Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. email:pattahindi@gmail.com

Sasha

Nona muda itu keluar dari kamar hotel di Jl. Topaz Makassar. Nona muda itu hanya menggenakan handuk sebagai penutup tubuhnya yang sintal. ia keluar dari kamar sambil berjinjit-jinjit dengan cueknya, berjalan pelan diantara tamu hotel. Keluar membeli sesuatu di warung sebelah hotel.

Saya tercengang, nona muda itu tidak merasa risih ataupun malu mengenakan handuk sebagai penutup badannya. Ya ampun, di kota ini masih ada yang memakai pakaian secuek itu. hanya mengenakan handuk. Tapi saya paham. Ini tempatnya orang-orang malam. Semua yang sering ke tempat itu pasti sudah menjadi hal biasa. Mungkin karena saya orang baru datang ke tempat itu, maka bawaannya kaget melulu.

Mata saya pun mengikuti nona muda itu. bulir-bulir keringatnya masih nampak. Ada lelah diwajahnya. Sesekali saya mencuri pandang. Nona muda itu mungkin tahu, mata liar saya memandang tubuhnya yang sintal dan seksi.

Selang beberapa menit, nona muda itu masuk ke hotel. Dan ternyata ke pergok oleh mami-nya.

"Sasha, kenapa pakean begitu, tidak sopan” mami menegur Sasha dengan muka tidak sedap.

Terlihat Mami sangat perhatian dengan nona itu, mungkin karena Sasha paling cantik dan disukai pelanggan. Nona muda itu pun hanya senyum sembari meninggalkan mami-nya dan masuk ke kamar. Aroma tubuhnya saja yang terbawa angin. saya menghirupnya dalam remang malam. Aroma itu kemudian berlalu seiring pintu kamar Sasha tertutup.

***
Dunia malam seperti ini, hitam dan putih kadang sulit dibedakan lagi. Bercampur yang akhirnya menjadi abu-abu. Surga dan neraka hanya dipisahkan sebatas keyakinan individu saja. orang mencari kenikmatan yang tidak bisa diberikan ditempat lain. Walau sejenak. Tapi membuat kenikmatan sementara.

Bagi kaum laki-laki yang setiap detik, menit dan jam terbayang seks. Tempat ini bisa menjadi penawarnya. Laki-laki tua, dan muda tersenyum dan terlihat santai di lobi hotel. Tampak mami (nya) Sasha menawarkan brownies kepada pemuda itu. terlihat akrab. Saya tidak tahu apa yang dibicarakan dalam interaksi hangat di lobi hotel itu. suara house music M-Club di samping hotel mengganggu pendengaran saya.

Saya membayangkan kembali Sasha, sedang apa dia dalam kamar. Dia muda dan cantik. Pikiran saya yang parno berfikir tidak rasional lagi. Diliputi pikiran negatif (kotor). Saya langsung teringat kata Sindhunata dalam Burung-Burung di Bundaran HI. Ia mengisahkan perempuan di lokasi pelacuran Kramat Tunggak Jakarta. Ia berkisah :

Wanita dilengkapi dengan keindahan pada masa mudanya. Maksudnya hanya untuk satu “bisnis” saja. yakni bercinta. Sesudahnya, ketika ia telah melahirkan anaknya, ia seperti semut betina setelah masa suburnya. Ia kehilangan sayapnya, seperti wanita itu kehilangan keindahannya.
Agaknya memang seperti itu, Sasha akan kehilangan keindahannya setelah terhisap habis oleh mami dan laki-laki. Tak ada daya. Lagipula Sasha menikmati transaksi setiap malamnya. Saya tidak tahu apakah ia menikmatinya dengan rasa CINTA? Entahlah. tapi bagi saya, air mata sebagai bunganya. Dan saya meneteskan air mata jika keluarga atau orang dekat yang berada dalam posisi Sasha. Saya hanya mampu berempati.

--saat menemani teman mencari penginapan di Jl. Topaz, belakang komplek Ramayana, Makassar 250911
Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga untuk sahabat yang berkenan menuliskan komentar kritisnya...salam bahagia