Tuesday, August 2, 2011

Ketika Miskin

Dulu, orang malu miskin, jadi orang susah. Saya tidak luput dari malu itu. Dulu, saya malu ketika di kelas sekolah dasar mengaku berasal dari keluarga miskin. Tidak berpunya dan tidak berharta (padahal sebenarnya miskin tapi malu mengaku). Apa yang akan terjadi ? dijauhi. Orang-orang kaya, yang berpunya, yang berduit akan mencari teman dengan latar belakang yang sama pula. Pragmatis tapi itu rasional. Tapi saya masih kecil memikirkan hal itu dulu.

Tapi kini hidup memang berubah seratus delapan puluh derajat. Masyarakat dan orang-orang tidak malu lagi mengaku miskin. liat saat pembagian zakat, sedekah dan lain sebagainya. Orang-orang yang sebenarnya mapan ekonomi masih mengharapkan pembagian juga, paling kasarnya merampas hak orang-orang miskin. Naudsubillah.

Lain tentang zakat, cerita pembagian beras miskin (raskin), orang mengaku miskin hanya untuk mendapatkan beberapa kilo beras. Padahal beras seperti itu adalah beras kualitas rendah. Hanya dikonsumsi masyarakat miskin. Bau dan rasanya memang tidak cocok di lidah orang kaya. Tapi mengapa orang ‘berada’ juga suka menitipkan nama di pak RT ato pak RW ? ini melihatkan bahwa kemiskinan tidak diliat lagi sebagai identitas. Tapi masalah kebutuhan. perjuangan siapa yang akan mendapatkan apa ? jika perlu menyikut lainnya. Kemiskinan tidak lagi soal ‘malu’ tetapi bagaimana ‘miskin’ itu diproduksi untuk mendapatkan keinginan.

hufft...capek juga jadi miskin. saya selalu dengar nasehat ustads, bahwa miskin juga ujian. saya ingin sekali menimpali kenapa orang miskin trus yang diuji ustads ? (tp saya tau, pertanyaan ini hanya cocok keluar dari anak kecil, lugu.)

--Tidak ada lagi malu. Saya hanya prihatin terhadap orang miskin yang diambil haknya. saat ramadhan, semoga bisa berbuat banyak. amin

Share:

2 comments:

  1. Mungkin mereka berfikir, “Mau bagaimana lagi?! Apa-apa sekarang mahal. Dapat beras raskin atau daging kurban itu sangat lumayan. Artinya uang untuk makan bisa dialihkan untuk hal-hal yang lain.”
    Tidak membenarkan, hanya saja hidup memang sedang susah-susahnya.

    Menjadi kaya itu juga cobaan. Banyak orang yang kaya tetapi batinnya tak tenang. Jika diberi pilihan, saya memilih seperti ini saja :) Biasa-biasa saja tapi dikelilingi oleh orang-orang yang saya cintai.

    ReplyDelete
  2. tanpa disadari kadang, orang mengambil hak orang lain(terkadang dianggap lumrah). kalo Marx bilang, jika perut kenyang dunia akan damai... :)

    urusan perut (terkadan) tidak mengenal kata iba...

    semua orang kayaknya neng, kalo dikasih pilihan, pilihannya jatuh pada 'menjadi orang kaya'...:, saya tidak tau, apa hidup orang kaya itu biasa-biasa saja. tapi saya percaya, mbak dweedy telah dikelilingi orang2 yang dicintai...

    salam hangat

    ReplyDelete

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...