Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. e-mail: pattahindi@gmail.com

Requiem...


kubiarkan cahaya bintang memilikimu
kubiarkan angin yang pucat
dan tak habis-habisnya gelisah
tiba-tiba menjelma isyarat merebutmu
entah kapankah bisa kutangkap…*

***

saya mengutip puisi liris Sapardi ini sebagai ungkapan bela sungkawa. saya menemukan puisi itu di sebuah folder musikalisasi puisi yang selalu ku koleksi. sesaat setelah di siang yang masih basah sehabis hujan pagi itu SMS-mu masuk dan saya pun menuliskan catatan singkat ini. hampir saja catatan ini urung dipublikasikan dan hampir terhapus tapi sudah kepalang tanggung (telah mencapai beberapa baris kalimat). maaf jika kau tak menyukainya.

Di Minggu kau kabarkan berita duka saat sebagian orang bersuka. saya menulis catatan ini dengan huruf air mata. saya tidak tahu kau membacanya atau tidak, tapi itu tidak penting bagiku apa kau membaca atau tidak. saat menulis ini ada kesedihan yang sempat hadir jika tak bisa disebut duka--ketika kehilangan [saya pun belum sanggup untuk berpisah dengan orang tua atau orang-orang yang dekat], kau telah kehilangan seseorang yang kau cinta setengah mati. saya harap engkau tabah.

saat ini saya tak ingin mengusik dukamu. saya berharap ada tawa yang kau hadirkan kembali seperti hari-hari sebelumnya. walau saya tak mengenalmu begitu dekat (walau ada keinginan untuk itu) tapi saya ingin kau bagi dukamu walau hanya cerita [tanpa air mata]. Jika saja ada yang bisa kau bagi dalam tangismu atau kesedihanmu maka kurelakan pundakku sebagai sandarannya.

dan saya hanya ingin menulis tentang "mati" saja. yang selalu dianggap sebuah enigma, sebuah misteri besar, namun penting ada penjelasan saya pikir. dalam paham biologis dan antropologis, sesungguhnya mati adalah bersatunya tubuh dengan alam. ketika mati maka tidak ada energi yang hilang di alam semesta yang disebut ini keseimbangan dinamika termal. satu perenungan seorang Dokter dari UGM yang menulis catatannya yang begitu dalam di majalah BASIS, siklus hidup-mati manusia itu.

ia menulis, apabila saat bernapas kita mengambil energi dari lingkungan kita melalui lauk-pauk hewan ataupun tumbuhan, ketik nafas terakhir menghampiri, energi kembali ke alam melalui spesies-spesies yang menguraikan manusia kembali menjadi tanah. dan bila pada hari pertama lalat meletakkan telurnya, pada hari ketiga telur menetas menjadi belatung, dan di hari kelima kumbang akan mencari belatung. ini kerja alam. sebuah mata rantai kehidupan dari tanah kembali ke tanah. apa yang hendak saya sampaikan ini bahwa ia yang kau cinta hidup di alam yang lain--seperti saya, kamu dan mahluk yang hidup--walau mati secara raga.

tapi jika kau pernah membaca sebuah cerita pendek milik Agus Noor "requem kunang-kunang" betapa mengharukannya ia menulis dan disitu ada keindahan yang ditampilkan "kehilangan yang indah" saya menyebutnya. ada juga beberapa mitos tentang "mati" diseberang sana, dalam beberapa kepercayaan, orang yang mati akan berinkarnasi menjadi kunang-kunang, bintang-bintang dan benda-benda yang indah.

dan jika ada pilihan ketika kita tiada dan setelahnya mau menjadi apa? maka saya memilih menjadi kunang-kunang...

Requiem aetenam, beristirahatah dia dalam kedamaian abadi...

-----------------------------
*Nokturno - Sapardi Djoko Damono
**Untuk sahabat yang kehilangan orang tercinta
***foto: koleksi pribadi
Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

2 comments:

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...