Tuesday, September 13, 2011

Menemukan tulisan di Harian Fajar

Jika bukan adik tingkat saya, bisa jadi tulisan yang dimuat pada--edisi budaya, harian fajar-11 September 2011 di halaman 35--tidak akan saya baca lagi. Dibagian apresiasi itu tulisan saya dengan tajuk "mudik bukan sekadar tradisi" akhirnya dimuat. kembali menjadi hiburan setelah prahara sabtu itu. tulisan itu saya kirim setahun lalu, namun entah, baru 2011 termuat.

saya bergumam, mungkin karena daftar antrian atau mungkin baru kali ini tulisan itu menemukan momentum. saya senang, padahal tidak berharap lagi tulisan itu dimuat. tapi ternyata teks mampu menembus ruang dan waktu. seperti dalam tulisan saya itu. bisa dimuat setelah menunggu waktu yang panjang, 12 bulan. satu periode pergantian tahun. luar biasa penantian itu. saya tak akan lupa.

saya senang karena yang menerbitkannya koran lokal yang tergolong laris ini di Makassar. memiliki pembaca tidak sedikit jumlahnya untuk kota besar seperti Makassar. Saya senang

Tulisan atau teks itu akan bertahan lama, melampaui usia penulis dan saya ingin seperti itu.
Ada keceriaan ketika tulisan dimuat. saya tak pernah mengambil honor, belum waktunya berbicara materi bagi penulis seperti saya yang masih belajar. Saya hanya menyenanginya. saya akan terus menulis.

Verba Vollen--teks yang akan abadi.

--di Pettarani menuju rumah Jl. Cilallang Jaya VII. saat itu memakai sweater ungu, 100911
Share:

3 comments:

  1. lama bener yak penantiannya...,tp alhamdulillah akhirnya bisa dimuat.Menemukan karya sendiri dan bisa dinikmati khalayak menjadi hal yang menyenangkan.

    ReplyDelete
  2. lama bener yak terbitnya..
    teks memang Abadi...smangat...

    ReplyDelete
  3. teks memang abadi...,akhirnya tulisannya bisa terbit..meski rentang waktu yang lama.smangat..:)

    ReplyDelete

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...