Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. e-mail: pattahindi@gmail.com

Jika saja filsuf bisa main bola

Hegel gagal memimpin para filsuf Jerman lainnya menundukkan pasukan pemikir Yunani yang dikomando Socrates. Gawang Jerman yang dijaga Leibniz bobol oleh tandukan Socrates yang mendapat umpan silang Archimedes di menit ke-89. Masuknya Karl Marx menggantikan Wittgenstein tak mampu mengembangkan permainan tim yang dilatih Marthin Luther itu. Gol tidak sah, Socrates dalam posisi off-side,” teriak Marx. Pertandingan yang dipimpin Confucius dengan hakim garis Santo Agustinus dan Santo Thomas Aquinas itu keburu berakhir.
Diatas bukan cerita nyata, petandingan sepak bola antar filsuf itu hanya terjadi dalam dunia fiksi. Cerita tersebut ditulis dalam bentuk komedi satir karya Monthy Phiton tahun 1970 (dikutip ruang baca Tempo/22/06/2006). Jika pertandingan ini nyata, tentunya akan menjadi pertandingan yang sangat menarik dan ditunggu-tunggu.

Satu hal yang menurut penulis petik dari cerita satir itu : sepakbola sangat dekat dengan manusia. Olah raga ini adalah bagian sejarah yang melibatkan manusia. Sejak sepak bola dikenal, dan telah mengalami metamorphosis baik dari segi aturan maupun format pertandingan (tidak lupa juga aksi anarkis supporter), namun pencinta sepak bola tidak berkurang malah bertambah sampai hari ini. Tidak ada angka pasti berapa jumlah penggemar sepak bola di jagad raya ini. Namun setiap pertandingan baik antar kampung maupun even berskala professional sepak bola selalu kebanjiran penonton.

Tidak mudah melacak asal muasal sepak bola, beberapa sumber menjelaskan bahwa sepak bola setua umur manusia, olah raga terpopuler ini hadir dalam bentuk baragam yang ditemukan hampir seluruh ruang di planet ini. Adapun anggapan lain, sepak bola berasal dari China (sepak bola tradisional), dan sepak bola modern tumbuh kembang di tanah Inggris.

***
Dalam wacana filosofis, beberapa ahli Filsafat mengatakan bahwa manusia adalah homo ludens (makhluk yang bermain). Kemampuan bermain adalah kekhasan manusia. Dalam bermain, manusia menunjukkan eksistensinya. Ia menghadirkan totalitas diri yang nyata dalam kegembiraan, sukacita, kesedihan. Manusia yang bermain adalah manusia yang bisa meraih kemenangan, menerima penghormatan dan sorak-sorai, tetapi sekaligus pada sisi yang lain manusia yang bermain juga adalah manusia yang tidak dapat menghindarkan diri dari kekalahan, keterbatasan, kekurangan, caci maki dan hujatan. Dalam konfrontasi dua sisi kehidupan inilah manusia mengada. Dikotomi ini selalu hadir dalam sepak bola.

Sepak bola tidak hanya olah raga yang dimainkan 22 orang mengejar satu bola di lapangan. Tetapi lebih dari itu, sepak bola adalah roh, semangat dan ‘agama’ baru. Tidak salah jika salah seorang pengamat menganggap bahwa sepak bola memiliki makna yang luas. Sepak bola menjadi pengikis batas sosial, spirit, supremasi dan juga pembawa pesan damai.

Tak dapat dipungkiri Kaka, Messi, Robben, Ronaldo, Nesta dan Rooney adalah manusia-manusia yang bermain. Sosok mereka adalah ‘roh’ permainan dalam tim masing-masing. Mereka melengkapi pertandingan ala Jogabonito (permainan cantik ala brasil), total football, kick and rush dan gaya Cattenaccio Italia. Mereka menjadi aktor lapangan hijau dalam mencetak bola. Seperti kata filsuf Albert Camus, Gol adalah tujuan akhir.

Dalam sepak bola, semua bisa menjadi rumit sekaligus menegangkan. Semua tidak bisa ditebak di atas kertas. Probalitas selalu ada. Drama selalu tersaji di 90 menit. Permainan ini menyajikan tentang dunia yang mungkin dan tak mungkin, maka disinilah letaknya filosofi sepak bola.


Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...