Saturday, July 21, 2012

Ramadan masa kecil

setiap menjelang puasa ada satu hal yang selalu terkenang: berpuasa di kampung. menikmati malam yang beringsut menuju sahur yang saya lakukan bersama teman-teman kecil berlarian di tengah lapangan kosong setelah salat Tarawih. setelah itu berpawai menggunakan perkusi tradional hand made dari bahan bekas dan membangunkan orang yang masih lelap dalam tidurnya.

Setelah menghabiskan waktu mengaji dan menghafal surat-surat pendek di surau. kami menyiapkan permainan yang di kampung disebut "meriam bambu". permainan itu memang terbuat dari bambu yang diisi minyak tanah yang dapat menghasilkan bunyi yang keras...booom, begitu bunyinya. suaranya memang agak mirip meriam seperti dalam film-film atau perang di zaman penjajahan. kami menyalakan meriam bambu itu menjelang buka puasa dan kemudian lanjut lagi setelah shalat tarawih.

Itulah kenangan yang muncul di saat ramadan yang telah saya lalui selama dua puluh tahunan ini. bayangan masa kecil bersama teman-teman sebaya melarutkan angan saya jauh di kampung. jauh sekali. Masa kecil saya sangat menyenangkan walau saya terlahir dalam keluarga yang tidak berkecukupan tapi masa kanak-kanak saya tidak kalah dengan kebahagiaan anak kecil sekarang ini dengan 'manjaan' beragam permainan modern dan instan: playstation, x-box nintendo, PSP dan gagdet lainnya. Waktu kecil saya hanya bermain di sawah atau lapangan dengan beragam permainan. Main asin, meriam bambu dan permainan unik lainnya.

Yang paling saya ingat saat selesai tarawih, semalam suntuk terjaga hanya bermain bersama teman-teman sambil menuggu sahur. Segala bentuk alat perkusi dari bambu, rebana sampai botol air mineral pun tak ketinggalan. Semuanya riuh sambil menembus kabut yang dinginnya sampe ke tulang.

bagi saya, permainan yang tak saya bisa lupakan adalah meriam bambu. Meriam ini terbuat dari bambu kualitas terbaik dan diamternya harus besar. Panjangnya bisa mencapai 2 meter. Kemudian dibuat lubang dibagian atas dan diisi minyak tanah. Bentuknya memang menyerupai meriam. ada saat naas, ketika itu seluruh rambut alis saya hangus terbakar karena terkena semburan api dari lubang api meriam bambu itu. efeknya tak bisa ke luar jauh-jauh karena malu jadi bahan tertawaan teman-teman.

tapi kini permainan itu jarang lagi terlihat di tempat saya. anak-anak sekarang lebih suka bermain Kembang api atau Mercon atau menghabiskan waktunya di mal dan tempat-tempat makan cepat saji. saya cukup beruntung merasakan permainan tradisional itu. kini anak-anak sekarang dimanjakan dengan permainan yang serba cepat saji/instan sedangkan saya dulu harus bersusah-susah dulu dan itu dari proses kerja sama dengan teman-teman kecil saya. kerja tim sangat terasa.

dunia memang terus berlari seperti yang pernah diungkapkan Gidden tentang The Run Way World. dunia terus berlari seperti kereta jugernaut yang melesat kencang yang siap melibas apa saja. dunia modern sampai posmodern ini meninggalkan ke sudut jauh kearifan-kearifan yang disebut permainan tradisional. dan yang bisa saya dilakukan sekarang adalah terkenang-kenang. Saya yang tak menemukan lagi permainan meriam bambu, main asin/petak umpet, dan permainan tradisional lainnya saat ramadan hanya bisa beromantisme puasa di kampung.

tapi mau bagemana lagi, dunia memang berubah dan semua pasti berubah. seperti ungkapan latin tempus mutantur, et mutamur in illid, waktu berubah dan kita ikut berubah di dalamnya. seturut diri saya yang terus berubah menjadi tua maka yang ada hanya bisa mengenang masa kecil berlarian di lapangan dan bermain meriam bambu. dan sekarang hanya mampu mengenang.

Ramadan kali ini, Jogja 21072012
Share:

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...