Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. e-mail: pattahindi@gmail.com

Janji

--Melingkari hari dengan janji-janji

ROMO HARYATMOKO dalam sebuah kuliah umum berkata jika berjanji jangan pernah tertulis. Tentu Romo hanya sekedar bercanda. Tapi kalau mau dikontekskan maka banyak orang yang telah berjanji dengan kata-kata manis. Tak heran jika janji bertebaran dimana-mana.

Janji adalah bagian penting yang selalu dipraktikkan. walau kadang dianggap sepele. ia bisa membuai juga bisa menyikiti. betapa banyak orang yang suka berjanji dan betapa tidak sedikit pula korban dari janji-janji. Naifnya, saya termasuk orang yang suka menyebar janji itu. tak heran jika ada sahabat saya selalu memanggil dengan kata Mr. lip service. Masa iya saya penjanji? pelabelan ini agak merisaukan, jangan-jangan ia memaku mati diri saya yang suka berjanji dan setiap kata yang terucap akhirnya dia anggap angin lewat saja. mati rasa. Akhinya dianggap itu hanya ilusi. Mati awak nih, tak bisa lagi pede kate...

Saya tahu, saya tidak sendiri yang suka melontarkan janji-janji (manis) itu, ada juga yang berjanji ribuan kali bahkan berjuta-juta. Berjanji memang dekat dengan dusta, tidak jauh dengan kebenaran, beda-beda tipis dengan kebohongan juga bisa bersanding dengan kepercayaan, dan bisa dekat dengan ketidakpastian. Filsuf Hannah Arendt dalam bukunya Human Condition berkata bahwa manusia memiliki dua sifat yakni unpredictable dan irreversible. Maksudnya, sifat unpreditable terkait dengan tindakan yang tidak bisa diramalkan, sedang irreversible tindakan manusia tidak bisa diulang dari nol. Misalnya jika berjanji maka kita meramalkan sesuatu yang tidak pasti bisa ditepati bisa tidak, maka tak heran seseorang berjanji selalu ada tambahan Insya Allah. Tapi bagi saya ini kurang afdhol jika dipakai sebagai pemanis saja, dalam pemahaman awam saya terhadap agama, kata Insya Allah dimaksudkan ketika kita memang berniat tulus untuk untuk menepati, jika pun tidak terealisasi berarti Allah yang tidak berkendak. sudah kejauhan ini, diluar konteks...hehehe

Tindakan yang bersifat irreversible bahwa jika berjanji maka kata-kata itu adalah ‘utang’. seorang yang sudah berjanji maka tindakan itu tak bisa dikembalikan ke bentuk semula. Sesuatu yang terucap sulit untuk dikembalikan dalam bentuk semula. Walau berusaha untuk melupa atau benar-benar lupa. Janji tetaplah janji.

Memang, berjanji tak membuat orang dikenai pasal KUHP namun secara moral agama tindakan itu tidak dibenarkan. Ada beberapa kemungkinan orang berjanji. Pertama, janji hanya sekedar menyenangkan hati, kedua, janji memang untuk direalisasikan. Dan ketiga, janji sekedar janji, tak bisa diprediksi bagai mengharap yang tak pasti.

Kalau terjadi demikian apa yang harus dilakukan? Saya tak punya solusi untuk itu. ada sebuah curhat tentang kejujuran (jika tak salah suara Rachel Maryam) begini katanya:
Kejujuran itu seperti es krim, kalau tidak dilahap bakalan cepat meleleh, hilang ditelan hawa panas. Bisep di tangan itu kan otot fisik, nah kejujuran itu otot mental dan otot harus dilatih terus biar kuat. Dan untuk hari ini latihan kejujuran gue: Jujur pada diri sendiri.
Tentu latihan kejujuran ini adalah janji pada diri sendiri [sesuatu memang harus memulai dari diri]. Latihan mental ini penting sebagai modal sosial. Fukuyama dalam bukunya the great distruption (guncangan besar) dalam bagian kedua mengatakan lenyapnya kepercayaan akan berdampak pada kehancuran. Kepercayaan adalah modal sosial dalam kehidupan manusia.

Kita bisa tidak bersepakat dengan fukuyama namun penting sebagai renungan. Dan saya banyak mengalami kondisi yang tidak menyenangkan karena janji-janji (basi) pada tiap-tiap orang hanya ingin dikata orang baik dan sebagainya. Akhirnya tak enak hati dan merasa bersalah. Tapi sering yang saya lakukan adalah pura-pura gila saja, seolah-olah tak pernah berjanji. Ini sudah dekat dengan pembual atau munafik. Wah jangan sampai. Makanya saya lebih suka kata Romo Haryatmoko, jika berjanji jangan pernah tertulis...dari dulu memang, saya tak pernah berjanji secara tertulis karena bisa-bisa diperdatakan. Adakah yang masih suka berjanji seperti saya? Jangan. Ini contoh tidak baik :)

Akhirnya, saya pun berjanji pada diri sendiri biar kuat mental untuk tak ingkari hari dengan janji-janji. selamat akhir pekan saudara, jangan ada dusta diantara kita...
Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

6 comments:

  1. Janji adalah utang. Sampai kapanpun kita akan dituntut u/ melunasinya...

    saya pernah jadi korban tinggi gunung seribu janji, dan rasanya sama sekali tidak seperti saat makan es krim, kak....wkwkkwk.. :))

    ReplyDelete
  2. benar Meyke, kayaknya perempuan banyak jadi korban :D.

    salam

    ReplyDelete
  3. tapi banyak juga perempuan yg mengingkari janjinya sama laki2, Kak

    jadi kesimpulannya bukan cuma laki2 saja...

    intinya, siapa yang mencintai maka ia mempercayai...klo diingkari, maka pastinya cintanya dikhianati :D

    ReplyDelete
  4. Kak itu bukan suaranya Dian Sastro yah? hehehe... sy suka sm itu puisi, ndak tau siapa pengarangnya. saya main dapat saja di folder leptopku :)

    ReplyDelete
  5. sekilas sih mirip, sy juga blm yakin itu suara Rachel...nanti ta' dengar lagi...

    ini semacam curhat dan kalo tidak salah dalam sebuah film...smoga nanti ada jawabannya. mari sama2 cari jawabannya :)

    salam hangat

    ReplyDelete
  6. ahahaha, sy kira kita tau dari mana itu sumber potongan mp3...

    ReplyDelete

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...