Wednesday, May 1, 2013

Bahtera 30.09.13

Tidak terasa bahtera yang saya tumpangi bersama mantan pacar yang sudah menjadi istri saya sekarang Andi Rugayyah Akhmad sudah memasuki hari ke 30. Itu berarti memasuki usia sebulan. Masih muda memang tapi jika menghitung hari ke hari dalam Bulan itu akan terasa lama.

Syahdan, kini saya mulai menjadi seorang ayah dengan penghasilan yang belum bisa dikatakan mapan walau menyandang gelar Master dan mengajar di kampus kecil (itupun swasta). Kondisi ini membuat saya harus bekerja keras. Bahtera musti terus mengarungi samudera luas.

Dan dia juga telah mulai menjadi seorang Ibu yang tentu harus bisa mengerti apa dan sebagaimana adanya saya. Dia bekerja dalam bidang yang sama sekali berbeda dengan dunia saya: wiraswasta. Dengan jenis pekerjaan, waktu, dan tempat yang bekerja yang berbeda, ia harus harus mengerti tentang saya.

Secara sosiologis, dalam mengarungi bahtera keluarga, individu(ego) musti dilebur, berani terbuka dan saling membuka ruang dialogis. Jika tidak, keluarga hanya menjadi cerita usang. Dan akhirnya karam. Saya dan dia banyak belajar dari itu. Tidak mudah memang, tapi selalu kami coba.

Banyak yang bilang membina keluarga tidaklah mudah. Dan itu yang akan kami hadapi kedepannya kelak dan kami sudah siap dengan segala kondisi itu. Memilih berkeluarga tentu sudah tahu resiko. Seperti Karlina Supelli bilang, perkawinan adalah kemampuan menata diri dalam kehidupan—sekalipun menikah dan tidak menikah. Jadi menikah ataupun tidak adalah soal menata diri. Dan bagi kami resiko itu ada antara menikah dan tidak menikah. Dan akhirnya kami memilih resiko itu dengan menikah.

Menikah ibarat kontrak social. Harapan lahir, tumbuh, mekar dan layu tergantung bagaimana kontrak itu ditaati.

Ketika seorang dewasa memutuskan menikah, kata Karlina Supelli lagi, ia adalah sebuah ragam kaya dimensi yang terbentuk  dan ia hidupi sejak masa kanak-kanaknya. Ia adalah orientasi moral dan spiritual, ia adalah komitmen yang membentuk cakrawala megenai apa yang bermakna baginya. Dan diakhir, Karlina mengakhiri pesannya, menikah adalah fungsi, status, dan posisi. Dengan ini, menikah tidak saja sebagai pemenuhan kebutuhan fisik tapi juga psikis.

Menikah adalah mimpi mimpi yang selalu dirawat orang dari kecil hingga dewasa-punya anak, rumah, jadi tua: kakek-nenek, dan akhirnya mati. Kemudia cerita dirangkai lagi dari generasi mendatang. Begitu seterusnya. Dan saya (dan dia) yang menjadi bagian yang merawat mimpi itu.
 
Diakhir dengan mengutip (lagi-lagi) kata Karlina, menikah adalah soal sekolah hati. Menikah adalah sukma yang melebur dalam sejarah kehidupan tiap-tiap orang.

Berlayarlah sampai jauh Bahtera(ku)…

**
Hujan rintikrinti saat catatan ini diposting

----
kisah klasik di 29.Maret.2013




Share:

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...