Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. email:pattahindi@gmail.com

Bola Air Mata

EURO 2012 memang telah berlalu tapi masih meninggalkan sedih bagi saya. betapa tidak, menjadi saksi kekalahan sebuah tim yang dicintai terasa menyesakkan dada. seperti diputus cinta. dan saya mengalami itu.

walau efeknya tidak sehebat diputus cinta: tidak nafsu makan, tidak gairah hidup ,susah tidur atau larut dalam seduh sedan yang tak terpermanai namun kekalahan itu selalu saja terbayang.

Italia dengan segudang prestasi dan sejarah di pentas dunia maupun Eropa tak mampu mengimbangi permainan tiki-taka Spanyol, tim yang hanya sekali merengkuh piala dunia 2010 dan dua piala Eropa, 2008 dan 2012. Bandingkan dengan Italia yang meraih titel empat piala dunia satu piala Eropa. Spanyol hanya sedikit memiliki sejarah. tapi malam itu Italia tak mampu meladeni permainan cantik Spanyol yang bermain seperti banteng dalam permainan matador.

memulai dengan banyak masalah intern, Italia berangkat ke Polandia-Ukrania dengan harapan biasa-biasa saja: lolos ke fase grup. selebihnya cukup Belanda, Jerman, Perancis dan Spanyol yang berada di final yang waktu itu memang menjadi tim yang diunggulkan. tapi siapa nyana, permainan cantik diperagakan dengan menginggalkan pakem lama cattenacio. di babak penyisihan mampu mengimbangi permainan Spanyol yang waktu itu tergabung dalam Grup C. menghadapi Inggris lagi-lagi Italia memperlihatkan sebuah tim yang menyerang dan penguasaan bola, Inggris pun harus pulang kampung. di Semifinal pun sama ,Jerman yang lebih diunggulkan harus mengakui kecerdikan Italia. Sejarah selalu berpihak pada Italia ketika bertemu Jerman. dan lagi-lagi pendukung Jerman harus menangis melihat kekalahan tim kebanggaanya. memori kelam 2006 pun terjadi lagi.

Di final menghadapi Spanyol yang memang diunggulkan untuk double winner Eropa, itu Italia tak mampu meredam serangan dari kaki-kaki pemain Spanyol yang memang dari dua klub yang memainkan sepak bola indah Barcelona dan Madrid. akhirnya empat gol tanpa balas bersarang di gawang Buffon. oh la la...

saya belum bisa menerima kekalahan itu apalagi dengan skor yang telak. serasa tak mungkin. di final sebagaimana pertandingan-pertandingan bola yang saya ikuti hanya selisih satu, dua atau adu pinalti. namun final yang terjadi itu serasa sulit saya terima mengingat sejarah juga Italia lebih banyak menang dari Spanyol tapi di malam itu tak ada tanda-tanda sedikitpun Italia bisa membalas gol. tim kebanggan saya itu seperti diajari main bola. tak ada passing, aliran bola yang seperti pertandingan sebelumnya.

akhirnya, tak riang lagi setelah itu bahkan membaca pun tak mau lagi. efeknya memang kuat. membuat saya lemah letih lesu untuk melakukan kegiatan. efeknya memang hebat.

saya memang larut karena saya bukan tifosi yang asal mendukung, asal-asalan dan apalah namanya. dari dulu memang Italia yang monoton dengan pola memarkir bus (orang bilang) tapi saya tidak) lihat sekarang yang menunjukkan permainan impresif di piala Eropa. sejak tahun 1990 di masa Roberto Baggio hingga Pirlo sekarang ini saya selalu mendukung Italia. maka pas rasanya jika saya berduka atas kekalahan tim kebanggaan saya itu.

Italia bagi saya seperti enigma yang membuat saya larut. Entah, nuansa Italia apapun itu saya suka. saya suka dengan sesuatu yang berbau Italia, sejarah, vespa, ekspresi orang-orangnya dan pemikir-pemikir hebatnya.

saya yang suka sejarah membayangkan tim itu seperti sepasukan Romawi yang ekspansif yang berani maju di medan perang dengan semboyan veni vidi vici, kami datang, kami lihat kami menang. film-film romawi dan cerita para kaisarnya pun begitu selalu tak habis-habis dinggit.

butuh waktu lama masa berkabungnya atas kekalahan bagi yang telah lama mengagumi Italia tapi saya yakin bahwa ada saatnya menang ada saatnya kalah karena itulah sepakbola penuh dengan drama yang mengobok-obok emosi. kekalahan itu akhirnya membuat Prandelli bertahan yang sebelum final mengumumkan untuk mengundurkan diri. Dia yakin Italia punya potensi besar untuk menang di kejuaraan berikutnya. mungkin Prandelli dibenaknya adalah bagemana Italia bangkit dimasa-masa keterpurukan seperti yang kisah romawi yang begitu panjang.

saya ingin mengutipkan Coldplay: viva la vida

"...i hear Jerussalem bells a ringing roman cavalry are singing,
be my mirror my sword and shield...


dan Italia akan menggelorakan itu...


Forza Azzuri!!!
Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga untuk sahabat yang berkenan menuliskan komentar kritisnya...salam bahagia