Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. e-mail: pattahindi@gmail.com

Cinta yang Menunggu

"Kita harus menghentikan kisah ini, orang tuaku akan menjodohkan aku dengan orang lain." ucap N lirih

"hanya alasan itu?" P meninmpali seolah kata itu klise.

"iya, dengan satu alasan, perjodohan tak mampu aku tolak"
Waktu seolah berhenti. Ditempat itu, dimana P berdiri ditepi sungai. Dunia seperti hambar, ricik air hanya terdengar seperti bah yang menenggalamkan harapannya.

Sore itu kembali dikenangnya saat N berkata seperti itu dengan tangis yang tertahan. P mencoba mengenang masa-masa itu. kini setelah beberapa tahun berlalu, gema kata N belum berhenti. Malah semakin kuat. Resonansinya merambat jauh ke lubuk hatinya. tidak seperti saat bertemu pertama N dulu. Dunia penuh bunga-bunga.

P sengaja datang di tempat itu. baik pagi maupun sore. waktu seperti yang disebutnya waktu romantis. Tempat itu terasa damai. Dijadikan sebagai tempat mencari ketenangan--Berada diatas bukit, dirimbuni pohon cemara, dan tumbuhan-tumbuhan tropis. Disisinya mengalir sungai-sungai yang bermuara ke samudera hindia. Disitu, disisi sungai yang bening itu, P dan N selalu menghabiskan waktu senja. Menyaksikan kawanan angsa disaat sore dengan formasi V pulang dari pengembaraan.

ia selalu membacakan sajak dan kata-kata puitis namun tidak picisan untuk N. P adalah lelaki bijak yang pernah ditemui N, hanya kadang cinta adalah persetujuan orang tua. celakanya, jodoh ternyata tidak ditentukan takdir tapi perjodohan dari orang tua. hal yang membuat P tidak percaya lagi takdir cinta tuhan.

Dua tahun setelah perpisahan itu. P belum juga mencari pengganti N, padahal N sudah dimiliki orang lain. Anak pedagang kaya di kampungnya. Kehidupan N dengan gelimang kekayaan tidak membuat N menikmatinya, justru hidup seperti dalam sangkar besi. Kebebasan yang terenggut, tidak ada kata-kata romantis dari P yang dulu selalu menggodanya. Yang membuatnya selalu tersipu malu membuat pipinya merona dan (terkadang) melayang jauh karena sajak yang membuai dirinya.

P datang sore itu. sendiri. Dengan membawa potongan-potongan kertas. Yang telah disiapkan jauh-jauh-jauh hari. Surat itu akan digelantungkan di dahan pohon cemara, kelak N atau orang lain yang datang akan membacanya akan tahu bahwa ada cinta yang tak mengenal syarat. P sengaja menggalantungkan potongan-potongan kertas itu. ia tahu bahwa ia akan mengejar impiannya untuk melanjutkan pendidikan keluar negeri. Jika P kecewa, mungkin tidak, ia hanya mencoba melupakan bayang-bayang N. tidak mungkin ada kesempatan lagi menghabiskan waktu berlama-lama di tempat itu.

Potongan kertas itu ditulis dengan mengutip puisi Joko Pinurbo, “kau adalah mata, aku airmatamu (kepada puisi)”. Potongan puisi pertama itu dikaitkandan di dalam yang pertama. Dahan yang bisa dijangkau dengan tangan. P ingin, puisi itulah yang akan dibaca N (jika ia akan ketempat romantis itu) atau orang lain, entahlah. tapi P berharap jika ada orang yang datang saat sore nanti atau waktu-waktu yang lain, orang itu adalah N.

Kertas kedua, P mengutip esais kesukaannya, Goenawan Mohamad. Kwatrin tentang Sebuah Poci.

"Pada keramik tanpa nama itu

kulihat kembali wajahmu

Mataku belum tolol, ternyata

untuk sesuatu yang tak ada


Apa yang berharga pada tanah liat ini

selain separuh ilusi?

sesuatu yang kelak retak

dan kita membikinnya abadi"

Sore itu angin berembus kencang, sekonyong-konyong menggoyang-goyang dahan cemara. Kertas yang bergelantungan itu terombanng-ambing seperti perahu ditengah ombak besar. Udara sejuk menerpa dadanya yang membusung amarah yang tertahan. Menyejukkan. Sementara malam telah menyapa dengan cepat. Bergegas P neranjak dengan meninggalkan potongan kertas yang belum usai digantung di dahan itu. P menyimpan potongan kertas bertulis sajak di kotak kayu, ia berharap dan mengharap kelak orang yang datang sudi membantu menggantungkan kertas di dahan cemara itu. ia harap orang itu N. mengikatnya, merajutnya dan menggantungnya perlahan-lahan. hingga menjadi pohon kertas...***

Yogya, 220811 --saat mendengar sahabat curhat tentang cinta, diluar kamar, angin mendesing dan saya larut dalam sepi.

***curhat bisa jadi pelampiasan keresahan dari ruang "privat ke ruang "publik"




Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

2 comments:

  1. ada yang menderita Zahir juga rupanya...^^

    ReplyDelete
  2. Bila seseorang pergi, itu karena seseorang lain sudah waktunya datang

    ReplyDelete

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...