Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. email:pattahindi@gmail.com

Klasik

--tak hanya sekedar tiki taka juga joga bonito, tapi tentang intrik yang kadang penuh fiksi dalam duel el-clasico

Karena bola orang menangis, karena bola orang tertawa dan karena bola juga persahabatan tak lagi cair.

syahdan, Dia menyukai AC Milan saya tim sekota, Inter Milan. Saya pengagum joga bonito Madrid, dan dia penyuka tiki taka Barcelona.

Tak ada yang bisa menyatukan, mungkin jika ada, karena kita sama-sama penggemar bola, selebihnya tidak. selalu berhadap-hadapan, vis a vis.

Bola membuat saya menyukanya, juga karena bola dia menyukai saya. Dan akhirnya bola juga yang membuat perpisahan sebagai sahabat dan juga sebagai orang yang saling mengagumi.

Saya menyukainya karena dia penyuka bola, mungkin lebih dari itu juga.

Ketika pertandingan el-clasico Barcelona vs Real Madrid atau della madonina Milan vs Inter tak pernah lupa saling mengembosi. Psy war tak pernah berhenti menjelang hingga berakhirnya pertandingan.

Lalu bagemana dengan el-clasico? Ini pertemuan yang akan bermakna sakral bagi setiap Madridistas dan juga penikmat Barcelona, pertemuan berjilid ke-216 ini menjadi pembuktian, tensi, intrik dan sajian sepak bola indah sudah tentu menarik jutaan mata termasuk dia:

“Klasik: sepakbola tak pernah berhenti sekadar hanya menjadi sebuah “permainan”, tapi selalu berpotensi terangkat menjadi sebuah “kisah” – yang melahirkan banyak tafsir, banyak kemarahan, kekecewaan, rasa senang, terkadang bahkan rasa jijik untuk sepotongan scene fiktif yang dilebih-lebihkan”

Saya menyukai potongan cerita bola dari bloger [pejalanjauh] ini.

Sayangnya dia bukan Madridsistas, walau saya menyukai analisisnya yang melebihi komentator bola di tivi-tivi. Ceritanya juga mengingatkan tentang kemarahan seseorang (yang pernah saling mengagumi) kala laga Madrid vs Barca.

Melihat pertandingan klasik seperti ini saya selalu teringat kisah filsuf yang bermain bola yang dihadirkan secara satir Monthy Phiton:

"Hegel gagal memimpin para filsuf Jerman lainnya menundukkan pasukan pemikir Yunani yang dikomando Socrates. Gawang Jerman yang dijaga Leibniz bobol oleh tandukan Socrates yang mendapat umpan silang Archimedes di menit ke-89. Masuknya Karl Marx menggantikan Wittgenstein tak mampu mengembangkan permainan tim yang dilatih Marthin Luther itu. Gol tidak sah, Socrates dalam posisi off-side,” teriak Marx. Pertandingan yang dipimpin Confucius dengan hakim garis Santo Agustinus dan Santo Thomas Aquinas itu keburu berakhir".

Saya tak ingin pertandingan ini berakhir imbang. dan 2-1 sudah cukup untuk 'membalas dendam' Madrid.

“Barca, untuk saya, telah kembali menginjak bumi. Dan sepakbola, jelas, bukan untuk para santo”

pejalanjauh dan dia (yang telah menjadi sahabat) tidak tahu bahwa yang ia bela hanyalah tim Katalunia, tim yang baru saja menginjak bumi (karena tiki taka Xavi, Iniesta, dan Messi), mereka mungkin lupa yang Barca lawan adalah los galaticos, tim galaksi, sekumpulan pelukis bola dari dunia yang lain (Ronaldo, Higuain, Benzema dan *Malaikat* Angel Di Maria), tim yang ditakdirkan turun dari langit untuk bermain bola.

dan untuk saya, Madrid adalah pesona...

-----------------------------

catatan:

  • Saya menunggu kekalahan Barca subuh nanti...
  • Biarlah dia membenci saya dalam sepak bola saja

Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga untuk sahabat yang berkenan menuliskan komentar kritisnya...salam bahagia