Wednesday, July 20, 2011

Terimakasih Ibu...

Di keremangan malam ditahun 2011 berbulan Juli menjelang puasa perempuan tua itu masih bersabar menanti pelanggan. Ketika itu saya dan senior saya lagi apes, sepulang dari toko buku Toga Mas Jl. Gejayan, tiba-tiba ban motor pecah. Diujung malam seperti itu walau Jogja masih ramai, namun mustahil tambal ban banyak buka. malam itu yang ada hanya angkringan, minimarket dan lesehan. Saya mendorong motor dengan tersengal, seraya berharap tambal buka di malam seperti ini.

akhirnya, tak selang satu kilo meter, alhamdulilah, akhirnya ada satu tambal ban buka. Saya masih ingat tambal ban itu : Prisma Motor. Tempatnya kecil namun cukup lengkap, kompresor, bensin botol dan perkakas tambal.

Saya pun memarkir sambil mengharap tukang tambal ban. Saya dikejutkan dengan permpuan tua yang usianya kira-kira 60an. Sambil mempersilahkan motor diparkir standar dua. Perempuan itu sibuk mencari alat pengungkit. Saya berguman dalam hati apa benar perempuan ini yang menambal ?. dan tidak salah lagi ternyata perempuan paruh baya itu mulai mengungkit.
Rasa percayapun datang sekaligus takjub. Perempuan tua itu ternyata penambal ban. Pekerjaan yang kebanyakan hanya untuk laki-laki. Tanpa mendiskreditkan, pekerjaan itu pekerjaan yang memerlukan otot dan tergolong pekerjaan keras. Tapi perempuan tua itu telah melakukan pekerjaan laki-laki.

Saya pun dibuat takjub dengan jawaban bahwa pekerjaan ini telah dilakoni selama 15 tahun. Luar biasa. Saya hanya berkata singkat. Dengan pekerjaan itu ia mampu menyekolahkan anak-anaknya. Saya pun mencoba bertanya, mengapa ia mau melakukan pekerjaan itu ? dia hanya menjawab singkat

“rejeki saya ada disini (tambal ban)”.


Perempuan yang selalu disebut dengan lemah, lembut dan kemayu tidak nampak di malam buta itu. saban malam terus seperti itu. pekerjaan menambal dan membongkar onderdil kendaraan dilakoni sepanjang waktu. Saya pun ingat tulisan Sindhunata dalam Burung-Burung di Bundaran HI (2007) bahwa tanpa perempuan hidup kita tidak ada lagi.

Perempuan adalah sumber ilham. Terlebih perempuan seperti itu. pekerja keras dan tak mengenal kata lelah atau mengeluh. Senyumnya adalah tawa dunia. Selalu menghiasi keremangan malam. Rela menahan dingin dan terik matahari.

Saya pun tak ragu mengutip Byron (Sindhunata, Burung-burung di Bundaran HI, 2007).
“payudara wanitalah yang memancarkan kehidupan ke dunia, bibirnya mengajarkan tutur katamu yang pertama, ia menyeka airmata ketika awal kau menjerit di dunia. Dan keluh kesahmu selalu berakhir di telinganya”


Share:

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...