Wednesday, October 19, 2011

Yang tersisa dari kerajaan Binamu

Pohon asam berusia ratusan tahun dengan setia meneduhi makam dari batuan andesit itu. bentuk makam yang khas raja-raja dulu. Undakan dan relief seperti menuliskan sebuah cerita masa silam yang dihadirkan dalam pesan Lontaraq (naskah kuno).

Menyusuri pemakaman kuno yang pernah direnovasi tahun 1982-1984 ini terhampar jalan setapak, batu-batu cadas tampak tersusun rapi tertata dari gerbang hingga ujung makam. Dari jalan ini terlihat dekat makam raja-raja beserta keluarga kerajaan tetirah.

Saya meninggalkan mereka (penjaga makam dan teman) jauh. Menyusur masuk dalam relung-relung makam. Saya berjalan sendiri. Ada semacam realitas lain yang hadir—magis, dan mistis—bertualang di dunia yang sunyi. Makam ini sudah berusia ratusan tahun, sambil menunjuk di bawah pohon asam. Dg. Sikki—penjaga makam dari dinas purbakala Jeneponto menjelaskan sejarah panjang makam. sesaat kemudian sambil mendekatkan diri di sisi saya.





Makam yang menarik mata, berundak tiga dan berelief—Ayam jago, singa, dan kuda—konon raja di pembaringan ini suka menyaung ayam, tobarani (pemberani) dan suka berburu jonga (rusa). Memang, makam raja-raja dulu pada umumnya selalu bercerita tentang keseharian, berhubungan dengan kebiasaan. Itu sebab setelah mangkat, diabadikan dalam bentuk relief. lontarak sebagai naskah lama banyak menyitir keseharian para raja-raja. saya kira naskah lama ini memang lebih banyak menulis keseharian penguasa. Mengagumkan.




Sore memang tak henti-henti meminta beranjak. Pulang menyusuri kembali setapak dengan taburan batu-batu cadas sepanjang menuju gerbang makam. Titik akhirn perjalanan yang sempurna. Saya tak henti-henti memikirkan kesunyian makam yang indah itu, mampu bertahan ratusan tahun. Juru kunci makam mengantar sampai ke gerbang dengan menawarkan ballo' manis (minuman tradisional Jeneponto). Dalam suasana yang menakjubkan ini ada perjalanan yang lebih dari sekedar tujuan melihat makam raja-raja Binamu. Tapi ini adalah penanda yang tersisa, bahwa Binamu pernah menjadi satu kerajaan besar di Jeneponto. Begitu layak untuk dikenang.

*Catatan yang telah lewat, agar tak hilang--saat siang 280911
**narasi dan foto : Patta Hindi
Share:

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...