Sunday, November 11, 2012

Passion

SETIAP membaca tentang passion saya selalu teringat dengan kata para pakar sumber daya manusia atau marketing. Katanya, passion tidak berhenti hanya pada tataran mimpi namun diwujudkan. Passion juga musti tepat sasaran. Misalnya ketika seseorang punya passion tentang dunia perbukuan maka dia mewujudkan dengan menjual atau kerja dibagian penerbitan tidak dengan cara masuk dalam dunia perbankan. Itu yang disebut passion. 

Dan saya terbius juga kata-kata para pakar SDM dan pemasaran itu. Saya kemudian mewujudkan passion saya itu (yang dipupuk sejak dulu) mengenai perbukuan dengan membuka toko buku Koran dan majalah. Disamping Koran dan majalah tempat itu akan saya jadikan sebagai rumah baca.  

Langkah itu itupun saya mulai sebagai ‘mimpi kecil’ tentang passion saya yang sudah saya rawat bertahun tahun sudah: Membuat toko buku. Tak hanya itu, toko yang nanti isinya koran dan majalah itu juga berisi buku koleksi saya selama kuliah, baik di Makassar maupun di Yogyakarta. Tidak terlalu luas 3x4 persegi yang dibuat dari kayu beratap seng. Tapi saya rasa itu cukup untuk menjelaskan pada diri saya tentang arti sebuah passion seperti kata para pakar-pakar itu. 

Syahdan, toko itu walau tak terlalu luas tapi lumayan telah menguras tabungan dan malangnya sampai harus merelakan BB butut saya (untung tidak menjual baju dan celana seperti lagu Jaja Miharja). Saya tak mampu membayangkannya seandainya saya hanya menunggu kaya (yang tak tahu kapan kaya) kemudian membangun passion saya itu. Lagkah besar musti dimulai dari langkah kecil. Saya akhirnya memberanikan diri. Berkat dukungan kebaikan Non Akhmad dan kakak saya yang meminjamkan tanah miliknya yang sudah bertahun tahun menjadi 'tanah mati' di daerah strategis Bypass Kendari maka saya memberanikan membangun sebuah toko kecil. Kebutuhan biaya yang taksiran awal saya Cuma tiga jutaan ternyata melesat jauh. Biaya papan, balok ,seng dan sebagainya hanya cukup jadi bahan-bahan. Belum bisa berbentuk menjadi bangunan. Masih dibututuhkan bahan-bahan lain: paku dan lain sebagainya untuk bisa membangun rumah pengetahuan itu. Akhirnya barang2 yang bias dijadikan uang dijual untuk menutupi kekurangan itu. Lagi-lagi saya terhipnotis dengan kata para pakar manajemen yang selalu hinggap dalam kepala saya: Passion. Sudah kepalang tanggung memang, passion saya kedepannya jika toko buku itu jadi akan menjadi ‘rumah pengetahuan’ bagi orang yang ingin membaca dan berdiskusi. 

Saya menyadarinya bahwa toko itu disatu sisi tidak bias menjadi nirlaba atau kebaikan semata tapi butuh modal untuk terus survive. Maka konsep toko buku saya itu mengandalkan logika ekonomi dan disisi lain logika sosial. Logika ekonomi saya gunakan untuk memutar majalah dan koran dengan mengambil beberapa keuntungan penjualan sedang logika sosial saya gunakan untuk kepentingan bagi orang yang ingin membaca koleksi buku-buku saya.ini karena sebuah passion untuk membuat taman baca yang tinggal menjadi monument bersejarah buat saya pribadi dan untuk anak-anak saya kelak.

saya teringat kembali kata pakar itu, passion tidak berhenti pada mimpi...
Share: