Tuesday, December 31, 2013

Tahun Baru

Tahun baru dimana? Pertanyaan ini seringkali muncul setiap tahun baru tiba. Ada yang menghabiskan waktu tahun barunya di pantai, ada yang di gunung, di tempat bernyanyi, di jalan, di hotel, di gang-gang, samapi di rumah jabatan.

Tahun baru sudah seperti ritual yang hanya disamai oleh hari hari besar keagamaan. Semua tumpah ruah, bernyanyi, menari hingga akhirnya mabuk. Orang rela menghabiskan uang untuk merayakan pergantian dari bulan desember ke januari ini.

Entah apa semua ini bagi saya hanyalah satu: kenikmatan. Itu saja. Kenikmatan untuk satu malam penuh. Hingar bingar luapan manusia, deru kendaraan dan letusan kembang api silih berganti. Ini hanya bermuara pada kenikmatan. Satu malam saja. Di tahun yang baru (masehi).

Saya pernah merasakan suasana seperti ini (tiap tahun malah) ketika masih lajang. Berkeliling dari satu tempat ke tempat lain tapi bukan tempat 'hiburan'. Di gunung, di pantai.

Tak hanya kenikmatan. Orang melihat tahun baru sebagai pertarungan nasib (nasib baik dan buruk) itu yang mereka sebut resolusi. Tentang tahun yang lewat yang buruk berganti menjadi kebaikan atau tahun yang lewat dengan kesuksesan ditambahkan lagi kesuksesan berikutnya di tahun yang baru. Resolusi ibarat memancing dengan harapan mendapat ikan besar.

Tapi ada orang yang memaknai tahun baru dengan seduh sedan.  Umur bertambah, dan segenap kecemasan akan ramalan dan shio.

Setangkup cerita tahun baru berisi kenikmatan, harapan, nasib baik dan nasib buruk juga pada ramalan-ramalan.

***

Ada yang bertanya tahun baru dimana? Dengan mantap saya menjawab di rumah menemani istri dan anak saya.

- kisah 2014 di antara deru mesin kendaraan, suara terompet dan letusan kembang api.

Share:

Wednesday, December 18, 2013

Lahir dan berkembanglah

Buat Anakku Zahra,

Suatu sore di hari minggu. saat itu hujan dan jam telah menunjuk 15.20 wita bertanggal 15 desember 2013. Di sebuah rumah sakit kecil kau dilahirkan. Aliyah nama rumah sakit itu.

Nasib baik adalah dilahirkan. Dan kau kini lahir sebagai pelengkap kebaikan itu.

Kau harus tahu nak, proses kelahiranmu tidaklah mudah. Ibumu harus menahan sakit tiada terperi.

Di sembilan bulan masa kandunganmu-dan itu pertanda kau harus lahir-tak ada tanda-tanda bahwa kau akan lahir;tak ada sakit, tak ada ketuban pecah, tak ada tanda-tanda. Saat itupula perasaan saya, ayahmu campur aduk. Takut terjadi apa-apa antara kau dan ibumu.apalagi saat dokter menahan ibumu untuk tetap di rumah sakit. Tak ada yang bisa ayah lakukan selain berdoa.

Beberapa waktu berselang ibumu harus dirangsang dengan obat berbentuk cairan. Ini dilakukan agar cepat terjadi bukaan-istilah medis yang tak pernah ayah dengar sebelumnya-Yang ayah tahu dari Dato' (nenek, istilah makassar) orang yang melahirkan hanya panggil dukun atau bidan dan setelah itu melahirkan tak ada istilah "bukaan". Sakitnyapun hanya beberapa menit.

Dimasa rangsangan obat itu ibumu harus merasakan sakit terus menerus. Dan mungkin mengapa Tuhan mengganti sakit itu dengan surga ditelapaknya. Sebuah balasan yang setimpal. Dan engkau harus tahu itu. Melahirkan adalah sakit olehnya jangan sakiti ibumu kelak ketika kau besar nanti.

Syahdan, Cerita tentangmu akan  berlanjut seiring waktu. Saat ini kau harus tidur yang lelap. Besok ayah akan ceritakan kisah lainnya...

-Dari ayah

Share:

Sunday, December 8, 2013

Susahnya membimbing mahasiswa

Mengajar di universitas swasta bukan hanya soal keterbatasan sumber dana tapi juga soal sumber daya manusia dalam hal ini mahasiswa.

Dan itu yang terjadi ketika saya mengajar dan membimbing mahasiswa yang di kampus swasta. Kendala demi kendala dihadapi mulai dari memotivasi mahasiswa untuk rajin membaca sampai pembimbingan karya ilmiah (skripsi).

Setelah membimbing beberapa mahasiswa menulis skripsi maka dapat saya simpulkan mahasiswa di kampus swasta lebih banyak mengambil 'jalan pintas'. Skripsi mereka dibuat oleh orang lain sehingga saat pembimbingan mereka tak mampu mempertanggungjawabkan hasil karya tulis mereka.

Inilah realita di kampus-kampus swasta dan tak heran jika budaya akademik di kampus swasta tidak terbangun dengan baik. Ini hanya berkisah tentang mahasiswa belum termasuk dosen dan sistem yang lain.

Jika seperti ini maka yang harus dilakukan adalah merubah pelan-pelan sambil tak boleh banyak berharap bahwa itu akan mujarab.

Dan saya teringat oleh pesan dosen senior. Dia berkata jangan berharap banyak di universitas swasta. Sebuah ungkapan keputusasaan atau pesan pesimistik saya pikir.

Jalan masih panjang ada masa ketika semua itu bisa berubah. Dan saya tahu itu butuh waktu dan pikiran jernih.

Share:

Sunday, November 24, 2013

Yusran Darmawan: sebuah pertemuan

Sosok sederhana yang saya kenal sewaktu kuliah di kampus merah Unhas. Waktu itu saya masih mahasiswa baru saat tulisan-tulisannya sudah tersebar di koran kampus.

Beberapa waktu yang lewat saya bertemu lagi dengan dia di kampus Unhalu. Saya sengaja menyempatkan waktu untuk ketemu dengan sosok yang bersahaja itu. Dia adalah guru (menulis) walau saya tak pernah diajar langsung bagaimana menulis yang baik namun tulisan tulisan di blognya sudah bisa menjadi acuan saya untuk belajar menulis.

Syahdan, lama tak mengujungi kompasiana media sharing para jurnalis warga dan saya kaget sekaligus takjub bahwa sosok yang menginpirasi banyak orang itu meraih kompasiana of the year 2013. Dia orang yang tepat. Tak ada yang meragukan konsistensi dia dalam berkarya. Dan penghargaan itu layak untuk dia. Congratulation bang Yusran Darmawan. You deserved it.



Share:

Saturday, October 19, 2013

Kegagalan

GAGAL. Ketika harapan tidak sesuai lagi dengan kenyataan maka itu yang saya sebut "gagal".  Harapan menjadi dosen di universitas negeri hanya tinggal harapan.
Kemarin setelah melihat hasil pengumuman di laman kemendikbud nama saya tidak tercantum dalam daftar calon tenaga pendidik yang tidak lulus. Dan gugur pada tes pertama: administrasi.

Saya kaget! Seakan tak percaya di tes awal sudah jatuh. Pengalaman saya dalam mendftar tidak pernah gugur di tes administrasi atau kelengkapan berkas. Sampai sekarang masih menyisakan rasa tidak percaya atas apa yang saya alami itu.

Pelajaran 1: periksa baik2 berkas kelengkapan sebelum dikirim.

Dalam cerita yang sama, seorang teman yang mendaftar dengan kelengkapan berkas yang sama seperti saya dinyatakan lulus verifikasi. Hal itu menambah rasa tidak percaya saya. Berkas yang sama tapi dia yang lulus.

Pelajaran 2: jangan percaya pada verifikator.

Saya ingat pada laman kemendikbud yang menjunjung nilai keadilan dan jauh dari unsur KKN. saya akhirnya tidak percaya itu.

Dari kejadian itu saya mengambil pelajaran penting.

Dan komitmen saya untuk menjadi dosen pun mulai goyah-Setidaknya melihat kejadian yang saya alami bahwa dalam dunia kampus juga terjadi kecurangan2 dan perlakuan berat sebelah-saya ingin menjadi pedagang saja.

Sementara ini saya masih menjadi Dosen setidaknya di Universitas Swasta.

Ada pelajaran dalam setiap peristiwa. Allah maha cinta(hambanya).

Share:

Wednesday, September 25, 2013

(ingin) sekolah lagi

Setelah setahun sarjana ada rasa rindu kembali ke kjmpus. Belajar dengan setumpuk tugas deadline dan diskusi kelas yang alot.

Untuk mewujudkan semua itu agaknya mustahil mengingat sekolah yang akan saya tempuh adalah doktor. Dan tak tanggung-tanggung sekolahnya hanya ingin di luar negeri. 

Biaya adalah kendala besar untuk mewujudkan itu.

Sekolah ke luar negeri adalah mimpi yang terus saya rawat sejak bertahun-tahun sudah. 

Sadar sepenuhnya, jalan menuju ke negeri seberang masihlah terjal dan panjang. Semoga dengan terus merawat mimpi memacu untuk belajar lebih giat lagi.

Dua tahun lagi akan sampai kemana harapan itu menemukan wujudnya.

Allah maha mendengar.
Share:

Thursday, September 12, 2013

Hidup hanyalah menunda kekalahan

Berita selalu datangnya tiba-tiba. Hari ini saat di kampus menemani mahaiswa baru istri saya mengabari "patta, mamat meninggal..." sontak saja orang baik itu walau saya tak dekat namun almarhum sahabat istri saya. Saya terdiam seraya mengucap al-fatihah dan lantunan doa dalam hati semoga almarhum diberi tempat terbaik oleh Allah. 

Bagaimanapun kematian yang selalu dianggap absurd dan juga misteri tetap saja menjadi perenungan saya.  

Hidup memang hanya persinggahan, hanya menumpang minum. Olehnya mati soal menunggu waktu. Begitu juga sahabat istri saya, anda dan saya. Semua yang bernyawa akan menemui mati begitu ungkapan dalam Quran.

Sore itu dengan life for rent dari Dido saya mengenang--sahabat istri saya yang juga senior di SMA--ketika berjumpa di sebuah kesempatan. Senyum selalu ia tebar dan kesan sahaja tak tanggalkan. Begitulah dia yang dikenal sosok yang baik oleh sahabatnya itu.

Diliputi rasa haru saya membuka profil almarhum di facebook dan saya tergugah ucapan senior Rizal Suaib yang akrab disapa bang Jack. Ia menuliskan kesan cita almarhum bahwa ia hanya ingin menjadi kepala desa. Titik. Sebuah cita-cita yang tak banyak dilirik karena sebagian orang hanya  ingin jadi bupati, gubernur atau anggota dewan. 

Terlalu panjang untuk saya tuliskan kisahnya dan seperti hari ini saya menutup dengan sajak Chairil Anwar "hidup hanya menunda kekalahan".

Istirahatlah dalam keabadian. Duhai sahabat...
Share:

Tuesday, July 16, 2013

Banjir kali ini

Banjir yang terjadi kali ini merupakan yang terparah dalam beberapa dekade terakhir dan mungkin paling besar dalam sejarah banjir di kota Kendari. Banjir yang diikuti tanah longsor ini telah melumpuhkan ekonomi dan transportasi di kota yang beberapa bulan lalu menerima piala adipura. Tidak terhitung kerugian dari aspek materi namun juga telah meninggalkan trauma mendalam masyarakat.

Di rumah saya juga terjadi 'banjir lokal', dengan genangan air di kamar. Saya dan istri harus berjibaku melawan derasnya hujan yang turun dari plafon rumah. ya, atap rumah kami bocor. kondisi inilah yang kami alami sekarang ini.

Kantor tempat istri saya bekerja lebih parah lagi, dokumen, barang-barang untuk didistribusikan ke konsumen serta alat berat ikut terendam banjir, belum diketahui berapa kerugian yang diderita. tapi hitungan angka pasti banyak. Istri saya hanya memandangi  foto-foto ruangan kantornya yang terendam itu dengan mata berkaca-kaca sambil sesekali berucap astagfirullah.

Banjir yang terjadi ini memang datang secara tiba-tiba dan banyak warga mengalami kepanikan dan trauma. warga yang tidak terbiasa menghadapi bencana alam memerlukan pembelajaran manajemen resiko bagaimana menghadapi bencana. Tidak seperti halnya warga Jakarta yang telah beradaptasi dengan banjir atau warga Yogyakarta yang sudah beradaptasi dengan gempa dan letusan gunung berapi. saat saya di Yogyakarta banyak pembelajaran yang saya ketahui tentang manajemen resiko bencana dan sudah saatnya pemerintah kota memberi pembelajaran itu pada warga.
 
Syahdan, banjir yang terjadi di Kota Kendari bagaimanapun tidak bisa hanya menyalahkan perubahan iklim tapi juga tentang tata kelola pemerintahan. Banjir terbesar dalam beberapa dekade terakhir ini merupakan gambaran akan menderitanya kehidupan masyarakat kota di tahun-tahun mendatang jika tidak ada upaya mitigasi dan perhatian oleh pemerintah kota Kendari.

---

Ruangan kantor istri
 Perumahan Palm Mas Jl. Y.Wayong Bypass lepo-lepo
 Halaman parkir kantor istri

 Bank Panin Jl. Ahmad Yani
Halaman kantor istri
Share:

Wednesday, July 3, 2013

Kembalinya Kultur Samba

Kemenangan Brasil atas Spanyol di Stadion kebanggaan Maracana bisa dilihat kebangkitan sepak bola Brasil. Betapa tidak, sejak piala dunia Korea-Jepang 2002, Brasil berada dalam bayang-bayang kemunduran. Gagal di piala dunia 2006 dan 2010, copa America dan tergusurnya peringkat pertama di tangga koefisiensi FIFA sebagai bukti.

Tapi di gelaran ‘pemanasan’ mempertemukan dalam final impian di piala konfederasi Spanyol-Brasil yang sama-sama mengusung sepak bola indah memperlihatkan permainan Brasil sesungguhnya. Spanyol yang datang sebagai juara dunia 2010, juara eropa 2012 dan peringkat satu FIFA harus mengaku kalah dari Brasil. Kekalahan tiga gol tanpa balas plus kegagalan Ramos mengeksekusi penalti menjadi pelengkap penderitaan mereka. Brasil terlihat sangat superior.

Kegagalan Spanyol adalah antitesa dari sepak bola menyerang ala tiki taka. Bertemu dengan lawan sepadan dengan gaya menyerang Spanyol tak mampu mengimbangi gaya samba. Brasil seperti menari dengan bola. Diktum lama dalam sepak bola, pertahanan terbaik adalah menyerang (serang menyerang memang diperagakan Spanyol dan Brasil) Brasil mengadopsi itu dengan bukti tiga gol. Brasil seakan mengajari pada kita bahwa dalam sepak bola (modern) ditekankan bermain indah tanpa melupakan kemenangan.

Dan pada Neymar, Hulk, dan Fred sepakbola indah itu diperagakan. Bergerak di kanan dan juga kadang ke kiri Neymar memperlihatkan permainan cantik ala Joga Bonito. Di tengah ada Paulinho, Gustavo dan Oscar pengatur ritme permainan. Di belakang didukung di kanan Alex, di kiri Marcelo dan di sokong oleh dua bek tangguh David Luiz dan Thiago Silva. memainkan bola dari kaki ke kaki, bawah, tengah ke depan. Mereka seperti menari samba dalam karnaval. Menari tanpa beban.

Memang, permainan Brasil sepanjang laga (hampir) tanpa cela. Taktik, kontrol dan improvisasi memainkan bola sebagai tanda bahwa gaya samba tidak pernah hilang dalam diri permainan Brasil. Seperti Samba, Brasil menari dan larut dalam permainan. Permainan Samba seperti karnaval Rio yang terkenal itu.

Samba, karnaval dan bola telah menjadi kehidupan orang-orang Brasil. Ditengah demostrasi, himpitan ekonomi, pemukiman kumuh sepak bola tak henti menggelinding hingga dibuat mereka terlena. Orang Brasil gila akan bola bahkan dalam tingkat yang lebih ekstrim sudah menjadi agama. Sindhunata dalam catatan sepak bolanya mengatakan Brasil mengetengahkan kebaruan bagi dunia bola. Bola adalah “bawah sadar”. Bola adalah tarian. Bola adalah karnaval. Bola adalah Samba! Dan pencinta Brasil akan sepakat dengan Romo Sindhu itu.

Butuh satu dekade untuk Brasil mengangkat trophy kembali. Dan hak mereka untuk juara (konfederasi). Tidak berlebihan jika kemenengan di tanah sendiri itu sebagai penanda bahwa tropi gelaran piala dunia 2014 akan kembali berpindah dari Spanyol ke tanah Samba tempat sepak bola indah ditemukan. Semoga.
Share:

Thursday, June 13, 2013

(buku) Habis Gelap Terbitlah Terang (di sudut rumah)

Siang itu saya menemukan buku dari pejuang perempuan R.A. Kartini. Buku itu tampak lusuh dan mulai lapuk dimakan rayap dan tempias hujan. Orang rumah tidak memperhatikan, boleh jadi tidak memperdulikan bahwa buku itu adalah buku sejarah atau mungkin juga mereka tak suka sejarah atau dunia literasi, jadinya buku tersebut dibiarkan tergeletak begitu saja. Dan menunggu menyatu dengan tanah.

Saya dengan kecepatan seperti aksi Kensin Himura dalam lakon Samurai X sigap mengamankan magnum opus dari salah satu pejuang emansipasi itu. Saya mengeringkan buku itu, membuka dengan hati-hati lembar demi lembar sampai kering.

Setelah itu saya kembali ke bagian pembuka. Di sampul depan tertulis R.A Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang” saya menyingkatnya “HGTT” yang dialihbahasakan oleh Armijn Pane. Buku itu terbit tahun 1985 oleh Balai Pustaka (BP) dua tahun setelah kelahiran saya. Buku ditangan saya itu sudah dicetak yang kesebelas kalinya. Sangat laris dan sekarang saya tidak menemukan terbitan terbaru lagi.

Buku yang masih menggunakan diksi lama itu merangkum catatan/surat Kartini yang kata-katanya menurut Goenawan Mohamad merupakan catatan harapan dan kepedihan perempuan Indonesa yang melawan dan terjepit.

Kartini merasakan bagaimana dunianya yang didominasi oleh tradisi patriarki membuatnya terus mencari arti tentang “kesetaraan”. Kartini bolehlah menjadi perempuan yang cerdas dimasanya. Bukan karena dia kelas ningrat tetapi kemampuan wawasannya mempertanyakan realitas yang dirasakannya di waktu itu.
 
**
Kartini mulai menulis ketika berumur 21 tahun dengan didikan dari keluarga-keluarganya yang pandai menulis. Dalam bab pendahuluan di buku itu diceritakan kebiasaan menulis keluarga Kartini: Di tahun 1902 tercatat di seluruh pulau Jawa dan Madura hanya empat orang Bupati yang pandai menulis dan bercakap dalam bahasa Belanda. Bupati Serang P.A.A Achmad Djajadiningrat, Bupati Ngawi R.M. Adipati Ario Sosrodiningrat, Bupati Demak Pangeran Hario Hadiningrat (paman Kartini) dan Bupati Jepara R.M. Adipati Ario Sosrodiningrat yang tak lain adalah bapak Kartini.

Antusiasme khayalan seperti kata Soren Kinkegaar membuat Kartini menuliskan dalam bentuk tulisan dari sebuah cita-cita dan ‘khayalan’ seperti kekagumannya tentang ‘dunia baru’ yang dibawa para kolonial: fotografi dan kereta api.

Rudolf Mrazek sejarawan yang menulis Engineer of Happy Land: Perkembangan teknologi dan nasionalisme di sebuah koloni menuliskan korespondensi Kartini pada anggota dan pakar sosialis Eropa menulis “Rasanya seolah-olah ada kabel telepon tak terlihat antara sini dengan Lali Djiwa dan kembali lagi.”

Kartini merasa riang dengan penemuan-penemuan abad 17 yang memudahkannya mengirimkan surat-surat kepada sahabatnya di Belanda. Dari kontak antara Barat (Belanda) dan Jawa Kartini menguraikan pikiran dan pendapatnya tentang kehidupan masyarakat Jawa dan bagaimana khayalannya tentang perubahan itu bisa diketahui dunia di luar dirinya.

Adalah masa dalam pingitan Kartini melatih sifat kritisnya untuk melihat perubahan seperti khayalan yang selalu diceritakan pada sahabatnya di Belanda. Dalam surat-suratnya yang ditulis di Jepara bertarik 25 Mei tahun 1899 kepada Nona Zeehanelaar, Kartini menulis “Empat tahun, yang tak terkira lamanya, saya berkhalwat di antara empat tembok tebal, tiada pernah sedikit juapun melihat dunia luar. Betapa saya dapat menahan kehidupan yang demikian, tiadalah saya tahu—hanya yang saya ketahui, masa itu amat sengsaranya”. (HGTT, hal.39)

Kartini tidak hanya terkungkung dalam tembok rumahnya yang bergaya bangsawan Jawa namun terkungkung oleh tradisi yang membatasi perempuan (ningrat) untuk melihat ‘dunia luar’ tapi surat-surat yang ditulisnya itu menembus ruang dan waktu.

**
Syahdan, buku yang lusuh dan sudah termakan rayap itu memuat semua tulisan/surat-surat Kartini. Saya anggap kumpulan ‘curhat sejarah’ dari seorang perempuan ningrat  yang saya harus rawat (saya ingin menuliskan di blog ini tulisan surat-surat Kartini yang ada di buku itu suatu nanti).

Walau Kartini tidak merasakan angin perubahan sampai kematiannya tanggal 13 September 1904 namun semangat yang digelorakannya menembus zaman. Seperti yang ditulis Armijn Pane dalam buku itu, ramalan perubahan diimajikan terjadi setelah 30 tahun sesudah meninggal. Ramalan itu Kartini tuliskan:”…semangat zaman pembantu dan pembela saya, dimana-mana memperdengarkan gemuruh langkahnya; gedung tua kukuh dan dahsyat, tergoyang pada sendirinya ketika semangat zaman itu menghampiri—pintu yang dipalang dan dijaga kuat-kuat itu, lalu terbukalah, setengahnya seolah-olah dengan sendirinya, yang lain dengan amat susahnya, tetapi terbuka, semua mesti terbuka dan tamu yang tidak disukai itu pun masuklah! (surat kepada nona Zeehandelaar, 25 Mei 1890).

Dan antuasiasme khayalan Kartini pun menembus tembok dan zamannya.
Share:

Monday, May 13, 2013

Langkah ke dua: Berburu beasiswa

Hari ini 13 Mei 2013 saya memulai kembali mimpi yang telah lama saya rajut: belajar ke luar negeri.

Dan saya pun kembali menghidupkan semangat belajar yang hampir habis itu. jika semasa kuliah semangat belajar tergolong tinggi tapi entah, beberapa bulan ini malas belajar yang apalagi berbau bahasa Inggris.

Kesalahan pertama: tidak terbiasa mendengar, membaca dan bercakap bahasa Inggris.

Singkat cerita, kesalahan pertama itu saya sadari dan mencoba bangkit dari kemalasan belajar bahasa inggris. Membuka website VOA, dan buku-buku teks Inggris kembali menemani keseharian saya. Kebiasaan yang pernah saya lakukan ketika kuliah di pascasarjana UGM Yogyakarta.
 
Setelah beberapa hari membaca, saya kemudian bercakap dengan adik ipar saya yang kebetulan sudah mahir, baik bercakap, menulis, dan membaca dalam bahasa Inggris. Dengan bekal nekat, yang tentu saja harus menghilangkan rasa malu sebagai seorang kakak ataupun yang lebih tua bertanya pada yang lebih muda. Sedikit info saja, adik ipar saya dia nilai skor Toefl mencapai 580. Berbeda dengan saja yang tidak cukup 500 (bisa dibayangkan dibawah nilai skor seperti itu).
 
Kesalahan kedua: penyakit intelektual yang telah merasa hebat dan lebih tua adalah : angkuh dan merasa hebat.
 
Adik ipar saya akhirnya mau meladeni saya, dengan kesabarannya ia menyimak dan memberikan masukan. Saya akhirnya menyadari betapa ‘hancurnya’ bahasa Inggris saya. But its okey, the show must go on (memakai istilah ini biar dibilang tidak hancur banget :D). adik ipar saya mengoreksi dan memberikan tips agar lebih cepat dalam meningkatkan belajar tanpa harus kursus (mengingat kursus Bahasa Inggris di Kendari mahal). Dia lantas menyarankan sering membaca berita BBC, the Jakarta Post dan mendengar berita luar negeri yang berbahasa inggris.
 
Dengan modal tablet Samsung Galaxy milik sang istri, saya pun mengunduh podcast BBC, VOA. Beberapa dari itu saya rasa cukup untuk bisa dijadikan acuan belajar. Langkah ini saya lakukan dari pengalaman belajar adik ipar saya. Katanya setelah lulus kuliah S1 di Semarang, bahasa Inggris yang ia tahu hanya “yes” dan “no”. Kita sudah pasti tahu dia sedang bercanda untuk membesarkan hati saya. Dia membutuhkan tiga bulan membaca tiap hari minimal dua artikel dan hasilnya? Poin 580.

Saat ini saya melatih diri dengan membaca satu artikel setiap hari dari BBC atau VOA dan akan saya lihat hasilnya satu, dua, tiga atau setahun lagi atau…

Selain itu untuk menambah semangat belajar keluar negeri tak lupa menyempatkan singgah di blog Bli  Made Andi Arsana: http://madeandi.com/ dan Kanda Yusran Darmawan: http://www.timur-angin.com/ dari mereka saya merawat mimpi keluar negeri.
Share:

Wednesday, May 1, 2013

Bahtera 30.09.13

Tidak terasa bahtera yang saya tumpangi bersama mantan pacar yang sudah menjadi istri saya sekarang Andi Rugayyah Akhmad sudah memasuki hari ke 30. Itu berarti memasuki usia sebulan. Masih muda memang tapi jika menghitung hari ke hari dalam Bulan itu akan terasa lama.

Syahdan, kini saya mulai menjadi seorang ayah dengan penghasilan yang belum bisa dikatakan mapan walau menyandang gelar Master dan mengajar di kampus kecil (itupun swasta). Kondisi ini membuat saya harus bekerja keras. Bahtera musti terus mengarungi samudera luas.

Dan dia juga telah mulai menjadi seorang Ibu yang tentu harus bisa mengerti apa dan sebagaimana adanya saya. Dia bekerja dalam bidang yang sama sekali berbeda dengan dunia saya: wiraswasta. Dengan jenis pekerjaan, waktu, dan tempat yang bekerja yang berbeda, ia harus harus mengerti tentang saya.

Secara sosiologis, dalam mengarungi bahtera keluarga, individu(ego) musti dilebur, berani terbuka dan saling membuka ruang dialogis. Jika tidak, keluarga hanya menjadi cerita usang. Dan akhirnya karam. Saya dan dia banyak belajar dari itu. Tidak mudah memang, tapi selalu kami coba.

Banyak yang bilang membina keluarga tidaklah mudah. Dan itu yang akan kami hadapi kedepannya kelak dan kami sudah siap dengan segala kondisi itu. Memilih berkeluarga tentu sudah tahu resiko. Seperti Karlina Supelli bilang, perkawinan adalah kemampuan menata diri dalam kehidupan—sekalipun menikah dan tidak menikah. Jadi menikah ataupun tidak adalah soal menata diri. Dan bagi kami resiko itu ada antara menikah dan tidak menikah. Dan akhirnya kami memilih resiko itu dengan menikah.

Menikah ibarat kontrak social. Harapan lahir, tumbuh, mekar dan layu tergantung bagaimana kontrak itu ditaati.

Ketika seorang dewasa memutuskan menikah, kata Karlina Supelli lagi, ia adalah sebuah ragam kaya dimensi yang terbentuk  dan ia hidupi sejak masa kanak-kanaknya. Ia adalah orientasi moral dan spiritual, ia adalah komitmen yang membentuk cakrawala megenai apa yang bermakna baginya. Dan diakhir, Karlina mengakhiri pesannya, menikah adalah fungsi, status, dan posisi. Dengan ini, menikah tidak saja sebagai pemenuhan kebutuhan fisik tapi juga psikis.

Menikah adalah mimpi mimpi yang selalu dirawat orang dari kecil hingga dewasa-punya anak, rumah, jadi tua: kakek-nenek, dan akhirnya mati. Kemudia cerita dirangkai lagi dari generasi mendatang. Begitu seterusnya. Dan saya (dan dia) yang menjadi bagian yang merawat mimpi itu.
 
Diakhir dengan mengutip (lagi-lagi) kata Karlina, menikah adalah soal sekolah hati. Menikah adalah sukma yang melebur dalam sejarah kehidupan tiap-tiap orang.

Berlayarlah sampai jauh Bahtera(ku)…

**
Hujan rintikrinti saat catatan ini diposting

----
kisah klasik di 29.Maret.2013




Share:

Friday, March 1, 2013

Salah


setelah lama tak mengunjungi blog Zen (http://pejalanjauh.net) saya akhirnya memutuskan berjalan-jalan di tengah kemalasan akut menulis. tak dinyana saya menemukan posting yang selama ini menderaa dan slalu berulang-ulang saya lakukan: Salah

saya mengutipnya utuh. simak katanya:

Saya harap di tahun yang akan datang, kau membuat kesalahan.
Karena jika kau membuat kesalahan, lalu kau akan membuat hal-hal baru, mencoba hal-hal baru, belajar, hidup dan menekan terus dirimu, mengubah dirimu, mengubah duniamu. Kau akan lakukan sesuatu yang sebelumnya tak pernah kau lakukan. Dan, yang jauh lebih penting, kau Berbuat Sesuatu.
Itulah yang kuinginkan darimu, dan semua dari kita, juga dari diriku sendiri. Buatlah kesalahan baru. Buatlah kemuliaan, kesalahan yang menakjubkan. Buatlah kesalahan yang tak pernah orang lain bikin sebelumnya. Jangan mau jadi beku, jangan berhenti, jangan khawatir sesuatu tidak cukup bagus atau tidak terlalu sempurna, dalam bidang apa pun: seni, cinta, pekerjaan, keluarga, kehidupan….
Apa pun yang takut kau lakukan, lakukan saja.
Bikinlah kesalahan, tahun depan, dan selamanya!
buat saya kesalahan sengaja dan tak sengaja adalah niscaya. karna Benar tak mungkin ada jika tak ada Salah. bagai oposisi biner.

tapi mengapa ketika orang berbuat salah slalu disalahkan? bukankah salah tempat kita menemukan arti bahwa kita tak sempurna? sepert kata Zen, ketika salah berarti mencari bentuk kesempurnaan. dan saya percaya itu

malam sahabat, tak pernahkah merasa salah?
 
Share:

Tuesday, February 12, 2013

Menikah

    UNTUK ISTRI
    (Sebuah Syair Renungan Singkat Bagi Wanita)

    Pernikahan ataupun perkawinan,
    Membuka tabir rahasia,

    Suami yang menikahi kamu,
    Tidaklah semulia Muhammad,
    Tidaklah setakwa Ibrahim,
    Pun tidak setabah Ayub,
    Atau pun segagah Musa,
    apalagi setampan Yusuf

    Justeru suamimu hanyalah pria akhir zaman,
    Yang punya cita-cita,
    Membangun keturunan yang soleh .......
    Pernikahan ataupun Perkawinan,
    Mengajar kita kewajiban bersama,

    Suami menjadi pelindung, Kamu penghuninya,
    suami adalah Nakoda kapal, Kamu navigatornya,
    Suami bagaikan balita yang nakal, Kamu adalah penuntun
    kenakalannya,
    Saat Suami menjadi Raja, Kamu nikmati anggur
    singasananya,
    Seketika Suami menjadi bisa, Kamu lah penawar obatnya,
    Seandainya Suami masinis yang lancang, sabarlah
    memperingatkannya..

    Pernikahan ataupun Perkawinan,
    Mengajarkan kita perlunya iman dan takwa,
    Untuk belajar meniti sabar dan redho,
    Karena memiliki suami yang tak segagah mana,Justru kamu akan tersentak dari alpa
    Kamu bukanlah Khadijah,
    yang begitu sempurna di dalam menjaga
    Pun bukanlah Hajar,
    yang begitu setia dalam sengsara
    Cuma wanita akhir zaman,
    Yang berusaha menjadi solehah.....
    Amin.

    UNTUK SUAMI
    (Sebuah Syair Renungan Singkat Bagi Laki-laki)

    Pernikahan atau perkawinan,
    Menyingkap tabir rahasia.

    Isteri yang kamu nikahi,
    Tidaklah semulia Khadijah,
    Tidaklah setaqwa Aisyah,
    Pun tidak setabah Fatimah.

    Justru Isteri hanyalah wanita akhir zaman,
    Yang punya cita-cita, Menjadi solehah...
    Pernikahan ataupun perkawinan,
    Mengajar kita kewajiban bersama.

    Isteri menjadi tanah, Kamu langit penaungnya,
    Isteri lading tanaman, Kamu pemagarnya,
    Isteri kiasan ternakan, Kamu gembalanya,
    Isteri adalah murid, Kamu mursyidnya,
    Isteri bagaikan anak kecil, Kamu tempat bermanjanya,
    Saat Isteri menjadi madu, Kamu teguklah sepuasnya,
    Seketika Isteri menjadi racun, Kamulah penawar
    bisanya,
    Seandainya Isteri tulang yang bengkok, berhatilah
    meluruskannya,

    Pernikahan ataupun perkawinan,
    Menginsafkan kita perlunya iman dan taqwa,
    Untuk belajar meniti sabar dan ridha,
    Karena memiliki Isteri yang tak sehebat mana,
    Justeru kamu akan tersentak dari alpa,

    PunKamu bukanlah Rasulullah pun bukanlah Saidina Ali Karamaullahhuwajah,
    Cuma suami akhir zaman,
    Yang berusaha menjadi soleh.....
    Amin...

Saya mengutipnya di laman facebook kumpulan humor Gusdur .  humor ala Gusdur yang selalu renyah. Saya terhenti dibagian nasehat tentang menikah.

Beberapa hari yang lalu tepatnya Minggu malam tepat tanggal 10 Februari 2013 saya telah melamar seorang gadis peranakan Arab-Bugis bernama Andi Rugayyah Akhmad, saya dan beberapa orang di rumahnya lebih sering memanggil akrab dia Ti Non.

Syahdan, menjalani atau menghadapi ritus pernikahan bagi saya adalah sebuah enigma. Seperti misteri walaupun saya harus menghadapinya, que sera sera, qun faya qun, yang terjadi terjadilah.

Walaupun saya akan menghadapinya tapi saya ingin bercerita tentang sebuah pernikahan. Dari realita yang saya temui banyak kisah yang membuat saya merenung tentang pernikahan mulai dari perbedaan dan juga kasus yang menyertainya (perceraian, kekerasan dan lain-lain).

Analogi sebuah bahtera. Perkawinan pun harus siap diterpa gelombang kecil maupun besar. Beberapa teman yang telah menikah selalu berkata bahwa pernikahan selalu tidak mudah. Terlalu banyak perbedaan menyebabkan berujung pertengkaran. Bagi saya perbedaan adalah niscaya. Bukankah orang yang menikah lahir tidak sama? atau karena perbedaan membuat kita mencari persamaanya bukan? Jawaban ini memang kurang memuaskan bagi teman saya.

Saya hanya ingin mengatakan jika bertemu lagi pada teman itu bahwa menikah adalah sebuah proyek masa depan. Sebagai bahtera, pernikahan butuh nahkoda yang siap menerjang gelombang samudra. Ketika lengah, maka ia pasti karam.

Dari nasehat ala Gus Dur inilah saya ingin merenungkan kembali dalam mengambil keputusan mengarungi bahtera: Pernikahan.
Share:

Friday, February 8, 2013

Daeng Bora’

Matahari belum benar-benar terang tapi lelaki paruh baya itu sudah bersiap mengariungi muara dengan sampannya. Segala peralatan tankap sudah dipersiapkan dan perlahan ia pun mendayung,  suara kecipak air satu dua tiga suara kemudian berlalu.

Sesampai di muara pantai kendari Beach tempatnya menggantungkan hidup. ia mengumpulkan jenis kerang-kerangan dan kepiting. Dengan jalan yang tak seimbang karena kaki kirinya cacat lahir, daeng—begitu slalu disapa—menjumput kerang-kerang satu persatu dimuara yang perlahan-lahar surut. selang beberapa saat kerangpun terkumpul beberapa keranjang. Diangkatnya di sampan dan melanjutkan dengan mencari kepiting yang memang menjadi buruan paling menguntungkan. Satu kepiting dengan berang setengah kilo dihargai puluhan ribu. Bandingkan dengan sekilo kerang yang hanya dihargai lima ribuan per kilo (untung jika laku). Daeng pun saban hari memasang perangkap kepiting, sejam kemudian dilihatnya lagi karena menangkap kepiting memakai kesabaran dan ketelatenan.

Setelah tangkapan didapat. Bergegas ia ke pasar kadang pasar baru di jalan wua-wua. Kali ini mendapat rejeki dengan beberapa kilo kerang dan beberapa ekor kepiting. Hasilnya membanggakan. Ditangannya lembaran uang biru dan merah. Itu berarti daeng mendapat rejeki berlipat-lipat.

Tapi apa lacur hasil kerja seharian harus dihabiskan dalam semalam juga. Ia menghabiskan jerih payahnya dengan minum Ballo (minuman tradisional yang telah difermentasi). Sesekali pula ia menghabiskan uangnya di tempat lokalisasi.
*
Saya tak pernah tahu sepenuhnya apa yang ada dibenak orang tua itu. saya kadang bergumam orang ini sudah miskin tapi tak tahu caranya untuk menyimpan atau paling tidak menyisihkan sedikit uang. Tapi dia tidak. ia mengandalkan alam seolah-olah alam tiap hari akan memberikan apa yang dia butuhkan. Saya jadi ingat pelajaran sejarah ketika perkembangan manusia diawali dengan masa meramu (food gathering). Satu contoh manusia di abad modern ini terlihat dari kasus daeng. Ia mengandalkan alam untuk memberinya makan.

Cara pikir tradisional masih jelas terlihat. Ada benarnya Tan Malaka dalam Madilog menulis bahwa manusia Indonesia sebenarnya masih dalam perkembangan atau paling tidak terjebak dalam Logika Mistika. cara pikir ini masih terjebak dalam pikir tradisional, mistik dan selalu melihat kebelakang. Dan banyak melanda orang-orang di Indonesia.

Apa yang dilakukan Daeng dengan mengikuti logika Tan Malaka sebenarnya terjebak dalam logika mistika. ia tak pernah memikirkan masa depan, hidupnya esok seperti apa dan bagaimana dengan nasib keluarga. yang ia pikirkan hanyanya kesenangan diri yang mengikuti nafsu konsumtif dengan barang-barang yang dilarang agama. Saya percaya Daeng beragama tapi tak meyakini.

Absurd
Saya ingin mengisahkan kembali Sisifus yang ditulis dramatis oleh nobeli Perancis Albert Camus. Dengan mendorong batu berkali kali ke puncak, setiap kali mencapai puncak para Dewa selalu menggulingnya ke bawah sampai kaki bukit. Sisifus pun harus mendorongnya kembali sampai begitu, entah sampai kapan.

Albert Camus berkata para buruh masa kini yang setiap hari harus mengerjakan tugas yang sama ternyata tidak kalah absurdnya. Termasuk Daeng. Orang masa kini yang bekerja dengan tidak kalah absurdnya. dalam kisa lain kisah Daeng bisa dapat kita temui.

Hidup sehari-hari bila disadari merupakan hal yang absurd. Dengan pekerjaan yang itu-itu saja menimbulkan pertanyaan mengapa tapi kadang tidak memiliki jawaban yang meyakinkan. Maka timbul keheranan disaat itu pula bangkit kesadaran.

Daeng memang tak mengerti arti absurd.
Yang absurd merupakan konfrontasi antara dunia yang irrasional dengan keinginan dahsyat yang terus menerus bergema dalam hati manusia, keinginan akan kejelasan. Begitu kata Camus.
Daeng paham atau memang tak mau paham ia mencari jawaban dalam hidupnya tentang mengapa uang jerih payah dikumpulkan dengan bersusah diri dihabiskan dalam beberapa saat saja itupun dengan minuman tradisional yang pengolahannya jauh dari bersih. ia ingin bahagia. Bahagia dengan hasil jerih payah dengan minum minuman keras tapi besoknya setelah terbangun atau tak lagi mabuk ditemukan dirinya tidak memiliki uang alias miskin lagi. Maka ia pun kembali beraktifitas seperti sedia kala—bangun pagi, mendayung sampan, menjumput kerang, menangkap kepiting. Begitu terus. Entah sampai kapan.

Yang dilakukan Daeng bukan tanpa arti. Bagi dirinya itulah kemerdekaan. Hidupnya harus berarti betapapun harus bekerja keras untuk mencapai ektase dengan minum sampai mabuk. Ia harus memuaskan dirinya.entah sampai kapan.

Kendari lewat tengah malam Februari 2013
Share:

Tuesday, January 22, 2013