Wednesday, November 2, 2011

Dilema manusia akademik

Hari ini saya berkumpul dengan teman-teman kampus setelah lama berpisah karena kesibukan masing-masing. Entah sesibuk apa kami hingga pertemuan tak pernah intens lagi.

Semula hanya sekedar acara makan, namun entah, kemudian berubah menjadi acara ‘curhat’. Yang dibicarakan pun jauh dari soal curhat biasa (soal pacar, bola atau apasajalah) malah membahas tesis dan curhat tentang sulitnya pembimbing ditemui. saya pikir, suara teman-teman yang menyusun tesis itu adalah suara sunyi yang terdengar lirih dan hanya didengar oleh mereka sendiri (atau kami). Suara mereka tak didengar. Dan kami berkumpul di malam itu untuk saling mendengar, lebih dari sekedar acara ‘ngumpul bareng’.

Inilah dilema. Dilema akademik yang terus menghantui kampus, tidak terkecuali di kampus-kampus besar di Indonesia. Pembimbing memang telah sibuk. Dan tak lagi mendengar suara kecil dari teman-teman. Saya ingat kata-kata Gee bahwa dosen ibaratnya dewa, saya pikir pembimbing yang juga dosen itu adalah dewa.

Tak ada daya melihat semua ini, karena mereka hanyalah bagian kecil yang dibutuhkan dalam kelas sebagai pelengkap administratif/akademik. Bimbingan kadang seadanya (mungkin juga tidak dibaca), saya pun berasumsi, rendahnya kualitas karya akademik mahasiswa di Indonesia (bisa jadi) karena tidak ada perhatian yang besar dari pembimbing dalam membaca karya ilmiah anak bimbingannya.

Pendidikan hari ini memang tidak ada perubahan. Sejak saya kuliah S1 pun seperti itu. Ivan Illich yang dianggap pemikirannya radikal pernah bilang bahwa seharusnya kelembagaan pendidikan (sekolah, universitas) itu dihapus karena kurang realistis sehingga butuh perubahan radikal. Walau pemikirannya banyak mendatangkan simpati di dunia ketiga namun tak pernah ada yang mau menerima dalam bentuk penerapan ide Illich. di Indonesia pemikirannya masih sekedar simpati.

Kondisi pendidikan kita tak ubahnya mobil yang sedang ‘sakit’ dan butuh penyembuhan. Kita hanyalah penumpang yang tidak tahu arah dan tujuan si sopir. Teman-teman saya memang terlalu berharap untuk segera meraih master. Saya paham. Kuliah di kampus-kampus terbaik di Jawa memang bukan modal kecil. Semakin cepat selesai semakin baik. Tapi ketika kondisi dihadapkan seperti ini? Bimbingan jadi kacau balau. Lantas siapa yang mau di salahkan? Dimana mau curhat? Dimana mau mengadu dan dimana?. sebenarnya, teman-teman saya tidak harus larut dalam galau seperti itu (walaupun tidak ada yang salah mereka mengeluh). Toh, pendidikan memang mahal tapi pengetahuan yang didapat sedikit, malah mungkin lebih banyak pengetahuan diperoleh dengan membaca buku-buku atau diskusi di luar kelas. Seolah-olah pendidikan memang tidak demokratis.

Mengharap terlalu banyak pada pendidik (an) memang membuat teman-teman saya kecele. Saya ingat kata Manuel Kasiepo dalam majalah Prisma yang sudah lusuh, memberi terlalu banyak harapan (dan juga tuntutan) kepada pendidikan, dapat menyesatkan.

***

Tidak ada yang benar dari keluhan tentang pendidikan ini. Disini hanyalah suara-suara sunyi dari orang-orang yang mau cepat wisuda. Mereka tahu, berbicara disini hanyalah pelepas lara. Inilah curhat para akademikus yang tak berujung pangkal. Dari pertemuan inilah mereka merefleksi diri...


Share:

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...