Friday, May 11, 2012

Karena sehelai foto

ADA PEPATAH CINA, satu foto lebih berarti dari seribu kata. Foto bisa melukiskan nuansa: tentang hamparan sawah yang mulai menguning; aliran air, kesunyian desa, atau senja yang merah dan kemudian diabadikan dalam frame.

foto bisa berbicara banyak hal. dan foto pun bisa ditinjau dari beragam sisi sebanyak arah mata angin.

*

Saya tidak tahu persis apakah foto bisa menjadi bencana yang bisa mengahiri hubungan dan pertemanan? Mungkin. Seseorang menganggap ini sebuah kesia-siaan jika hanya foto kemudian mengkahiri semua cerita. Ini bagai sebuah tragedi saya pikir.

terkadang seseorang tak siap menghadapi kenyataan yang kemudian membuat kisah dengan amat tragis hanya karena foto. Foto kadang bisa membuat tertawa juga kadang membuat seseorang disumpahserapahi.

hanya karena sebuah foto.

melihat foto itu memang bisa multi tafsir. Di tengah kegalauan itu saya kemudian membaca blog ndorokakung (salah satu blogger yang inspiratif yang pernah saya baca). ia bilang, selembar foto bisa bercerita banyak hal:
"Sebagian orang bahagia menemukan rumor-rumor yang tersebar di jejaring sosial. Sebagian lagi, terutama yang bersangkutan, terkesima atau kaget karena merasa tak siap"
kadang saya mengambil hikmah dari kejadian ini saya anggap semacam kutukan bagi saya yang selalu mengumbar foto-foto dan sifat narsis--walau sebenarnya tak percaya diri. Di dunia maya (termasuk juga BBM) yang dulu saya senangi untuk banyak mengumbar foto (narsis) akhirnya memaksa saya untuk berfikir ribuan bahkan jutaan kali untuk mengunggah foto lagi. kenarsisan saya dengan foto akhirnya harus dibayar mahal...

jika seperti ini, hari-hari kedepannya tak akan ada foto-foto narsis yang muncul. Untuk beberapa saat bisa jadi. setelah itu narsis kembali.

Saat seseorang kehilangan foto, saat itupula citra dan imaji lenyap. saya ingat tulisan di majalah BASIS tahun 2002 yang menulis tentang Marilyn Monroe. Saat itu Marilyn kelihatan acuh tak acuh melihat dirinya dalam citra foto.

Hal itu terungkap dari kisah Kirkland yang memotret Marilyn delapan bulan sebelum kematiannya di tahun 1962. Kirkland berkisah ketika melihat Marilyn pada waktu itu seakan melihat tiga pribadi dalam satu tubuh yang kesemuanya bernama Marilyn Monroe.

Kirkland tahu sebagai fotografer, dalam foto, citra seorang bisa menjadi lebih banyak.

Dulu, foto bisa menjadi cara mengungkap kenarsisan tapi bagi saya hari ini meragukannya karena sebuah foto itu tak lagi punya daya hidup. Sekarang, iya, karena foto bisa membuat orang bertengkar, saling melupa dan beragam kejadian yang tak mengenakkan hati. Dan akhirnya karena sehelai foto seseorang mengambil jalan pintas dan kemudian selesai begitu saja: melupa!

-----
  • sebagai kenangan, saya mengambil foto masa kecilmu dan juga foto narsismu sebagai ingatan jika saya rindu. ah, ini karena foto itu...
  • hati-hati dengan foto.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...