Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. e-mail: pattahindi@gmail.com

Warisan Dari Dunia Yang Hilang

INDONESIA ibarat benua yang hilang (the lost continent) dalam percaturan budaya dunia. untuk itulah pewaris mencoba menggali kembali sejarah kebudayaan Indonesia dalam buku :

"Ahli Waris Budaya Dunia : Menjadi Indonesia 1950-1965"

Di rentang waktu itu, sebagian orang hanya mengetahui tahun 65 yang identik dengan gerakan 30 september yang kemudian dikenal dengan G-30-S PKI. kisah yang berdarah-darah itu merenggut jutaan nyawa dengan waktu beberapa bulan saja.

Buku yang masih 'fresh from di oven' di akhir tahun 2011 ini memutar kembali drama dalam babakan yang silam di rentang waktu yang singkat (1950-1965). Lantas, warisan apa yang penting dari drama yang disebut sebagai 'tragedi' itu? jawabnya mungkin sejarah. Sejarah yang ditulis kembali. Hilmar Farid menyebutnya teleologi dalam sejarah.

buku ini menghimpun hasil kajian indonesianis dan sarjana Indonesia tentang riwayat kebudayaan di tahun 1950-1965 an itu.

di tahun itu, dalam buku yang tebalnya mencapai 606 halaman memanfaatkan lanskap Indonesia sebagai cerita. tak hanya tragedi 65, juga perang dingin, hubungan intenasional, aspirasi kolonial hingga terciptanya kehidupan budaya dan intelektual semarak hadir dalam sejarah tahun-tahun itu.

Sebagai catatan, peristiwa tahun 65 menjadi gelora kebudayaan (Lekra-Manikebu) setidaknya menjadi pemaparan pembedah yang menghadirkan penulis sekallgus editor Jennifer Lindsay dan beberapa kontributor dalam diskusi yang disebut bedah buku.

Pembedah yang masih menempuh pendidikan di National University of Singapore (NUS) Hilmar Farid menyebut peristiwa itu sebagai "Benua yang hilang, Indonesia 1950-65". ada kecenderungan utama menurutnya,
"mereduksi seluruh narasi sejarah kepada pertentangan Lekra dengan musuh-musuhnya,terutama Manikebu. padahal tidak ada pertentangan yang berarti, ada pengaburan sejarah di masa orde baru yang menganggap tahun-tahun 65 adalah masa yang 'kacau balau".
Buku ini memang tidak hanya mengangkat cerita PKI sebagai narasi utama, namun banyak kenyataan sejarah yang hadir dihadirkan. buku ini lebih dekat dengan wacana poskolonial atau cultural studies (saya lebih suka menyebutnya buku sejarah), walau kita tahu, Indonesia menjadi narasi kecil dalam wacana postkolonial, beda India atau Afrika. Dunia yang terlupakan dari panggung sejarah.

bahasa buku ini terbagi dalam dua versi, Inggris dan Indonesia. Tentu saja terjemahan dalam bahasa asing itu sebagai upaya menujukkan sejarah kebudayaan Indonesia di tahun 65 kepada dunia.

Tak bisa dinafikan buku ini ada karena sumbangan banyak pemikir Indonesianis maupun bukan; Hong Liu mengurai bayangan RRC dalam bentukan wacana intelektual di Indonesia. Hairus Salim tentang pakistan dan Mesir. Sementara Budiawan membahas pemikiran politik kiri di dunia melayu. Choirotum Choisaan tentang konfrensi islam Asia-Afrika, Tony Day dan Hong Liu dalam esainya perang dingin.

Jenny Lindsay, dalam pengatarnya mengatakan, tujuan buku ini adalah membuka jalan untuk memikirkan penelitian baru dengan pertanyaan yang lebih bermutu. menjadi pertanyaan sekarang mampukah buku ini menjadi pembuka warisan budaya Indonesia dalam konteks sekarang ke mata dunia, siapa yang mewarisi dan apakah hanya ini menjadi warisan satu-satunya?. tak mudah menjawabnya karena bangsa Indonesia sebagian kecil wawasan sejarahnya masih kurang memadai.

Hilmar Hafid mencoba berkata bahwa orang menabuh gendang dan kita ikut menari, sekali-sekali kita (orang Indonesia) jadi penabuhnya. menabuh gendang sejarah ke dunia yang lain. gelora ke-Indonesia-an memang telah ditabuh dalam buku ini.

  • Buku : Ahli Waris, Budaya Dunia, Menjadi Indonesia 1950-1965
  • Penyunting : Jennifer Lindsay - Maya H.T. Liem
  • Penerbit : KITLV Jakarta - Pustaka Larasan 2011


Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

6 comments:

  1. Ampun kak, heehehe... salut untuk km yang bisa melahap buku macam bgini :)

    Kalau yg ada sejarah sejarahnya sy sukanya buku-buku Es.Ito, beberapa tulisannya di blog. selebihnya ampun, yang bginian lebih nikmat di keroyoki (diskusi) dari pada di makan sendiri.

    ReplyDelete
  2. sy pengagum cerita ES ITO. apalagi yang Rahasia Meede (yang tak selesai sy baca krn kebawa teman bukunya). ES ITO jadi salah satu yang harus masuk dalm list bacaan saya untuk novel indonesia...

    mengenai bukunya, kemarin baru beli...blm sempat baca. baru pengantar. krn ada yang musti diselesaikan...:)

    ReplyDelete
  3. betapa inginnya saya membaca buku ini. apa bisa mas patta cariin versi e-book-nya?

    Yusran

    ReplyDelete
  4. kanda yus, kemarin sempat dibilang dua versi. tp hanya Indonesia sementara waktu. karna terkait dengan politik terjemahan (bahasanya hilmar) maka diusahakan dalam dua versi...symasih cari tau kanda...kalo dapat tak kabari kita..

    salam hangat

    ReplyDelete
  5. Sebenarnya membaca buku sejarah atau novel yang ada point history'nya bisa jadi 'mesin waktu' yang akan membawa kita jelajah ruang dan waktu yang berlalu...saya juga suka baca sejarah tapi sudah lama banget gak baca-baca buku yg berisi sejarah...hiks:(

    ReplyDelete
  6. mbak kinanti, sejarah memang agak 'terputus' ketika orde baru berkuasa. tpi dengan buku ini sebagai penyambung kembali sejarah yang hilang...:)

    salam hangat

    ReplyDelete

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...