Wednesday, March 14, 2012

Sarinah


RAMBUTNYA terurai panjang, kulitnya gelap tapi manis, giginya ginsu, hidugnya bangir dan bicaranya pelan. Saya pernah sebangku di kelas. Jika dia juara satu saya yang juara dua atau jika saya juara dua dia tetap juara satu dan saat dia juara satu saya malah tak dapat rangking. begitu seterunya. dia lagi dia lagi. Dia adalah Sarinah, sahabat kecil saya di kampung. Perempuan desa tapi kecantikannya sebagai perempuan selalu memesona.

Itu dulu, dulu sekali malah. Terkenang masih SD waktu itu. Saya dan Sarinah berpisah saat akan berajak kelas tiga SD. Saya bermigrasi ke Kendari Sulawesi Tenggara--tidak hanya pindah tempat tapi pindah sekolah. Akhirnya Sarinah, teman sebangku saya berpisah. Saya tak sempat mengucapkan salam perpisahan sebagai teman sebangku juga teman sekampung. Mungkin karena preferensi saya kurang. Tidak seperti di filem-filem atau sinetron dimana anak kecil sudah mampu mengungkap perasaan sedihnya berpisah. Saya tak punya itu. akhirnya berpisah tanpa say good bye. sampai sekarangpun tak pernah bertemu teman sebangku itu. Cerita kecil yang tak tergantikan.

Akhirnya, kami pisah. Kabar terlalu sulit datangnya kini.

[Saya tahu, setiap tempat ada ribuan bahkan jutaan kenangan dan saya tak sendiri merasakan itu].

Saya tak ingin beranjak dalam romansa sekolah, apalagi tentang Sarinah, takut jadinya galau. tapi tak ngeh rasanya tidak menyebut Sarinah yang satu lagi, sosok yang selalu dibanggakan oleh Putra Sang Fajar: Sukarno.

Sukarno sadar, tanpa perjuangan Sarinah (baca:perempuan-perempuan) ia tak ada apa-apanya. Sarinah adalah sumber ilham baginya. Dalam perjuangan nasional sosok Sarinah tak bisa dilupakan begitu saja. seperti kata Vladimir Lenin “jikalau tidak dengan perempuan kemenangan mungkin tak mungkin kita capai”. Perjuangan apapun itu perempuan selalu ada dibaliknya. Mungkin tak asing ditelinga ketika seorang selalu berkata dibalik keberhasilan laki-laki ada sosok perempuan dibelakangnya.

Dan Sarinah hanyalah satu 'narasi kecil' Bung Karno yang ditulisnya ketika di Yogyakarta. buku Sarinah lahir atas ketulusan seorang perempuan mengasuh dengan sabar seorang proklamator bangsa itu. Dalam pengantarnya, Sukarno menulis:
"Apa sebab saya namakan kitab ini “Sarinah”? Saya namakan kitab ini “Sarinah” sebagai tanda terimakasih saya ketika masih kanak-kanak. Pengasuh saya itu bernama Sarinah. Ia “mbok” saya. Ia membantu ibu saya, dan dari dia saya menerima banyak rasa cinta dan rasa kasih. Dari dia saya banyak mendapat pelajaran mencintai “orang kecil”. Dia sendiripun “orang kecil”. Tetapi budinya selalu besar!"
Kita sudah bisa tebak, Sarinah adalah nama kampung[an] bukan nama gaul. Berbeda dengan nama nama-nama kota, sebut saja, Nayla, Nasya, Annisa dan sebagainya. Ia perempuan biasa dan latar belakang yang kampungan tentu hanya berkutat pada sawah, dapur dan mungkin jadi pembantu-pembantu. Namun ada kisah heroik yang ditampilkan disini. Seperti kisah Sarinah-nya Sukarno. Mungkin heroik itu bisa didefenisikan sederhana adalah memberi. Sarinah adalah contoh sederhana perempuan Indonesia (dulu). Sabar, sederhana, polos, dan apa adanya. Perempuan seperti dia adalah segala ilham.

Kisah Dia memang berjarak

Saya hanya ingin menautkan cerita kenangan Sarinah milik saya dengan Sarinah milik Sukarno. ada banyak perbedaan saya pikir atau bisa disebut tak sebanding, seharusnya apple to apple. apapun itu, jika ada persamaan adalah karena sama-sama perempuan dari kampung. Dan tentu gambaran kebersahajaan Sarinah-Sukarno ingin saya replikasi untuk Sarinah teman kecil saya, diamanapun dia berada.

Inilah kisah yang bertaut, beda masa, satu nama: Sarinah. Kisah Sarinah ternyata mengajar saya lebih banyak daripada buku-buku yang selama ini saya baca.

-----------
foto: Asri & Meyga, mereka kini beranjak dewasa
Share:

4 comments:

  1. ehehe...makasih kak Syam (kata Asri dan Meyga...

    mereka beranjak dewasa, seperti Rani dalam lagu S07 :)

    salam hangat

    ReplyDelete
  2. sarinah itu toko yang ada di malioboro bukan ya kak? hihihihi :D *ngawur ajaa...

    ReplyDelete
  3. masih ingat yo? saya malah tidak memperhatikannya, yg saya tahu sarinah adalah pusat perbelanjaan di jakarta...:)

    ReplyDelete

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...