Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. e-mail: pattahindi@gmail.com

Penantian

“aku ingin hidup seribu tahun lagi” pinta Chairil Anwar

“itu mustahil” Five For Fighting menyela,
"kamu hanya bisa diberi berkah hidup seratus tahun saja"
Musik pengantar mengalun...
“...Every day's a new day
Fifteen there's still time for you
Time to buy and time to choose
Hey fifteen, there's never a wish better than this
When you only got hundred years to live”
Jeda...
“Tapi aku mampu menanti”
“Sampai beribu tahun pun aku rela” lirih Cristina Perri dalam Sountrackt Breaking Dawn.

Musik romantis pelan-pelan mengakhiri debat
“...I have died everyday
waiting for you
Darlin' don't be afraid
I have loved you for a
Thousand years
I'll love you for a
Thousand more...”
Waktu begitu puitik. Berjalan menjadi penggalan kisah-kisah yang kadang cepat kadang terasa lambat. Serelatif waktu Einstein...Ya, Hannah Arendt ada benarnya, waktu hanyalah penggalan kisah-kisah.

---
percampuran sempurna; waktu, musik dan hayalan kosong

Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

2 comments:

  1. Hahahahah, ini medley syair sm lirik lagu disambung2 dan nyambung... mantap kakak!

    Kalau kata Emha, "ambillah aku sewaktu-waktu" mau itu besok atau seribu tahun yah terserah, kan cuman persoalan waktu sj #eh nyambung nd yah :p

    ReplyDelete
  2. hehehehe...ini dipaksakan nyambungnya syam. sy suka kata2 mantra Emha "ambillah sewaktu-waktu"

    salam hangat. slamat menikmati minggu

    ReplyDelete

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...