Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. email:pattahindi@gmail.com

Jangan lupakan Cina

Foto : Pemuda Cina yang siaga di pasar Beringhardjo tahun 1947-agresi belanda 2
(koleksi pribadi #Monjali)


Mungkin orang Cina hampir (atau kasarnya hilang) dalam ingatan kemerdekaan bangsa, sebagian kita lupa bahwa orang Cina pernah terlibat dalam sejarah perjuangan.

Namun di sore yang kering itu, di Monumen Jogja Kembali (Monjali), terpampang foto orang Cina mengangkat bambu runcing, seakan meyakinkan bahwa sejarah kemerdekaan tidak hanya diisi oleh orang-orang Indonesia pribumi. namun juga etnis lain, salah satunya Cina.

Di dinding monumen itu, terpampang foto dengan nama Chung Hwa Inni Hzueh Hui—yang siaga di depan pasar Beringhardjo Yogyakarta saat agresi militer belanda perta tahun 1947—Saya masih belum lupa. Selain diorama, beragam foto dengan peninggalan sejarah kemerdekaan masih terawat baik. ada yang terselip foto Cina.

Mereka minoritas, maka sedikit sejarah mengulas perjuangan meereka dalam pentas kemerdekaan. Memang sejarah tidak memihak pada minoritas. Penulisan sejarah memang kadang tidak adil, saya masih ingat pesan guru besar sejarah UGM yang juga murid langsung Kuntowijoyo—Prof. Purwanto. Baginya sejarah Indonesia harus didekontruksi. Sejarah sebagai produk penguasa dulu memang menghilangkan hal-hal berbau Cina.

Identitas etnis tidak bisa direduksi. Kalau membuka masa silam, masa-masa reformasi bagemana Cina merasa tidak nyaman tinggal. Cina seakan terusir dari kelahirannya. Bukan hanya itu, penjarahan dan pemerkosaan tahun-tahun itu terjadi. Tidak sedikit china meninggalkan Indonesia waktu itu. masa-masa kelam masyarakat China.

Foto : puisi Chairil Anwar di Tugu Monjali (koleksi pribadi)

Akhir dari itu, Dikisah yang lain, catatan pinggir Goenawan Mohamad—Untuk memperkuat ke-Indonesia-an, elite politik mendesak orang Indonesia keturunan Cina mengubah namanya agar tak terasa “Cina” lagi. Peng-Indonesia-an juga ditujukan ke yang lain. Bung Karno memberi nama baru kepada bintang film Lientje Tambayong menjadi “Rima Melati.”

Konteks sejarah indonesia dan cina bisa bersua dalam konteks sejarah. Dan barulah sekarang ketika era Gusdur, Cina merasa punya kebebasan.


--detik-detik kemerdekaan dan ingatan tersisa tentang Cina
di Monumen Jogja Kembali, 170811



Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga untuk sahabat yang berkenan menuliskan komentar kritisnya...salam bahagia