Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. e-mail: pattahindi@gmail.com

Pohon asam dikelokan jalan

Selalu saja ada yang tak lupa dikenang, perjalanan dengan pemandangan pohon-pohon asam yang rimbun dan berbaris rapi disisi jalan masih layak dikenang ditempat ini. Paling tidak apa yang terlihat di Camba, Maros, dan juga perbatasan antara Takalar-Jeneponto Sulawesi Selatan.

Perjalanan ini setidaknya menyisakan cerita subyektif yang kemudian saya lekatkan kembali dalam waktu yang telah lewat.

Menakjubkan namun ironis, pohon asam yang dulu sengaja di tanam di simpang kota di Indonesia sebagai penghijauan/peneduh di zaman Belanda—kini tak kita temukan lagi di kota—tapi masih lestari di desa/kampung walau sudah menyusut sedikit demi sedikit.

Kenangan yang tak bisa terlupakan ketika dari Camba menuju Makassar, daun-daun hijau dengan yang selalu terlihat hijau royo-royo itu masih nampak rimbun dan berdiri kokoh di sisi jalan, daunnya yang lebat membentuk seperti terowongan. Saya seolah-olah memasuki relung-relung bangunan, begitu sepi, sunyi, dramatis sekaligus romantik. Nuansa itu ada ketika menyusurinya di pagi hari, ketika matahari pagi belum muncul betul.

Begitu juga ketika melewati Takalar menuju Jeneponto, pohon asam bertahan ditengah keringnya tempat itu. berbeda dengan Camba, pohon (yang sudah tua) itu berjarak dan tidak menyatu membentuk seperti terowongan namun masih selalu meneduhkan.

kita tahu, pohon asam digunakan sebagi pohon pelindung matahari, yang dulu banyak di tanam pada masa kolonial. Entah karena daunnya yang kecil-kecil, ketika terhempas angin akan mudah jatuh dan mengotori jalan sehingga dimusnahkan.

Kini, agak sukar pohon-pohon berdaun kecil itu akan bertahan lama sebagai ‘penghias’ jalan dan peneduh. Kalaupun itu bertahan, mungkin kita akan melihatnya hanya di Camba atau di kampung-kampung. Selebihnya mungkin jarang lagi ditemukan. Agaknya memang demikian, pohon asam hanya bagus untuk dikenang, bukan tidak mungkin, pohon asam hanya cocok sebagai peneduh dan penahan polusi, untuk nilai estetis terkesan jauh dari itu.

Apa boleh buat. Pohon-pohon kokoh yang meneduhkan itu memang layak dikenang sebagai pohon yang mampu menyerap polusi dan juga penghijau dari tempat-tempat kering dan gersang. Dan hanya disitulah, di tempat kering itulah pohon asam itu hidup dan menikmati kebebasannya.

Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

2 comments:

  1. rajin sekali kk mengamati. Tapi benar juga..pohon asam memang sudah jarang ditemui, padahal banyak cerita menarik tentang pohon asam (bagi saya). Tulisan kk ini jadi bikin saya pengen nulis juga ttg pohon asam ^_^

    ReplyDelete
  2. benar dia, saya sudah baca blognya yang berhubunbgan dengan pohon asam. agaknya memang benar, pohon asam juga banyak menginspirasi orang...:)

    slam berbagi dyah...

    ReplyDelete

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...