Tuesday, January 17, 2012

Galau

GALAU. entah kapan kata itu hadir dalam kamus kehidupan manusia. kata itu sering ditemukan di dinding jejaring sosial; facebook atau twitter. ia bisa menyerang manusia kapan saja. kadang muncul dalam bait "aku galau" juga kadang dalam bentuk pertanyaan seakan-akan meminta nasehat "kalau lagi galau, musti ngapain ya"? sederet pertanyaan itu merasuki hidup manusia. dan akhirnya menyebar. galau berjamaah.

Galau dalam kamus bahasa indonesia mengandung arti: beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran).

Saya memakai kata, kacau tidak karuan. mungkin lebih mengena daripada beramai-ramai.Galau memenuhi ruang manusia yang lebih dekat dengan ketidakkaruan pikiran. menurut saya orang-orang di kampung jarang menemukan orang yang galau [kalau orang gila memang iya]. dan menariknya orang yang sering (merasa) galau lebih banyak di perkotaan. mungkin karena di kampung jarang memakai facebook atau twitter.

Galau akhirnya tidak mengenal status sosial, ekonomi bahkan usia. ponakan saya yang masih SMP malah sering merasakan galau (terlihat di dinding facebooknya). entah, anak-anak sudah bisa merasa galau.

Tapi bukan hanya anak kecil yang merasakan galau, orang dewasa bahkan orang tua sering menuliskan kesan galau di dinding jejaring sosialnya.

Lantas mengapa orang (selalu) merasa galau? mungkin sekedar mencari sensasi sekedar meminta perhatian? bagi saya, ada faktor lain yang menarik bahwa hidup yang tak tepermanai ini semakin membuat manusia kota (baca: modern) tak memiliki hidup pasti. hidup selalu merasa kekurangan.

cerita ini mengingatkan kita pada Odyseeus yang mengalami banyak cobaan, godaan, hambatan dan halangan. manusia yang hidup dalam dilema.

Diceritakan Odyseus berkat kepandaiannya mampu mengalahkan raksasa jahat dan dewa-dewa yang menipunya namun terjebak diantara ketegangan dialektis antara usaha manusia rasional dan mitos yang terjadi dalam dirinya. Odyseus memang menang namun harus membayar mahal dengan tertatih-tatih dan (harus) menjadi pengemis untuk sampai di Ithaca. Agaknya analogi Sindhunata bisa dipakai dalam kehidupan modern (yang selalu galau). alih-alih hidup di perkotaan yang serba modern membuat manusia bahagia, apa daya, manusia modern malah terjebak dalam ke-galau-an. Meminjam istilah Sindhunata, dilema Usaha Manusia Rasional.

Ah, daripada galau, lebih baik ramai-ramai berkumpul seperti istilah kamus bahasa indonesia itu.

Kalau masih muda jangan suka galau...benar juga kata temanku, lama-lama menulis Galau, saya bisa-bisa ikutan galau kalo begini...:)
Share:

8 comments:

  1. hahayy...hati-hati kena virus galau kak.. :D

    ReplyDelete
  2. kalau menurut pandanganku, setelah galau jadi "trend", tulisan "galau" sering tidak berhubungan dengan perasaan sebenarnya dari si penutur.. ya, ada indikasi, "galau boongan" haha.. karena trend itu.. nice post

    ditunggu kunjugan baliknya.

    ReplyDelete
  3. Dyah: saya lagi masuk dalam kategori itu...hahahah

    salam galau

    @kampng karya: ahahaha...ada yang sering galau dibuat2 di dinding facebook misalnya, tapi kalo saya galau, ya galau beneran...:D

    salam galau mas :)

    ReplyDelete
  4. syukur deh mas kalo galau beneran.. hehe.. biasanya sih para abege yang baru kepincut sosial media.

    ReplyDelete
  5. ahahaha...saya jadi ingat akronim temen, ABABIL (Angkatan ABG Labil) :D

    sukses trus dengan puisi2 mas...slalu menginspirasi anak muda. salute

    salam galau

    ReplyDelete
  6. haha.. kaya singkatan itu cocok banget.. bwahaha saya gak pinter berpuisi..
    liatliat postingan baruku ya,,

    salau galon eh galau

    ReplyDelete
  7. Lagi galau yah kak? #eeaa hhhhaha...

    ReplyDelete

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...