Prasangka - lumbungpadi

Prasangka

Tak ada sesuatu yang tak terduga sebelumnya. Sesuatu sudah diduga pasti. Orang berbicara dengan tanda-tanda. sama halnya prasangka selama ini. Datang dengan duga-duga.

Syahdan, ada pengalaman menarik selama berteman dengan beberapa teman di kampung. Saya sebut saja sahabat yang baru saja saling mengenal (paling kasarnya saya sok kenal) di Kendari. Saya berteman baru. Berawal dari facebook dan BBM-an. Tidak puas sampai disitu. Saya memberanikan untuk kopdar. Sesuatu yang jarang saya lakukan, baik untuk mahasiswa yang saya ajar ataupun perempuan yang saya kenal di dunia maya.

Awalnya berjalan seirama, namun ditengah perjalanan, saya memilih jalan yang lain. Saya merasakan ada yang berlawanan dengan dunia mereka. Saya tidak tahu bahasa apa yang cocok, mungkin bahasa sehari-hari bagai air dan api, atau air dan minyak. Dikotomis.

Perasaan saya lain dalam pertemanan saya itu. saya memang tidak pernah betah atau lama-lama bersama perempuan yang baru saya kenal. Ada rasa ketidakpercayaan diri. (padahal saya terbiasa dengan mahasiswa di kelas) tapi waktu itu, entah. Nalar, perasaan dan raga serasa terkunci. Mungkin karena mereka saya anggap orang kaya (dan memang mereka kaya). Saya tidak tahu. Saya tidak merasa enak berteman dengan orang-orang kaya. saya terlalu dangkal. Saya lebih senang berteman dengan orang-orang yang sesama nasib--orang dipinggir jalan, kelompok minoritas atau yang terpinggirkan. sesuatu yang lucu juga naif dalam diri saya ini. Mungkin. Tapi itulah kenyataanya dalam kopdar itu. semuanya berantakan. gagal total.

***
Lama saya tertegun, tak percaya dengan peristiwa itu. akhirnya pertemuan itu pun hambar. tak berasa, tak pernah cair. akhirnya sejak itu tak adalagi komunikasi padahal jarak rumah saya dengan mereka hanya dipisahkan jalan beberapa meter saja, perpisahan pun tanpa say hello.

Saya tidak tau bahasa apa yang musti menghubungkannya dengan peristiwa itu. mungkin karena kekayaannya membuat saya mengambil jalan lain. saya tersentuh dengan bahasa GIE, “saya miskin tapi bukan gembel”. selagi-lagi tidak nyambung. tidak berkorelasi antara persahabatan dengan kekayaan. lagi pula kami hanya bersahabat. tapi prasangka akhirnya sudah terpatri kuat-kuat. tak adalagi jeda. sudah titik. PRASANGKA.

Terlalu jauh saya menghubungkan itu. Saya anggap telah terjebak dalam logika prejudice-logika prasangka. Saya mempelejari ilmu interaksi dan saya memahaminya dengan baik. Namun tak merefleksikannya dalam kehidupan sehari-hari. Maaf saya hati...maafku untuk kalian. maaf sepenuh hati.

***
Terkadang orang baru dianggap sebagai bagian dari outsider dan memang seperti itu. kadang prasangkakupun muncul seperti itu pada tiap pertemuan-pertemuan itu. Muncul AKU dan KAMU tidak berbicara KITA. Menganggap saya liyan (other), outsider, dan bahasa lain yang bisa membahasakan bahwa saya bukan siapa-siapa. Jadi berhenti berteman. Dalam hati saya pun selalu berkecamuk. Perang bathin selalu muncul.

Memang selalu siap dengan kondisi yang ada. Kemungkinan terburuk adalah menjalani tanpa ada apa-apa. Memutus pertemanan adalah jalan terbaik barangkali. Dan mungkin ini perjalanan yang sudah diduga sebelumnya. pertemuan yang berantakan dan perpisahan yang menyedihkan.

-akhirnya akan tiba pada hari yang biasa, perkenalan yang biasa, pertemuan yang biasa dan menjadi sesuatu yang biasa-biasa pulan,

--saat perang BBM-an, Kendari 060911