar, hehehe…

Saya pernah membaca dalam sebuah majalah yang menukil tentang teori efek kupu-kupu bahwa gejala alam itu terjadi secara acak. Begitu juga nasib. Nasib orang terjadi secara acak maka saat satu kejadian mengalami kegagalan maka kejadian lain bisa menjadi berhasil. Karena bersifat random. Maka tidak heran jika seseorang gagal dipercobaan di tempat yang satu maka akan berhasil di tempat yang lain. Dalam Bahasa agama Islam, jika pintu kebahagiaan yang satu tertutup maka pintu kebagiaan yang lain akan terbuka. Jadi mengapa harus menangisi nasib jika gagal? Toh yang lain akan menunggu. Inna ma'al usri yusra, dibalik kesusahan terdapat kemudahan (Quran, 94;5).

Saya ketika ditanya interviewer dari LPDP: “jika kamu gagal di seleksi ini apa pendapatmu? Saya jawab dengan mantap: “saya akan mencoba terus sampai saya dapat. Saya orang yang positif tapi realistis. Tapi saya berharap saya dapat lulus diseleksi ini”. Saya berfikir positif walaupun sebenarnya kegundahan juga melanda. Bagaimana kalau tidak lolos (lagi)? haruskah saya berlari ke hutan atau ke laut saja? Seperti kisah dalam AADC?

Akhirnya saya berlari (maksudnya jalan-jalan keliling kota bersama istri dan anak) sengaja keluar rumah tidak memegang hp biar tidak terlalu tegang saat hari-H pengumuman. Hingga akhirnya ketika memegang hp dan muncul notifikasi sms teman-teman (terimakasih Kak Dikman Maheng, Ibu Ririn dan Teman-teman kampus UMK). 

***
Surat Budi sudah ada di tangan. Saya membacanya berulang-ulang untuk lebih meyakinkan. diakhir katanya. Si BUDI berkata: “Selamat Bagi Anda yang lolos seleksi wawacara BUDI LN”

sumber: Ristekdikti


Share:

Friday, August 12, 2016

Persiapan Lokakarya Pra Keberangkatan BUDI

Setelah pengumuman seleksi wawancara, bagi penerima BUDI LN akan diundang persiapan atau adaptasi sekolah keluar negeri. Ristekdikti menyebutnya dengan Lokakarya Pra Keberangkatan. Di tahap ini penerima beasiswa diberi pembekalan kiat cerdas kuliah di luar negeri dan intinya selesai tepat waktu.

Banyak hal yang diulas namun saya hanya menyarikan yang saya anggap urjen bagi penerima terutama yang baru keluar negeri seperti saya (hehehe). waktu itu kami dibagi kelompok sesuai dengan negara tujuan keberangkatan. 

Kelompok UK, Kelompok Belanda, Kelompok Jepang dan Kelompok Australia dan sekitarnya. Saya bergabung dalam kelompok Australia yang dimentori Professor John Hasulan dari IPB. Dalam materinya sang professor memberikan pengalaman kuliah dengan selamat sampai meraih gelar PhD. 

1. Persiapan adaptasi dari budaya, iklim dan metode belajar.

Penting bagi mahasiswa yang diluar negeri untuk beradaptasi budaya, iklim dan sistem perkuliahan. Di Australia, menurut Prof. Jhon budaya Barat sebagai mana umumnya dan akan sangat berbeda jaug dari Indonesia. Iklim, Australia memiliki empat musim walau salju tidak akan turun namun cuaca kadang dibawah lima derajat. Gagal melihat salju gumam saya dalam hati. Sistem perkuliahan, bagi yang mengambil PhD, sistem pendidikan Australia mengharuskan setiap pelajar memiliki sikap mandiri. Tentu akan sangat berbeda dengan di Indonesia dimana setiap kelas biasanya diisi beberapa mahasiswa yang saling berinteraksi. di luar negeri kita harus urus diri sendiri. itulah ketakutan saya sebenarnya. Tapi keep moving on. semua pasti bisa...

2. Menjaga komunikasi dengan Supervisor

Ini yang paling penting, banyak kasus kegagalan mahasiswa menyelesaikan study karena terbentur komuniasi dengan supervisor. jadi sangat jelas mengapa pada saat pendaftaran dan wawancara kita diharuskan memiliki calon supervisor. Fungsi supervisor adalah membimbing mahasiswa untuk selesai pada waktunya. Oleh sebab itu jauh-jauh hari sebelumnya kita diharuskan membangun komunikasi dengan supervisor. Nasehat mentor kelompok kami "kalau mau aman ikuti saja kemauan professor yang penting bukan yang sifatnya prinsipil" 

3. Membangun jejaring

Tugas mahasiswa di luar negeri adalah membangun jejaring. hal itu yang menjadi penekanan dalam lokakarya. Banyak hal yang bisa dilakukan  dalam membangun jejaring yaitu riset kolaboratif, publikasi jurnal. Outputnya menjadi nilai tambah dalam pembangunan ilmu dan tekhnologi di Indonesia. Beasiswa BUDI tidak gratis, harus ada output sebagai tolok ukur ya salah satunya publikasi itu.

4. Publikasi, Publikasi, Publikasi

Harus diakui publikasi ilmuan Indonesia masih kalah dari negara tetangga Malaysia. Data dari lama Scimagojr (SJR) menunjukkan Amerika menduduki ranking teratas dalam produktivitas publikasi. sedangkan Indonesia? dimana kita?. lihat sendiri saja ya. ini lamannya http://www.scimagojr.com/countryrank.php

sumber: scimagojr
sumber: scimagojr
Saya teringat penggalan lagu ciptaan Dirjen Sumber Daya Dikti Profoessor Ali Gufron. Beliau bernyanyi :
"mari-mari bekerja keras, jangan lupa dipublikasi..."
Tertawa lepas lah kami saking kocak nya sang dirjen.
Target sang Dirjen setiap penerima budi harus menelorkan setiap tahun 1 jurnal internasional bereputasi. Jadi kalau empat tahun, berarti harus 4 jurnal pemirsa. Bisa-bisa modar :D. Namanya target, kalau tercapai Alhamdulillah kalau tidak?, ya wassalam saja. Mohon maaf Pak Dirjen kalo kami tidak sampai target segitu. Satu saja sudah hebat apalagi empat. sekali lagi namanya target.     

5. Pulang ke Indonesia

Pastilah kami pulang pak. Betul? iya betul Pak karena saya dibiayai pajak rakyat melalui LPDP jangan lupa sebutkan juga RISTEKDIKTI ehehehe. setiap menulis disertasi dibagian pengantar jangan lupa menyebutkan Kemristekdikti-LPDP. Baiklah pak, kalau cuma menaruh nama itu gampang pak. Yang susah kalau tidak pulang-pulang ke Indonesia saking enaknya dapat riset di negara studi. Bisa-bisa dicabut kewarganegaraan kita. 

Kiranya banyak yang bisa disampaikan terkait lokakarya prakeberangkatan beasiswa BUDI LN namun saya sederhanakan saja biar tambah penasaran hehehe. yang lainnya hanya bersifat teknis dan yang memegang kendali dalam hal ini orang LPDP jadi sahabat yang mendapat beasiswa BUDI LN pelajari panduan LPDP terkait SIMONEV dan panduan lainnya. 

Selamat berjuang teman-teman yang mau mengambil beasiswa BUDI. Semoga ber-BUDI dan lulus

Sumber: SDID Ristekdikti

Mentor kami Professor John Hasulan (Foto: SDID Ristekdikti)

Kiri-kanan: Direktur Utama LPDP, Dirjen SDID, Seniman mas Butet Kartaredjasa (foto: SDID Ristekdikti)

sumber: SDID Ristekdikti
  
Share:

Friday, July 29, 2016

Palu: Pasha, Kaledo, Sampah dan Panas

Ceritanya saya mengunjungi Palu Sulawesi Tengah untuk mengunjungi ponakan yang menikah di sekitaran pasar inpres jalan Jamur. Tiga puluh menit dari bandara Mutiara Sis Aljufri.

Setelah menginap dua hari ada hal yang selalu disebut-sebut masyarakat setempat baik di rumah atau diruang publik. Jika ada survei mungkin beberapa hal ini modusnya sering muncul: Kaledo, Pasha, sampah dan Panas.

Kaledo selalu disebut masyarakat sebagai makanan atau kuliner andalan masyarakat. Katanya, saya bilang katanya karena belum sempat menyicip makanan dari tulang sapi itu saya harus pulang. Gagal makan Kaledo. Terbuat dari bahan tulang, rempah-rempah dan yang paling utama adalah merasakan mengisap sumsum tulang sapi. Tak usah dilanjutkan nanti bikin iler.

Pasha. Orang di luar Palu saja tahu lebih-lebih masyarakat Palu. Sejak Pasha diangkat menjadi pejabat publik sebagai wakil walikota namanya tidak habis diperbincangkan termasuk kelakuan plus minusnya. Yang saya tahu Dia tinggal di citraland Palu. Itu saja. Belum ada informasi karya nyatanya. Karyanya belum sebagus suaranya. sedikit dimaklumi Dia hanya seorang wakil walikota. hanya sedikit power yang dimiliki

Sampah. Jamak di Indonesia, sampah menjadi persoalan besar. Di Palu sampah hampir memenuhi got, jalan dan fasilitas umum lainnya. Kayaknya sampah menjadi pekerjaan besar pemerintah Palu.
Panas. Palu memang panas terutama di kota. Dan memang panas. Saya sudah merasakannya. Bisa jadi karena kota Palu terletak di daerah pesisir atau mungkin karena sudah masuk musim kemarau. Entahlah.

Satu yang pasti kota Palu relatif aman dan bersahabat.

***
Dua hari bagi saya belum bisa menggambarkan seutuhnya pengalaman saya di Palu. Namanya pengalaman selalu bersifat subyektif. Dan subyektif selalu ada patahan
Share:

Saturday, July 9, 2016

Iwoi Mokula yang Memesona

Konawe daratan tidak hanya kaya sumber daya alam namun juga memiliki potensi wisata yang besar. ini terlihat dari beberapa obyek wisata yang dimiliki. Jika kita bergeser ke utara akan kita jumpai pemandangan yang menakjubkan. Beragam tempat wisata yang bisa menyegarkan kita akan kita jumpai seperti pulau Labengki, pantai Taipa, pemandian air panas dan beragam destinasi yang indah lainnya. 

Dan dikesempatan ini saya dan keluarga mengisi libur lebaran mengunjungi salah satu spot yang terkenal di Konawe Utara yaitu pemandian air panas Wawolesea yang nama lain disebut juga Iwoi Mokula yang kalau tidak salah berarti air panas. Lokasinya tidak jauh dari perkampungan masyarakat Bajo di Kecamatan Lasolo. 

Jarak tempuh dari kota Kendari kurang lebih 80 kilometer. dibutuhkan waktu 1,5-2 jam menggunakan kendaraan untuk sampai disini. Sebagian jalan menuju Konawe Utara masih dalam pengerasahan hanya sebagian sudah beraspal. Secara umum fasilitas jalan sudah memadai.

Gampang untuk mengetahui letak lokasi ini, tidak jauh dari kampung Bajo sekitar 500 meter akan nampak gerbang/gapura disebelah kanan bertulis Iwoi Mokula. Memasuki gerbang akan ada portal yang dijaga beberapa petugas karcis. biaya masuk di hari-hari tertentu sebesar Rp20.000/mobil. Sebelum hari raya atau hari libur (pengalaman saya) malah tidak bayar alias gratis dan tentu sepi pengunjung. namun di hari-hari libur akan sesak dengan pengunjung.

Catatan kritis untuk Iwoi Mokula. Belum ada perhatian khusus dari pemerintah daerah. Seyogyanya pemerintah daerah memberi perhatian dengan menambah sarana dan prasarana untuk menambah PAD di sektor pariwisata.

Syahda, tak banyak kata-kata yang bisa saya gambarkan Iwoi Mokula. Foto-foto ini mungkin mewakili.  

Terasering air panas


Lokasi pemandian dikelilingi pohon Pinus semakin mempercantik suasana

Airnya tampak kebiruan tapi awas airnya hangat



Foto: dokumentasi pribadi, 2016 

Share:

Monday, June 6, 2016

Bersahabat dengan BUDI

Beberapa hari yang lewat saya berkenalan dengan BUDI, mengenalnya sudah lama sejak saya masih di bangku Sekolah Dasar (SD). Kata terakhir yang saya sebut ini bukan menyebut 'orang', sama sekali bukan--walaupun orang yang lahir di tahun 80-an ke bawah mengenal sosok yang selalu disebut dalam pelajaran SD itu--Budi dimaksudkan ini adalah beasiswa unggulan dari Ristekdikti. Nomenklatur baru ini awalnya bernama BPPS atau BPPDN/BPPLN. 

BUDI ini akronim dari Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia (BUDI) kerjasama Ristekdikti dan LPDP. Sebuah program percepatan sumber daya manusia dari Ristekdikti. Pelibatan LPDP saya melihatnya sebagai pengelola pendanaan. Jamak diketahui bahwa pencairan dana beasiswa dari Ristekdikti (dulu disebut beasiswa Dikti) selalu mengalami keterlambatan. Saya melihat LPDP dengan pengalaman mengelola dana abadi pendidikan yang memberi beasiswa ribuan anak muda Indonesia dianggap berhasil dalam pendanaan. Jadi pelibatan LPDP akan memberikan angin segar bagi penerima beasiswa Ristekdikti.  

Sempat terdengar kabar angin bahwa beasiswa Ristekdikti dialihkan kepada LPDP untuk mengurusnya. dan tentu membuat panik dosen-dosen setanah air. Ini berarti dosen akan bersaing dengan darah muda dalam seleksi di LPDP. saya sudah merasakannya. jika persiapannya setengah-setengah lebih baik urungkan niat bahkan hilangkan niatnya untuk mendaftar LPDP (bukan berarti Beasiswa Ristekdikti untuk orang setengah heheheh). Beasiswa ini diperuntukkan bagi Dosen dibagi dalam dua format, BUDI-DN dan BUDI-LN.

Setelah pengumuman periode pendaftaran saya tidak menyiakannya. segera mengurus berkas 'sisa-sisa' peninggalan pendaftaran LPDP. dan saya menemukan ada beberapa yang diadopsi dari sistem LPDP. dan saya agak terbantu karena sudah pernah mendaftar di LPDP.  

lanjut cerita, saya memilih BUDI-LN karena sudah mendapat LoA dari University of Western Australia. sebenarnya saya masih bernafsu mendaftar beasiswa LPDP. namun persiapan saya pendek. fokus ke BUDI lebih realistis. Saya Dosen dan mencoba petualangan baru di BUDI.

Saya berharap beasiswa yang saya kejar ini tidak bertepuk sebelah tangan. Pasalnya dari beberapa percobaan selalu pulang dengan tangan hampa. tapi yang namanya nekat, gunung pun didaki. sudah kepalang tanggung. jika gagal mencoba lagi, toh belum mencapai 999 kali percobaan. saya sudah melakukan lima kali percobaan. jadi target kadaluarsa untuk tidak disebut berhasil masih panjang. 

Saya sudah ikhtiar, sisanya serahkan kepada Allah...

print screen pendaftaran

Share:

Saturday, May 21, 2016

Landasan Filosofis Penelitian Sosial


Cogito Ergo Sum,  - Rene Descartes (1596-1650)

Penelitian sosial menggunakan metode ilmiah sesuai dengan minat dan bidang sosial yang diteliti. Oleh karena itu, diperlukan penguasaan metodologi penelitian sosial yang baik. Ilmu adalah produk dari proses berfikir secara logis yang kemudian didukung oleh fakta empiris. Penguasaan metode ilmu sosial menjadi modal penting dalam memberi pengetahuan dan penemuan baru dalam ilmu-ilmu sosial. 

Methods of Social Investigation (1985) karangan Peter H. Mann memberi pengantar bahwa sejak berkembanganya, ilmu sosial telah mengalami diferensiasi dalam penerapan, paling tidak ada wilayah-wilayah kajian tersendiri. Ilmu sosial lain juga demikian namun antara satu dengan yang lainnya memiliki hubungan yang terkait satu dengan lainnya. Ilmu sosial lainnya humanioara, ekonomi, ilmu politik, antropologi sosial, geografi penduduk, psikologi sosial saling terkait antar satu dengan lainnya. Menurut ahli Sosiologi awal Inggris bahwa “dalam pengertian yang luas...studi tentang hubungan sosial dan interaksi, akibat dan konsekuesi dari hubungan antar relasi itu”. (Mann, 1985 : 1).

Menurut Mann, banyak yang telah mendefenisikan Sosiologi, namun satu dianaranya yaitu Morris Gisberg, cukup bisa mewakili dalam meneliti tindakan sosial. Didalam buku Mann ini dijelaskan latar belakang penelitian sosial, melihat keutamaan Sosiologi, dan sejak itu banyak pendekatan yang umum dari ilmu sosial dan menjadi pertimbangan bagaimana meneliti tindakan sosial dengan sudut pandang keilmuan. 

Sosiologi tidak lepas dari struktur dan tindakan-tindakan sosial dalam kelompok primer maupun kelompok sekunder. karena luasnya cakupan Sosiologi maka sangat penting pemahaman peneliti Sosiologi dalam memahami realitas sosial. Pentingnya pemahaman ini karena peneliti sosial kadang merasa kurang memahami realitas sosial. Buku Methods of Social Investigation karangan Peter H. Mann memberi penjelasan lugas kepada peneliti sosial bahwa :
...Interaksi sosial bisa dilakukan dengan berbagai cara sebagai bagian dari investigasi yang kompleks. Pengklaiman subjek sosiologi sebagai ilmu itu sangat luas. Tanpa sentisifitas dari sosiolog dalam memahami sifat keilmuan maka yang terjadi adalah penolakan dalam memahami masyarakat...(Mann, 1985 : 2) 
Pendekatan yang dilakukan Mann dalam memberi pemahaman bahwa realitas sosial itu sangat kompleks dan Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang sangat luas. Tanpa “sense of risearch” penelitian tidak akan memberika makna yang dalam selain dari penolakan dan ketidak mampuan dalam melihat realitas sosial.

Landasan filosofis penelitian adalah logis dan lebih membumi. Dalam artian bahwa sumber informasi diperoleh dengan melakukan penelitian yang dilakukan dengan kaidah ilmiah karena sifat keilmuan bersifat kumulatif. Artian terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu (dinamis). 
Landasan peneltian paling tidak memiliki beberapa aspek penting. Burrel dan Morgam (1979 : 1) dikutip (http://eprints.undip.ac.id)  menjelaskan bahwa aspek itu antara lain yang berhubungan dengan ontologi, epistemologi, sifat manusia (human nature), dan metodologi. 

Ontologi. Ontologi adalah asumsi yang penting tentang inti dari fenomena dalam penelitian. Pertanyaan dasar tentang ontologi menekankan pada apakah “realita” yang diteliti objektif ataukah “realita” adalah produk kognitif individu. Debat tentang ontologi oleh karena itu dibedakan antara realisme (yang menganggap bahwa dunia sosial ada secara independen dari apresiasi individu) dan nominalisme (yang menganggap bahwa dunia sosial yang berada di luar kognitif individu berasal dari sekedar nama, konsep dan label yang digunakan untuk menyusun realita). 

Epistemologi. Epistemologi adalah asumsi tentang landasan ilmu pengetahuan (grounds of knowledge) – tentang bagaimana seseorang memulai memahami dunia dan mengkomunikasikannya sebagai pengetahuan kepada orang lain. Bentuk pengetahuan apa yang bisa diperoleh? Bagaimana seseorang dapat membedakan apa yang disebut “benar” dan apa yang disebut “salah”? Apakah sifat ilmu pengetahuan? Pertanyaan dasar tentang epistemologi menekankan pada apakah mungkin untuk mengidentifikasikan dan mengkomunikasikan pengetahuan sebagai sesuatu yang keras, nyata dan berwujud (sehingga pengetahuan dapat dicapai) atau apakah pengetahuan itu lebih lunak, lebih subjektif, berdasarkan pengalaman dan wawasan dari sifat seseorang yang unik dan penting (sehingga pengetahuan adalah sesuatu yang harus dialami secara pribadi). 

Sifat manusia (human nature), adalah asumsi‐asumsi tentang hubungan antar manusia dan lingkungannya. Pertanyaan dasar tentang sifat manusia menekankan kepada apakah manusia dan pengalamannya adalah produk dari lingkungan mereka, secara mekanis/determinis responsif terhadap situasi yang ditemui di dunia eksternal mereka, atau apakah manusia dapat dipandang sebagai pencipta dari lingkungan mereka. Perdebatan tentang sifat manusia oleh karena itu dibedakan antara determinisme (yang menganggap bahwa manusia dan aktivitas mereka ditentukan oleh situasi atau lingkungan dimana mereka menetap) dan voluntarisme (yang menganggap bahwa manusia autonomous dan freewilled).

Metodologi, adalah asumsi‐asumsi tentang bagaimana seseorang berusaha untuk menyelidiki dan mendapat “pengetahuan” tentang dunia sosial. Pertanyaan dasar tentang metodologi menekankan kepada apakah dunia sosial itu keras, nyata, kenyataan objektif‐berada di luar individu  ataukah lebih lunak, kenyataan personal‐berada di dalam individu. Selanjutnya ilmuwan mencoba berkonsentrasi pada pencarian penjelasan dan pemahaman tentang apa yang unik/khusus dari seseorang dibandingkan dengan yang umum atau universal yaitu cara dimana seseorang menciptakan, memodifikasi, dan menginterpretasikan dunia dengan cara yang mereka temukan sendiri.

Konsep filosofis menjadi penting dalam peneltian sosial selain paradigma tentunya. Namun ada masalah besar yang dihadapi terkadang yang menurut Mann hal itu bisa terjadi misalnya bagaimana dan kapan memulai pendekatan keilmuan untuk penelitian tindakan sosial. Sayangnya, beberapa orang segera berbalik arah dalam menghadapi obmjektifitas dan nampak berfikir dalam memulai dengan berkata bisa saja bias dalam menentukan titik pandang kemudian ketidaksiapan menerima kritik. Jadi menjadi peneliti harus ekstra mengatasinya tanpa berusaha menilai itu baik. 

Selanjutnya menurut Mann, seorang peneliti tidak hanya peka sebagai seorang peneliti namun juga kemampuan untuk memperdiksi. Seringkali peneliti tidak menghiraukan “common sense” padalah ini penting, bahasa lain dari Mann bahwa sosiolog yang selalu memulai dengan perenungan, menyusuri fenomena dan memberi penjelasan ilmiah dari hasil penuluran fakta tersebut. Ungkapan Mann :
Social research, is then, a proses of asking quetion, often about lingkages between concepts, and then, having estabilished a lingkage (or, of cource, perhaps having discovered there is no lingkage)....
Bisa dikatakan bahwa Mann memberi pemahaman bahwa penelitian sosial adalah sebuah proses mencari sebuah jawaban, mengenai hubungan antara konsep, dan telah membuat suatu hubungan (atau mungkin telah diketahui bahwa tidak ada hubungan). Masalah-masalah penelitian dapat dipusatkan pada aspek-aspek tingkah laku sosial yang mungkin menjadi hakikat praktis, atau mereka (masalah penelitian) mungkin menjadi bermacam-macam jenis menunjuk pada ‘akademis’ atau bahkan ‘murni’. 

Pada dasarnya penelitian baik positivistik maupun fenomenologi berangkat pada sebuah proses pada pengungkapan secara logis, sistematis dan metodis yang berguna untuk bangunan pengetahuan yang bisa bermanfaat bagi kehidupan (terapan). Agaknya dalam hal ini pengertian seperti ungkapan Mann penelitian sosial oleh karena itu, merupakan bidang yang sulit bagi praktisi yang berjuang untuk penilaian yang jujur dan tidak bias tentang masalah yang dipilihnya. Ini juga berlaku bagi kita semua bahkan seorang sosiologpun. Masalah bagi sosiolog adalah bahwa mereka harus bekerja dengan data yang berhubungan dengan hati nurani mereka secara langsung.
Share:

Tuesday, April 26, 2016

Kemampuan Bahasa Inggris orang Indonesia


Bahasa Inggris kini telah menjadi bahasa utama yang telah digunakan dalam masyarakat. Bahasa ini menjadi keterampilan wajib bagi setiap orang dalam menjawab persaingan di tingkat global. Tidak heran banyak lembaga dimulai dari institusi pendidikan hingga dunia usaha mewajibkan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam percakapan. 

Sejalan dengan itu, Bahasa Inggris semakin menjadi penting dengan masuknya babak baru dengan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dimana negara Indonesia menjadi peserta dalam peta ekonomi regional Asia Tenggara itu. MEA ditandai dengan kompetisi barang, jasa dan sumberdaya manusia lintas negara. Dan kompetisi sumber daya manusia memasukkan kemampuan bahasa global salah satunya Bahasa Inggris untuk dikuasai. Setiap orang dituntut untuk dapat berinteraksi dalam Bahasa Inggris. Sumber daya menusia menjadi kunci penting untuk memenangkan persaingan global. 

Persoalan yang kini dihadapai negara Indonesia dalam memasuki pasar MEA adalah kesiapan sumber daya manusia dalam menguasai Bahasa Inggris. Data menunjukkan tingkat penguasaan bahasa Inggris masyarakat kita masih berada pada tingkat menengah. Sebuah riset yang melibatkan beberapa negara yang dilakukan oleh lembaga English First (EF) menyarikan, kemampuan Bahasa Inggris orang Indonesia masih berada pada level kemampuan menengah dengan skor EF EPI 52,91. Survei di tahun 2015 tersebut melibatkan 70 negara dengan sistem pemeringkatan atau kategori; kemampuan sangat tinggi, kemampuan tinggi, kemampuan menengah, kemampuan rendah dan kemampuan sangat rendah. 

Negara kita berada pada peringkat 32 dari 70 negara dengan kategori “kemampuan menengah”. Capaian itu masih kalah jauh dari tetangga kita Malaysia yang berada pada peringkat 14 dengan kategori “kemampuan tinggi”. Hal ini menjadi persoalan serius dalam menghadapi persaingan global. 

Pada kondisi global saat ini tenaga profesional dalam negeri akan bersaing dengan tenaga kerja asing yang kemudian menimbulkan persaingan ekonomi yang ketat. Kondisi ini menyebabkan adanya urgensi terhadap kemampuan bahasa Inggris. Setiap individu profesional dituntut untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berbahasa Inggris, guna menguasai komunikasi di pasar bebas MEA (tempo.co/18/11/2015).

Yang menjadi persoalan adalah dunia pendidikan di Indonesia tidak merata dalam memberikan pembekalan mahasiswa dalam Bahasa Inggris. Mahasiswa hanya diberikan Bahasa Inggris hanya di semester-semester awal dan tidak ada evaluasi atau pembekalan Bahasa Inggris di semester akhir. Hasilnya kemudian bisa ditebak, mahasiswa yang tidak memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik sering kali mengalami penolakan karena kemampuan bahasa yang masih rendah. 

Menjawab persoalan yang dihadapi bangsa perlu terobosan besar dalam menghadapi tantangan yang maha dasyat ini. Upaya itu telah dilakukan dengan menghidupkan komunitas anak muda di Kendari yang mereka beri nama Kendari Council. Mereka menghimpun diri dengan melibatkan mahasiswa lintas universitas di Kendari Sulawesi Tenggara dengan belajar dan berlatih menguasi Bahasa Inggris. Komunitas ini berdiri di awal tahun 2015 dan telah banyak melibatkan mahasiswa untuk belajar. 

Hingga saat ini kegiatan komunitas ini pesertanya telah mencapai puluhan. Namun beberapa persoalan yang dihadapi mereka adalah keterbatasan sarana dan prasarana dalam proses belajar mengajar. Mereka hanya memanfaatkan prasarana yang sederhana sebagai media belajar mengingat komunitas ini adalah swadaya. Oleh karena itu untuk mendukung kegiatan mereka perlu dilakukan upaya karitatif untuk menghidupkan kegiatan yang telah dilakukan.

Komunitas seperti ini perlu direplikasi dan dikembangkan di tempat lain. Kita memerlukan seperti Kampung Inggris di Pare, Kediri Jawa Timur untuk mempercepat pengembangan kualitas SDM kita. Tanpa itu pemerintah akan kesulitan mengejar ketertinggala dari negara lain.
Share:

Friday, March 18, 2016

Terbitnya Jurnal Internasional Kami

Pembelajar yang terkeren. Saya ingin membagikan kebahagiaan. Kebahagiaan bolehlah dikatakan begitu karena jurnal internasional (walau masih ber-ISSN) namun sudah cukup bagi saya untuk berkata, HEBAT!. Jurnal internasional saya terbit di CISBUCS yang diterbitkan oleh FEB Fakultas Ekonomi Trisakti. Jurnal elektronik tersebut diketuai oleh Professor Tulus Tambunan. PhD (Bagi mahasiswa Ekonomi kualat jika tidak pernah membaca buku dan artikel beliau).

Dus, jurnal yang terbit itu saya tulis bersama kolega saya Ibu Ririn Syahriani--tidak ada hubungan keluarga dengan Princess Syahrini (anda sudah tahu maksud saya). tidak usah babibu langsung saja arahkan ke laptop dan nikmati jurnal kami. selamat membaca.

***



Abstract

Management of waste into alternative energy that blends environmental capital and social capital has conducted by Independent Community Energy Landfill (TPA) Puwatu District Kendari South East Sulawesi. In this community, waste can be managed properly because the cooperation between by local Government and community and mutual trust among the members.

The qualitative methods through case study approach this study is done that explore the data with study of literature/libraries, in-depth interviews, and focus group discussion (FGD) in TPA as partners in waste management activities into energy alternative.

The result shows that waste management into alternative energy has run well because of the structure is supported by good relation between government as facilitator and the members of community. Social capitals such as personal interaction, trust and powerful networking in this community make the program of waste management sustainable that producing methane brings benefit to community as expected, and has become a pilot project.

As recommendation, it is important to maintain the sustainability of waste management. Since the program leads to also maintaining social capitals of community;  increasing skill of life, increasing leadership capability, finance skill and networking. Therefore the establishment of independent energy can be reached and continued as the way of people empowerment. Here the government should support by making regulation which assure its sustainability without influenced by leaders changing.

Key words: social capital, landfill community, alternative energy

JEL codes: L44, L50, Q2
Share:

Thursday, March 10, 2016

Seni Berkuasa


Salah satu hal yang selalu menjadi perhatian masyarakat kita akhir-akhir ini adalah politik (baca:kekuasaan). sepanjang waktu istilah ini selalu melekat; tidak di rumah, di kampus, di warung kopi hingga ke lapak-lapak pasar. jika kita lebih intens mendengarkan pembicaraan orang-orang di tempat-tempat itu akan terasa perbicangan tidak jauh dari politik/kekuasaan. memilih siapa? Si Anu tidak punya kemampuan menjadi walikota, Si B hanya bermodal retorika, Si C aji mumpung karena bapaknya berkuasa. Selanjutnya Si D dan selanjutnya Si E, seterusnya dan seterusnya.

Kekuasaan memang tabiat manusia. karena manusia punya kehendak untuk berkuasa, will to power demikian Nietzsche pernah berkata. saking inginnya terus berkuasa manusia mencari cara untuk mempertahankannya bagaimana pun itu. 

Mempertahankan kekuasaan bukanlah hal baru dari manusia. sejak manusia lahir dan perjalanannya bertahan hingga ribuan tahun perebutan kekuasaan selalu mewarnai perjalanan sejarahnya. perjalanan sejarah kemudian silih berganti merebut tahta dan kekuasaan. selalu sampai kapan

Apakah kekuasaan semata-mata hanya mepertahankan diri atau menghilangkan yang lain? Saya pikir tidak. mari kita tengok masa lalu sebagai pelajaran. saya ingin mengutip kepemipinan raja Persia pertama Koresy Yang Agung yang dikagumi sebagai pejuang pertama hak asasi manusia. saya membaca kisahnya di majalah National Geographic Indonesia edisi Agustus 2008. 

Koresy yang Agung bukanlah satu-satunya penguasa yang menerapkan prinsip kemanusiaan. Nabi Muhammad SAW sudah menerapkan pemerintahan yang berprikemanusiaan. kisah Piagam Madinah adalah salah satu contohnya. juga para nabi lainnya yang selalu menuntun kearah kebajikan. dan di abad modern ini sudah ada-sedikit-contoh pemimpin/penguasa yang menerapkan prinspi profetisme dalam memerintah.

Menjadi penguasa (baca: pemerintah) adalah seni merawat jiwa. Trias Kuncahyono dalam kolomnya di Kompas Minggu 21 Februari 2016 dengan menyitir Plato menjelaskan kepada kita bahwa politik/kekuasaan adalah seni merawat jiwa yang berkomitmen pada nilai-nilai kebajikan. 

Kenyataan bahwa arah politik/kekuasaan dewasa ini justru selalu menjauh dari nilai-nilai kebajikan. seolah-seolah dibawa kepada kehancuran nilai-nilai. bukan sebuah seni. jadinya, politik KKN, korupsi dan saling curiga merebak dalam hidup kita. 

Saya mengutip Firdausi, penyair Iran yang menulis Babad Shah-namah (kisah raja-raja) yang dikutip dalam majalah National Geographic tahun 2008 bahwa:

yang paling pantas memerintah/berkuasa adalah orang yang paling enggan memerintah/berkuasa yang lebih memilih mencurahkan waktunya untuk masalah utama manusia, yaitu khidmat kebijaksanaan, takdir jiwa manusia, dan kemisteriusan kehendak Tuhan. 
Demikianlah, kita akan berkuasa, entah dalam skala apa. Tapi kita mau jadi penguasa atau memerintah seperti apa? Itu adalah pilihan. 
Share:

Tuesday, March 1, 2016

Cahaya Terang dari Pedalaman Kalimantan


INI adalah kisah nyata yang diceritakan beberapa hari lalu oleh pengajar bahasa Inggris saya di kampus-Ibu Pamela demikian Dia disapa. Saya menceritakan ulang kisahnya tanpa memberitahunya lebih dahulu (semoga diijinkan Bu Pam). Ibu Pam menceritakan seseorang yang berasal dari keluarga tidak mampu di pedalaman Kalimantan namun lambat tapi pasti dengan ketekunan dan kecerdasannya orang itu mencapai keberhasilan yang mungkin tidak pernah ia bayangkan dalam hidupnya. From zero to hero. Ungkapan ini saya pikir cocok untuk menggambarkan perjuangan anak itu. 

Sengaja saya menceritakan ini kembali agar menjadi penyemangat bagi diri saya dan mungkin orang lain yang membaca kisah ini untuk tidak pernah berhenti atau patah semangat untuk terus berusaha menjadi berarti. Seperti kisah Alif dan kawan-kawannya dalam novel 5 Menara karya Anwar Fuadi. manteranya adalah Man jadda wa jadda. Siapa yang bersungguh-sungguh dia akan berhasil.

***
Siapa yang mengira bahwa seorang bocah kecil dari Kalimantan dapat menjadi orang penting dalam pendidikan?. 

Di masa yang lalu seorang bocah kecil hidup di muara sungai Kalimantan. Sungai itu selalu meluap setiap hujan datang dan rumahnya selalu kebanjiran sehingga bocah kecil beserta keluarganya itu memutuskan untuk pindah ke pedalaman Kalimantan yang jauh dari hulu sungai.

Bocah yang malang itu sedih menginggalkan hulu sungai panjang itu. Namun dibalik kesedihan itu Dia juga senang karena disitulah kesempatannya untuk bersekolah. Maklum di tempat tinggalnya dahulu, di muara sungai sekolah menjadi barang langka.

Di masa-masa sekolah itu ia selalu belajar giat dan di tahun ke-4 bersekolah, Dia mendapatkan nilai excellent. Kita sudah mahfum bahwa predikat ‘excellent’ dapat dikategorikan anak cerdas. akhirnya beasiswa pun dalam genggamannya. Tapi ada ganjalan di depan mata karena di kampungnya tidak tersedia sekolah untuk kelas 4 SD ke atas.

Keinginannya untuk terus di bangku sekolah meluluhkan hati orang tuanya. Dia kemudian dikirim bersekolah ke kampung sebelah dan tinggal bersama sanak saudara orang tuanya. Tugasnya di rumah baru itu adalah membersihkan rumah sembari fokus melanjutkan sekolah. Di saat itu dia masih berumur 9 tahun. masih sangat belia. bekerja sambil bersekolah. berbeda dengan anak kebanyakan yang hanya fokus pada sekolah. bukan bekerja 

Orang dewasa merantau dan jauh dari orang tua itu sudah biasa. namun untuk ukuran bocah 9 tahun yang harus hidup di perantauan itu luar biasa. dan itulah yang dirasakan bocah itu. Ibu Pam mengisahkan kehidupan bocah itu dengan penuh keprihatinan. dan suasana kelas pun syahdu.

Setamat SD masalah kembali datang. Di kampung keluarga orang tuanya itu tidak tersedia sekolah SMP dan sederajat. sehingga bocah itu harus pindah lagi ke kampung selanjutnya. dan di saat itu Dia sudah berumur 12 tahun. 

Di masa-masa itu si bocah membagi waktu antara sekolah dan bekerja di rumah juga menjaga bayi dari keluarga orang tuanya. Di masa-masa sulit itu Dan masih mampu meraih prestasi yang sempurna tetap rangking di kelas. Dan memasuki bangku SMA, anda sudah bisa menebaknya. Lagi, bocah itu meraih kembali predikat excellent. luar biasa bagi orang yang kekurangan dan kesibukannya bekerja di rumah orang.

(kisah ini banyak kita jumpai di berbagai tempat di Indonesia. dalam kemiskinannya seseorang meraih kesuksesan dalam pendidikan).

**

Dia bukan lagi anak kecil. beranjak menuju dewasa membuatnya terus mempertahankan hidup dan bersekolah di kota. bersekolah di universitas membuatnya harus membagi waktu antara bekerja dan kuliah. kebanyakan mahasiswa yang membagi waktu antara bekerja dan kuliah rata-rata nilainya kurang memuaskan. namun lain dengan bocah (kini beranjak dewasa) itu. kemampuannya membagi waktu membuatnya mendapatkan nilai yang sangat memuaskan dan akhirnya meraih beasiswa. setamat kuliah keinginannya menjadi guru di kampungnya di Kalimantan sangatlah besar namun fasilitas kurang mendukung. akhirnya untuk meningkatkan kapasitasnya Dia dikirim ke Jakarta untuk memperdalam ilmu pedagogic. ilmu mengajar.

Kuliah di kota besar sudah pasti mahal, beasiswa kadang tidak mencukupi. jadi anak muda dari Kalimantan itu harus memutar otak untuk membiayai kuliahnya. dari pekerjaan sambilannya ia menabung kemudian membeli sepeda. pekerjaanya adalah menjajakan pakaian di saat libur, yaitu di hari Minggu. Ia menjual pakaian dengan cara kontan. namun biasanya banyak pelanggan yang minta kredit. dan tetap bisa bertahan di kota besar. 

Akhir masa pelatihan guru di Jakarta. Ia mengambil sikap untuk kembali mengabdikan diri sebagai guru di kampung halamannya di Kalimantan. lambat tapi pasti dengan ketekunan dan dedikasinya Dia kemudian menjabat sebagai kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan.

Waktu berjalan. Berkat kesabaran, ketekunan dan juga dedikasinya pada dunia pendidikan yang mengantarkannya kepada puncak karir. Dia dikirim ke Australia menjadi atase di bidang Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia kedutaan RI.

Ibu Pam. bertemu sosok pejuang yang rendah hati itu di Canberra Australia. kisah hidupnya memang sangat inspiratif. Dia adalah cahaya terang dari pedalam Kalimantan

***

Bagi yang hidup di pelosok, di kampung-kampung bahkan di pedalaman yang tak terjangkau listrik. jangan menyerah akan hidup. bersungguh-sungguh dalam bersekolah itu baik dan akan membuka jalan karir kita ke depan. Bagi saya orang miskin obatnya adalah pendidikan. mereka harus disekolahkan untuk merubah hidup. kisah yang diceritakan Ibu Pam adalah salah satu contoh nyata.

Oh iya, hampir lupa. seseorang yang dikisahkan dalam cerita itu adalah sahabat Ibu Pam sendiri. Bocah yang kini menjadi orang berhasil itu bernama Pak Aria Jalil.
Share:

Friday, February 12, 2016

Beasiswa yang Tak Kunjung Tiba

keberhasilan adalah remah-remah kegagalan. 

Tulisan ini berdasarkan pengalaman saya saat mencari beasiswa dan hanya sampai pada fase wawancara. Saya tidak tahu pencariannya berakhir sampai kapan.

***

Saat ini saya sedang mencari Beasiswa. dan entah sudah berapakali mendaftar dan beberapa kali juga gagal. jera? Tidak juga. capai? Sudah pasti. Semua itu adalah usaha dan penuh dengan pembelajaran. saya percaya dalam semua itu tersimpan pelajaran berharga.

Pengalaman wawancara Beasiswa Leiden-Dikti di Tahun 2014 di Yogyakarta. Banyak memberi pengalaman. Saya ingat waktu itu yang mewawancarai saya Professor David Henley, guru besar sejarah dari Leiden yang penelitiannya banyak tentang Indonesia. Yang satu bernama Professor Purwanto, guru besar Sejarah UGM. Yang satu saya lupa namanya. 

Singkat cerita, dalam wawancara yang hangat itu saya menjelaskan tema riset saya yang berkaitan dengan konflik pertambangan di Sulawesi Tenggara. di akhir wawancara saya disarankan untuk memperbaiki bahasa Inggris dan proposal. Hasilnya? sudah pasti tahu jawabannya. Ditolak sodara-sodara. 

Penolakan itu berkaitan dengan bahasa Inggris saya yang masih berantakan dan perbaikan proposal minor. saya berasumsi bahasa Inggris saya menjadi penyebab utama kegagalan itu. dari 5 orang yang diwawancarai. saya yang paling terakhir gagal. menurut Professor Henley topik saya menarik. namun Bahasa Inggris saya tidak menarik. dan disitulah petakanya. 

Gagal ke Leiden saya mencoba ke Australia. 

Tahun 2015 menjadi awal kebangkitan saya untuk mencari beasiswa (kembali) saya juga mendapat email dari asisten Prof. Henley untuk mencoba kembali. namun setelah email-emailan dengannya saya dinyatakan tidak layak. gagal lagi. 

Syahdan, pemerintah Indonesia mengenalkan beasiswa LPDP dan saya mencoba peruntungan. dengan modal korespondesi dengan Dr. Gregory Acciaioli, Antropolog UWA yang tulisannya saya baca di buku Kuasa Usaha. dari surel Dr. Aco (demikian Dia disapa) saya mendaftarkan diri ke LPDP. hasilnya? Saya hanya lolos wawancara. saya ingat waktu itu saya tidak sendiri diwawancrai dari kampus saya. ada Pak La Ode Wahiyuddin kolega saya di Fisip dan Ibu Ririn Syahriani dari Bahasa Inggris. dari ke-3 orang itu yang lolos hanya Ibu Ririn (selamat Bu Rin sudah mau ke Inggris).

Saya kembali gagal wawancara. padahal peluang untuk lolos beasiswa LPDP (saat itu) cukup mudah karena persyaratan yang tidak rigid. Berbeda sekarang (2015 ke atas) persyaratan semakin ketat. dan saran saya jangan hanya coba-coba tapi mantapkan diri (terutama bahasa inggris) sebelum mendaftar LPDP. karena hanya 2 kali kesempatan wawancara seumur hidup. dan Saya tinggal sekali sodara-sodara. 

Kelemahan saya ada di bahasa Inggris. walaupun sudah mengetahui kelemahan namun tidak ada usaha perbaikan juga. sangat menyesal ketika di Yogyakarta menempuh S2 saya tidak menyempatkan waktu untuk belajar Bahasa Inggris atau ke Pare. menyianyiakan waktu adalah penyesalan terbesar saya.

dan di tahun 2016 ini saya mencoba kembali dan kembali lagi mencari beasiswa. Jika sudah lelah berjuang untuk ke luar negeri. apa daya nasibku mungkin hanya cocok untuk ke IPB atau UI. dan dua kampus ini jadi pilihan saya di Indonesia.

Bersekolah tidak harus ke luar negeri bukan? (walau masih ada kegundahan saya kalo tidak sekolah keluar negeri tidak afdol hehehe)

Nasib adalah kesunyian masing-masing. saya teringat penggalan puisi Chairil Anwar.

Saya hanya berusaha dan berusaha. Allah pasti menyimpan mimpi terbaik saya dan itu akan terwujud. Insya Allah, karena Allah maha tahu usaha yang telah saya lakukan kemarin-kemarin belum maksimal. dan saatnya untuk berubah--jadi satria baja hitam. oh bukan. Jadi satria bergitar. itu bang Rhoma namanya. Bukan. Satria bagi Non (istri) dan Zahra (anak)
Share: