Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. e-mail: pattahindi@gmail.com

Ah, sesuatu

SYAHRINI adalah sebuah pengecualian dalam jagat intertein Indonesia. pesona dan gayanya adalah par exelence, yang utama. lihat saja jambul yang diperkenalkannya dari jambul khatulistiwa, jambul terowongan cassablanca hingga model rambut 'ranjau-ranjau cinta'. belum lagi baju kaftan dan ungkapannya yang paling terkenal seantero tanah air; "alhamdulilah yah", dan "sesuatu banget". Sematan trend setter pun dipantaskan melekat pada dirinya.

sekelebat saja ungkapan-ungkapannya pun menjadi wacana keseharian, kaum muda termasuk juga yang tua tak lepas ala-ala Syahrini.

Adakah yang baru dari kebiasaan dari tingkah dan ucap Syahrini? tak ada. sesuatu tak ada yang baru. ini hanyalah bentuk sebuah pengulangan-pengulangan. dan jawaban ini pun saya temukan akhirnya dalam sebuah tulisan yang brilian dari seorang blogger dari Bandung.

[jika berkenan liat juga blognya].

ketidakbaruan yang meminjam istilah bloger itu "something borrowed" yang sekedar pinjaman saja dari kata-kata kunci "alhamdulilah" dan "sesuatu".

ok...Baiklah saya reduksi ungkapan bloger itu, kata "alhamdulillah" seperti kita ketahui adalah ungkapan teologis atas syukur nikmat yang terucap penuh takzim. dan mengapa harus pake yah? emblem-emblem ini terkesan lebih 'gaul'. seperti halnya ustad yang cukup berkata "alhamdulillah". beda ungkapan "alhamdulillah -yah" yang terkesan ungkapan populer dan 'gaul' yang lebih banyak mengandung material duniawi dan menghilangkan makna seluruh arti ucapan syukur itu.

Syahrini bisa saja memilih kata untuk "alhamdulilah" dalam pengajian misalnya dan Syahrini yang nampil dalam acara show yang berkata "alhamdulillah -yah" atau "sesuatu banget". ketika kalimat syukur ditambah eblem-eblem maka ia kehilangan daya magis. memudar. tak berasa.

Bandingkan dengan ungkapan, Bang Haji (kita) Rhoma Irama, seperti "kau kah itu rika?" atau ungkapan teologis bang Haji yang selalu diucapkannya "alhamdulillah" yang hanya berkembang dalam wacana rakyat dan terkesan ndeso. kepopuleran Bang Haji pun pelan-pelan meredup [alhamdulilah yah]. body sintal, kain kaftan ala-ala Syahrini ditambah suara merdu sang biduanita itu semua pasti terhipontis. maka hilang sudah lagu Bang Haji; judi, begadang, piano dsb [sesuatu banget]...hehehe

mungkin belum menemukan clue-nya dari ketakbaruan atau paling halusnya lagi sesuatu yang dipinjam, yaitu, dalam hal ini, diktum teologis Islam, kalimah ţayyibah hamdalah, untuk ihwal “alhamdulillah yah,” dan idiom informal bahasa Inggris “quite something” atau “really something” untuk ihwal—pun yang diterjemahkan menjadi—“sesuatu banget.(”http://simangade.wordpress.com/)

sesuatu yang dipinjam kemudian dipreteli atau bahasa kerennya lagi improvisasi terhadap sesuatu (tanpa "banget" yah) menjadikan Syahrini populer. dan tentu dukungan media yang menampilkan beribu dan bahkan berjuta citra, imaji Syahrini telah menyedot ribuan mata dan menghegemoni alam sadar (dan tak sadar) banyak kalangan dan berujung pada komodifikasi mode dan pakaian yang berbau Syahrini. dan tentu saja ini bisa dipakai dalam dunia bisnis. logika pasar pun menghadirkan Syahrini-Syahrini dalam bentuk benda yang dipertukarkan.

Syahrini telah menguasai arena dalam terminologi Pierre Bourdieu. Dalam arena penuh dengan pertarungan modal dan Syahrini memiliki modal itu yang hampir semua (kapital, kultural, Simbolik, Sosial) sebagai seorang pesohor menjadikannya setiap ungkapan, jambul, dan imajinya menyihir siapa saja. wacana "alhamdulilah -yah", "sesuatu banget" hingga kain kaftan mendominasi kehidupan.

dan "Syahrini-Syahrini Baru" pun ada dimana-mana. disitulah dan disanalah akhir dari kemenangan Syahrini yang genuine. tapi disini ada distingsi. pembeda. Syahrini yang genuine dan yang Sharini palsu (dengan berucap, ber-kaftan, ber-jambul, smoga tidak bersuara seperti Syahrini Asli) tetap akan beda. mewakili budaya tinggi, budaya rendah. maka tibalah saatnya sebuah hegemoni Syahrini meraja seperti yang diungkapan Gramsci dan Bourdieu, yang ditanamkan dalam kehidupan secara halus, tak kasat mata, dan akhirnya diterima sebagai doxa. tak dipertanyakan lagi. dahsyat bukan?

dan kita pun menunggu mengaburnya dunia, diseanchantmen world, meluruhnya ucapan "Alhamdulilah -yah" dan "sesuatu banget" karena itu hanyalah pinjaman (something borrowed)

ah, sesuatu....
Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

2 comments:

  1. Ahahaha, tulisanta jg ini sesuatu skali kanda... ternyata Syahrini bisa mengalihkan sejenak ide menulista

    sesuatu memang :)

    ReplyDelete
  2. ehehehe...sesuatu (yang tidak) banget memang syam

    memang sesuatu tu syahrini...:)

    salam hangat

    ReplyDelete

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...