Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. e-mail: pattahindi@gmail.com

Layang-layang dan Ramadhan

Menjelang sore yang dingin di musim kemarau, anak kecil bermain layang-layang di tengah sawah di Kabupaten Magelang. Tidak jauh dari Candi Borobudur. Sore itu memang kering. Sengatan matahari sore tidak menghalangi mereka bermain, padahal waktu itu bertepatan di bulan puasa. Mungkin dengan seperti ini mereka bisa ngabuburit.

Tapi ada pemandangan yang lain di Magelang, di sawah yang masih hijau itu. lanskap yang diwarnai anak kecil bermain layang-layang dengan ukuran besar membuat saya takjub. Saya pun sempat terbawa masa-masa kecil menyaksikan anak kecil itu yang seakan gontai mengikuti liukan batang padi yang tersapu angin, terbawa arus yang menerbangkan layanganya—ukuran layangan lebih besar dari tubuh anak kecil itu—suasana seperti ini jarang saya temukan lagi di Makassar atau Kendari. Bermain layang-layang itu memang dinikmati di sawah, seperti di Bali.

Saya menemukan masa kecil disalah satu tempat yang adem, Magelang. Petak-petak sawah ditumbuhi tanaman tembakau, jagung dan padi itu melengkapi panorama alam yang begitu subur. Anak-anak kecil berlarian di tengan sawah. Setiap momen terekam dalam ingatan saya (sayang tidak sempat mengabadikan dalam foto). Anak kecil itu menghabiskan waktu sembari menunggu berbuka dengan bermain layang-layang.

***
Ditempat yang lain, saya mengenang masa kecil dulu bermain layang-layang di tengah kota, disebuah kota kecil di teluk. Kota Kendari. Bermain diantara jalan raya yang setiap mengancam dengan hilir mudik kendaraan bermotor. Mengejar layangan putus di antara gedung-gedung dan rumah-rumah yang sempit. Tidak lupa membawa tongkat, yang kami sebut penjolo’ untuk mengambil layang-layang yang tersangkut di pohon atau gedung-gedung tinggi. ah, masa kecil itu berlalu. Namun melihat fenomena sore itu memberi obat pelipur lara. Terasa masuk dalam lorong waktu.

Kenikmatan melihat anak kecil bermain di tengah sawah yang hijau itu memberi nuansa berbeda. Entah kapan menemukan kenyataan seperti itu lagi ketika sawah dialihfungsikan menjadi gedung-gedung perumahan atau pertokoan. Tentu akan sulit bermain dengan leluasa (Anak kecil itu tidak berfikir sejauh itu) seperti sore itu. anak kecil itu hanya tahu bermain dan bermain. Mengejar layang-layang yang putus atau Menerbangkannya setinggi mungkin ke udara. Berlari dan mengejar layang-layang.

Ternyata, Ada keajaiban di setiap tempat, di tengah sawah yang hijau itu, sambil bermain layang-layang. Seperti tak mengharap waktu berganti. Ah waktu, kau membawa lagi kenangan !!!

Yogyakarta menuju Magelang menjelang sore, 090811
Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...