Tuesday, October 4, 2011

Sepatu ungu


Sepatu ungu
Karena kau, langkahku meragu
Saya membayangkan, kau kembali menjumpaiku seperti kemarin sore. Saat matahari perlahan-lahan meninggalkanmu. Saya tidak tahu pasti, kapan aku memulai melihatmu memakai sepatu ungu. Mungkin sekali ataukah mungkin hanya dalam sangkaanku saja. Walau kau tak menyadarinya, saya selalu memperhatikanmu. Saya menyukainya. Tak peduli kau menyukai caraku atau tidak. saya tidak butuh interupsimu atau keluhanmu saat ini. Yang saya butuhkan adalah menanyakan keadaanmu. Apa kau baik-baik saja, masihkah sepatu ungu masih kau lekatkan di kedua kakimu?

(Sejak itu saya pun menyukai ungu—mencoba memakai ungu dengan batik ungu khas Jogja bermotif parang rusak, juga sweter ungu bergaris putih—warna yang sebenarnya asing bagi saya, mengingat saya penyuka putih. Tapi sejak kau memakai ungu. Yang kulihat semuanya pun ungu *hmmm...mulai berlebihan pujiannya*).

Teringat saat senior saya berkata, wanita yang tidak suka memakai hak tinggi. itu salah satu ciri wanita yang tipenya “pelari”, suka tantangan, dan penuh hasrat. Saya anggap kau tipe yang penuh hasrat dan berpandangan ke depan. Kau perempuan yang suka mengejar mimpi.

Saya tidak pernah melihatmu memakai sepatu kasual, atau hak tinggi, yang kulihat waktu itu hanyalah sepatu vinci (saya tidak tahu ejaan itu sudah benar?). lucu juga. Sederhana dan anggun. Sayapun larut dalam imajinasiku tentang ungu—tentang dirimu yang kulekatkan diruang terdekat. Disampingku.
Dan sepatu ungu
Hanya kau yang ada dalam waktu (ku)
Jika hanya memandang satu warna saja (ungu misalnya) maka yang terjadi meminggirkan warna-warna yang lain. padahal memilih warna berbicara tentang selera dan kesukaan. Tapi bagi saya, kau tidak hanya memakai warna berdasarkan seleramu saja tapi selera orang lain telah kau rasuki. Itu yang membuatmu disenangi. Tidak banyak yang bisa sepertimu. Mampu memilih warna yang ‘teduh’ untuk semua orang. Mengorganisasikan (memadukan) antara baju, jilbab dengan sepatu ungu bukanlah perkara gampang. Ungu adalah warna yang ‘jlimet’. Tidak netral seperti hitam atau putih. Tapi kau bisa mengombinasikannya.

Terlepas kau dekatkan warna ungu pada kakimu, itu sudah membuatmu dipuja. Mungkin semua warna akan cocok denganmu. Tapi dengan ungu terlihat (hampir) tanpa cela. Saya ingin dekat seperti ungu yang kau pakai, tapi bukan untuk dijadikan alas kaki tentunya...

Makassar, 051011

Share:

2 comments:

  1. unyu..unyu..ya kakak.. hihihihi

    btw ini blog baru ku kakak.. yg dulu tidak kupake mi. :D

    ReplyDelete
  2. hmmmm...lama tak jumpa dyah...

    siap2 di link kembali

    gimana kabar dek?

    ReplyDelete

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...