Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. e-mail: pattahindi@gmail.com

Terkenang-kenang

--tentang pentingnya mengenang

Saya berusaha membenamkan diri dalam masa silam; terkenang-kenang.

Mungkin terlalu berlebihan ini disebut beromantisme, saya selalu mengenang masa kecil saya, semasa sekolah dan kuliah (termasuk romantika 'cinta monyet'). tapi hal yang tak bisa terlupa hingga sekarang adalah berkumpul bersama keluarga dan ponakan-ponakan. bersama mereka adalah cinta yang tak ada habis-habisnya.

***
keluarga mengajarkan hendak bagemana kita memberi dan diberi pengalaman sosial yang tidak kita dapatkan di tempat lain, kadang. ia hendak memberi ajaran bahwa masa berkumpul bisa menjadi jembatan masa, dimana "cinta kolektif" itu dilelehkan dalam pot (melting pot). ia musti dikenang.

saya hendak berkata ini seperti family sentris, ia selalu mengajarkan bagemana mengikat kebersamaan, saling mengenang dan mengingat. anasir seperti ini sudah mengendap dan dialami semua orang apalagi di Indonesia. lihat bagemana moment lebaran atau pesta perkawinan.

Untuk memahami apa yang dimaksud dengan terkenang-kenang ini, saya mengingatkan sebuah tulisan di Basis, Keluarga: Bahtera yang sudah karam. tapi jika ia karam mengapa masih banyak yang ingin menumpanginya?

"begitu selesai menikmati kekaguman kakek-nenek-tante-om atas cucu atau ponakan yang lucu, pusinglah ayah-ibu" kata Sieger.

"keluarga adalah pertanyaan" ucapnya lagi.

tapi ia tidak juga benar sekali, ia lupa bahwa kekaguman menikmati bersama tatkala "mengingat dan mengenang". ini Indonesia, dimana solidaritas mekanik masih terasa bersemayam dihati sesama yang merasa sekeluarga. ruang sosial masih terasa dekat walau orang jauh dalam ruang dan waktu.

prahara memang akan muncul dalam keluarga seharmonis apapun itu. tapi "mengenang" dan saling "mengingat" akan mewarisi kebersamaan diantara arus waktu yang kadang meluruhkan rasa cinta.

ijinkan saya mengutip penggalan surat-surat nokturnal dari Basis itu;
Mbak,

Di tebing sungai yang rumputnya tercabut oleh arus deras waktu, kutemukan sepucuk surat pendek tak bertanggal, tak bernama, tak berasal tempat. surat kepada seorang teman yang juga tak bernama. saya kirimkan saja surat ini untukmu, sambil membayangkan engkau duduk di depan jendela kamar yang buram oleh embun musim gugur suatu negeri di belahan selatan yang mulai membeku...gelombang waktu seperti mau mengoyak semua hubungan yang masih tertinggal...(Karlina Supelli, Basis, 2003).
[tiba-tiba saja terbesit mengirim surat kerinduan pada mereka keluarga saya diseberang pulau...]

----------
Ponakan-ponakanku, betapa saya ingin hadir diantara lingkaranmu...





Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...