Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. e-mail: pattahindi@gmail.com

Mengenang guru bangsa - Ki Hadjar Dewantara

Mei tanggal 2 tahun 2011 bangsa kita memperingati hari lahir guru bangsa, Ki Hadjar Dewantara. Tepat jika merefleksi kembali nilai-nilai luhur Ki Hadjar sekarang ini di saat pendidikan kita mengalami dilema. Data unicef.org menyarikan, ada sekitar 2 juta anak-anak Indonesia yang putus sekolah dan dari angka sebanyak itu, 15 persen adalah anak-anak yang berusia 7 sampai 15 tahun. Badan dunia itu mengingatkan setiap tahun diperkirakan 1 juta anak-anak yang akan putus sekolah. Selain putus sekolah, yang patut menjadi perhatian adalah rumitnya sistem pendidikan kita mulai kurikulum, penilaian ujian akhir, infrastruktur, dan pola pengajaran yang monologis juga melengkapi dilema pendidikan kita.

Atas asumsi ini penting kiranya berpaling kepada pemikiran Ki Hadjar Dewantara ( 1889 – 1959) . Semangat yang dibawanya dengan menyatukan lapis-lapis budaya bangsa Indonesia di ranah pendidikan adalah sesuatu yang orisinil.

Persona

Lima puluh dua tahun sejak sang guru bangsa ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Sukarno tahun 1959 setengah abad silam, dan mengenangnya adalah kata yang tepat untuk memaknai pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Dia adalah persona, dilukiskan sebagai sosok yang mampu menanamkan fondasi nilai-nilai universal pendidikan yang selaras dengan alam Indonesia yang ramah dan penuh kehangatan.

Ajarannya sangat penting untuk digali kembali (paling tidak dihayati). Buah pikirannya yang dilukiskan Sindhunata (BASIS, No. 57 Juli-Agustus : 2008) terlihat penting disini : pertama, pendidikan dan pengajaran yang terluhur adalah terkandung dalam kondrat alam. Kedua, untuk mengetahui kodrat alam itu perlulah orang mempunyai wijsheid, atau bersih budinya, yang harus terdapat dari tajamnya angan-angan, halusnya rasa, dan suci kuatnya kemauan, yaitu sempurnanya cipta-rasa-karsa. Ketiga, maksud pendidikan adalah sempurnanya hidup manusia, hingga dapat memenuhi segala keperluan hidup lahir dan batin yang kita dapat dari kodrat alam.

Ajaran Ki Hadjar mengartikulasi bahwa pendidikan semestinya menyatu dengan kultur, keluhuran budi, dan kebijaksanaan. Pendidikan Indonesia yang hangat dan ramah menjadi sesuatu yang penting. Baginya, alam (kultur) adalah sesuatu yang menyatu dengan pendidikan. Simplifikasi alam dan pendidikan ini kemudian muncul dalam filosofi : cipta, rasa, karsa-hadir kemudian pendidikan yang berbudi pekerti.

Tak hanya itu, konsep dinamis Ki Hadjar juga lahir dengan ajaran, ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan) masih menjadi landasan filosofis pendidikan di Indonesia.

Segenggam harapan

Kondisi pendidikan hari ini dengan beberapa kekurangan juga menyimpan sebuah harapan. Merefleksikan semangat Ki Hadjar ke dalam pendidikan yang (hampir) kehilangan arah itu menjadi sesuatu yang niscaya. Beberapa hal yang penting di evaluasi sistem pendidikan kita. Pertama, janji wajib belajar 9 tahun yang mewajibkan 7-15 tahun. Kata “wajib” ini seperti keharusan. Tak menawar-nawar dan tak ditimbang-timbang lagi sehingga pemerintah wajib memberikan pelayanan pendidikan. Kedua, sistem penyeragaman UAN dan kurikulum. Harus diingat bahwa karakteristik wilayah dan infrastruktur tidak sama antara Jawa, Sulawesi, Kalimantan hingga Papua. Masih terjadinya kesenjangan bidang pendidikan antar wilayah di Indonesia ini menjadi salah satu alasan mengapa UAN dan kurikulum masih penting di evaluasi kembali. Ketiga, penanaman nilai-nilai yang sesuai kultur bangsa seperti yang dicitakan Ki Hadjar, yang menyatu antara cipta, rasa, karsa tak bisa dinafikan begitu saja. Karena pendidikan dan budaya tak terpisahkan guna menciptakan keadaban.

Kiranya, pemikiran Ki Hadjar Dewantara semoga bisa menggugah kita untuk bisa lebih responsif terhadap kondisi pendidikan yang melanda bangsa. Harus diakui pendidikan sampai hari ini menjadi persoalan penting karena menyangkut hak banyak orang. Dengan pendidikan diharapkan dapat membuka kesadaran, seperti bahasa Paulo Freire, conciousness (kesadaran) yang akhirnya ‘membuka’ dunia.

Pembangunan pendidikan yang komprehensif yang sesuai dengan cita-cita luhur diharapkan kedepannya dapat mewujudkan tercapainya anak-anak bangsa yang bisa bersaing dan berdaya global. Selamat hari pendidikan nasional 2 Mei 2011.

*telah di muat di koran Baubau pos

Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...