Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. e-mail: pattahindi@gmail.com

Lontara Rindu

Tak banyak yang dapat mengangkat cerita lokal terlebih daerah yang terpencil di Sulawasi Selatan begitu hidup dalam tarikan tulisan sebuah novel. Tapi Gegge Mappangewa, novelis Sulawesi Selatan yang saya kenal sejak membaca majalah anak muda (dulu Aneka, Annida)—sekarang tak lagi—itu berhasil mengangkat eksotika alam Sulawesi Selatan khususnya Sidenreng Rappang, tempat para Bissu, Tolotang--tempat penulis novel ini berasal. Konon sang penulis harus menghabiskan berbulan-bulan riset (lived in) tentang kepercayaan lokal itu untuk memberi 'roh' pada cerita yang diangkat (ini sumber dari sang istri penulis).

Dan baru kali ini saya merasakan yang dalam tentang alam raya Sidrap khususnya Cendrana melalu sebuah novel inspiratif: Lontara Rindu. Saya tentu berutang budi pada sang istri penulis novel ini, Nuvida Raf, saya lebih suka memanggilnya Teh Upik, mentor dan senior terbaik di jurusan. Saya yang ingin membeli novel ini malah dibawakan langsung oleh sang istri penulis dan tentu saja hanya nitip baca. Selebihnya saya harus membeli di toko buku.

Dan, saya terkesima. Bisa dibilang takjub melihat narasi novel ini dan tentu saja alam Sidrap yang menghampar luas tanah untuk padi dan ritual magis Tolotang yang hidup sampai hari ini. tak lupa juga saya takjub pada tokoh yang disebutkan. Lontara Rindu mengisahkan anak manusia Bugis : Vino dan Vito yang terpisah jauh karena perceraian keluarganya. Perbedaan kepercayaan antara Islam dan Tolotang yang tak bisa disatukan (walau dalam realitasnya tidak nampak) menjadi alasa keretakan keluarga. hamparan sawah, sekolah dan pengajian ternyata tak mampu menyatukan dua saudara ini. Vito harus memilih tinggal bersama ibunya sedangkan Vino dibawah Ayanhnya. Mereka pun dipsahkan tempat dan selat: Sulawesi dan Kalimantan. yang tersisa kemudian adalah rindu. Dua manusia Bugis yang harus menerima takdir berpisah. bertemu untuk berpisah.



Tapi dibalik keindahan Sidrap, Lontara, dan cerita hikayat Tolotang tersimpan tanda tanya(besar) di novel ini yang luput saat saya bertemu dengan penulisnya, adalah mengapa tokoh-tokoh di dalam novel itu memilih nama Vino dan Vito yang tentu saja kita kenal akrab dengan nama orang-orang kota atau kebarat-baratan? Menagapa tidak diberi nama khas Bugis yang tak kalah cantik "Tenri" misalnya. Tapi lokal biasa bercampur dalam modern yang bercampur baur pada sebuah zaman. Mungkin nama-nama (kampungan) itu tidak lagi cocok diangkat. Ini tentu berbeda di dalam novel 5 Menara yang masih mempertahankan kelokalan tokohnya: Baso, Dulmajid, Alif, Atang dan lain-lain misalnya. atau tokoh Marno dalam Seribu Kunang-Kunang di Manhattan yang tak menghilangkan identitas ke-jawa-annya walau hidup di Amerika? Entah.

Namun Rasa hambar nama penokohan itu seakan ditutupi dengan alur cerita yang mengalir daengan tumpah ruah air mata pertemuan Vino dan Vito dan penyelasalan kedua orang tuanya yang memilih untuk sendiri. Kisah kenidahan Cendrana sebuah kampung di Sidrap dan pertemuan-perpisahan Vino-Vito akhirnya melengkapi ceirta novel yang menjuarai lomba menulis Republika 2012 ini.

Saya mengucap trimakasih buat Teh Upik yang meminjamkan novel suaminya untuk saya baca. Walau saya membacanya lompat-lompat (sebuah kebiasaan buruk dalam membaca). Sebuah kredit untuk novel rasa lokal ini atas pencapaian yang luar biasa besar. Mengangkat daerah yang tidak dikenal luas di pentas nasional. Saya yakin setting kelokalan yang cenderung esoterik malah lebih banyak meyimpan daya kejut, seperti dalam novel Lontara Rindu ini.

------
Trimakasih Kak Gegge Mappangewa dan Kak Upik...
Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...