Wednesday, October 24, 2012

Yogya

# izinkanlah untuk kembali ke kotamu

KOTA INI TIDAK TERLALU LUAS, hanya sekitar 48 kilometer jika tak salah. Di bagian Utara menjulang gunung api yang disebut Merapi. Di bagian Selatan membentang Samudra luas yang gemuruh ombaknya membuat bulu kuduk merinding. Orang menyebutnya pantai selatan, (samudera Hindia), tempat bersemayamnya Nyi Roro Kidul. Di bagian Timur, batuan Andesit membentuk candi Prambanan, satu dari produk masa silam yang bercerita kisah dramatik skaligus tragik-Bandung Bondowoso dan Roro Jongrang. Sedang di bagian Barat tempat terbenam matahari yang sangat indah apalagi di sore hari ketika daun-daun yang kering jatuh membentuk sebuah seremoni sederhana.

Perpaduan atau jika tidak bisa dikatakan perang antara tradisionalitas versus modernitas juga sangat terasa di kota ini. pasar-pasar tradisional masih terjaga diantara produk-produk global membanjiri di mal. Kita akan menyaksikan itu setiap hari di tempat ini.

Bagi saya, selama dua tahun tak pernah habis menyanjung. Walau pengalaman selalu bersifat objektif tapi orang yang datang ke tempat ini selalu ingin mengulang. Dan itu tak bisa saya bantah bahwa saya menyukai kota ini. Bagi saya, kota lama, candi, pantai, gunung, museum, toko buku menarik perhatian saya selama menghabiskan waktu belajar di kota ini.

Di kota inilah saya menghabiskan banyak waktu membaca dan menulis pengalaman hidup. di tempat inilah saya banyak belajar tentang arti sebuah kesederhanaan dan di tempat inilah saya belajar dan belajar.

Saya ingin lagi kembali ke tempat ini, tentu dalam suasana lain tidak lagi untuk sekolah namun beromantika. Mungkin lain waktu.

sesaat setelah wisuda, Yogyakarta 24102012
Share:

Saturday, October 20, 2012

Status

#Aku update status maka Aku ada

Di zaman modern ini dengan media informasi teknologi sebagai penopangnya, eksistensi seseorang bisa terlihat dengan mudahnya. Di jejaring sosial sebut saja FB, YM, sampe ‘mainan’ baru Twitter menjadi cara orang eksis. Dalam sekejap status memenuhi lini masa. Tumpah ruah dengan segala macam persoalan bahkan sampe ke wilayah privat. Ada yang meng-update status dengan polosnya “@pantai bersama kekasih hati”, ada juga yang sedang di mal menulis “mumpung lagi di mal, beli pakean bermerek ah” ada juga yang sedang galau menulis seperti ini “lagi galau, butuh teman curhat” dan beragam permasalahan dengan sekejap bisa menjadi konsumsi publik.

Status yang seharusnya menjadi wilayah privat kini harus dicurahkan biar menjadi milik publik. Dulu, dulu sekali orang malu jika informasi yang bersifat rahasia itu diketaui publik namun kini lebih seru apabila menjadi konsumsi orang banyak. 

Tapi sebagian orang tidak mengira bahwa data-data yang telah terlulis dalam lini masa terekam dalam sebuah server besar. Jangan heran segala aktifitas yang terjadi beberapa tahun silam bisa ‘dipanggil’ kembali dalam hitungan beberapa menit saja. Orang tidak mengira data-data yang telah dipublish akan hilang begitu saja padahal sebenarnya tidak.

Manusia sekarang memang sedang dihingggapi dengan status, homo statusian-manusia dengan status. orang ingin lebih dikatakan hebat, atau gaul ketika mampu mengupdate status setiap jam, menit bahkan detik. Dan status menjadi ajang pamer diri. Status terenti di lini masa. Dan malangnya, media informasi (jejaring sosial) tahu sisi kekurangan manusia ini dengan memanfaatkan celah dilema manusia. status sudah memenjarakan orang. Rasanya lain atau ada yang kurang ketika tak mengupdate status. Agaknya tulisan Sindhunata, Dilema Usaha Manusia Rasional bisa menjadi renungan bersama bahwa dilema sedang melanda manusia rasional.

Aku mengupdate status maka Aku Ada...
Share: