Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. email:pattahindi@gmail.com

Memberi

--ketika memberi bersiaplah melupakan

ADAKAH pemberian benar-benar tulus? Bagi Derrida, memberi bisa menjadi masalah. Semua patut dicurigai.

Bermula dari essai Marcel Mauss tentang Potlatch. Derrida mulai memperingatkan tentang pemberian. Potlacth adalah sebuah kebiasaan memberi dalam suku Malenesia [di Indonesia bisa disebut sumbangan]. Potlatch sendiri sebagai mana ungkapan Romo Haryatmoko dalam sebuah kuliah umum di gedung lengkung itu adalah kebiasaan memberi dan menerima yang tak kunjung henti, dan begitu seterusnya yang menjadi kekhasan suku Malenesia. Dalam hal ini sistem pemberian yang dipertukarkan. Untuk mengantar esai Mauss, saya mengutip esai itu melalui catatan singkat Romo Haryatmoko (pemberian, hal 197-199):
Di Malenesia, kita telah menyaksikan bahwa pemberian-pemberian berputar pada keyakinan bahwa pemberian-pemberian itu akan dikembalikan dengan jaminannya. Jaminannya ialah keutamaan yang dari hal yang memberikan. Dalam setiap masyarakat, wajar bila hakekat pemberian itu mengikat kewajiban dengan tenggat ‘waktu’ tertentu...”
[Mauss yang sadar tentang pentingnya waktu pemberian agaknya meletakkan 'waktu' sebagai unsur penting dalam pemberian tapi menjadi masalah bagi Derrida karena tetap mengharap imbalan]

Memberi sebenarya mengandung konotasi positif berhubung dengan sesuatu yang baik, saleh, dermawan, murah hati yang sumber segala kemahalimpaan hidup. sampai-sampai dalam kekuranganpun orang rela memberi. Sifat alturisme menjadi lazim dilakukan sebagai wujud kepedulian sosial.

Apa yang salah disini? Apa gunanya mempertanyakan sesuatu yang baik (memberi) padahal tidak ada masalah disitu karena mengandung kebaikan hati? dan mengapa menggunakan Dekonstruksi ala Derrida? Bagi Derrida pemberian itu virus. Alasannya jika sesuatu pemberian yang mengharapkan imbalan seperti halnya ucapan, tanda jasa, terimakasih, pujian akhirnya meniadakan keutamaan pemberian.
Tidak ada sesuatu di luar teks, ungkap Derrida suatu ketika
Melalui dekontruksi Derrida mengurai hal ihwal pemberian ini (yang tentu mengerti struktur bahasanya). Derrida yang membaca esai Mauss ‘esai tentang pemberian’ mengkiritisi konsep potlacth ini. Dengan memulai dengan sebuah pertayaan masihkah disebut memberi jika pada pemberian masuk dalam lingkaran—memberi-menerima, terimakasih, utang-melunasi, balas jasa, ingatan, simbol ungkapan lainnya? Baginya memberi tidak ada harapan akan dikembalikan ke pemberi dalam apapun. Meminjam—Romo Haryatmoko—jika memberi anggaplah itu tak dibalas (pentingnya melupakan).

Haryatmoko menambahkan, ketika terjadi pemberian, rasa terimakasih tidak akan pernah menggantikan secara memadai pemberian itu. Namun, begitu penerima mengucapkan terimakasih, ia meniadakan pemberian itu dengan menawarkan sesuatu yang setara. Disini terjadi lingkaran yang melingkupi pemberian dalam bentuk gerak untuk memiliki kembali. Namun pernytaan Derrida ini bisa saja ditolak atau tidak lagi bermkna ketika seseorang menggunakan motif ekonomi. Memberi harus juga menerima, disitu prinsi keadilannya. Ketika orang sudah menggunakan motif ekonomi maka Derrida bisa saja tak dapat dipakai.

Kembali ke Derrida, bentuk kegialaan dari memberi adalah melupakan. “Lupa” tidak dikaitkan dengan lupa ingatan namun melupakan sengaja secara sadar. Melupakan bahwa telah terjadi pemberian dan melupakan bahwa telah memberi anggap sebagai suatu kelupaan. Yang menjadi masalah kemudian bahwa pemberian juga mengandung kekuasaan. Goffman dalam teori pertukarannya mengganggap bahwa semakin sering orang diberi semakin seseorang merasa ketergantungan pada si pemberi. Sulitnya membedakan sekarang adalah apakah pemberian menandung nalar ekonomi atau nalar sosial. Tapi disini pentingnya bahwa pemberian tidak pernah lepas dari motif. Derrida mencoba berkata jika memberi kita harus benar-benar lupa bahwa kita pernah memberi.

Sampai sekarang saya masih sulit untuk melupakan kebiasaan saya mengingat pemberian selama apapun itu. bagaimana dengan anda sahabat? :)

Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

4 comments:

  1. selalu ada udang di balik batu yah kak? ehehehe... semua pemberian patut dicurigai memang, tapi kl sy pribadi akan slalu terkenang2 dg sang pemberinya... bukan pada pemberiannya :))

    ReplyDelete
  2. ehehehe...seperti itulah syam kalo pake perspektifnya Derrida. benar juga, bukan pemberiannya tapi siapa yang pemberinya...hampir luput saya, betul itu :)

    ReplyDelete
  3. memberi dengan tidak memikirkan balasannya itu kayaknya lebih baik ya...

    ReplyDelete
  4. kayaknya, dalam setiap agama diajarkan ikhlas...mungkin itu istilah lain, memberi untuk melupa :)

    salam hangat...trimakasi atas kunjungannya

    ReplyDelete

Terimakasih yang tak terhingga untuk sahabat yang berkenan menuliskan komentar kritisnya...salam bahagia