Thursday, July 7, 2011

Seribu Janji

konon karena orang suka berjanji dan dijanji, maka janji bertebaran di mana-mana. tidak hanya dalam urusan asmara orang suka berjanji, dalam urusan utang-piutang orang senang menjanji, tapi yang menarik sekarang adalah urusan janji-menjanji dalam politik.

syahdan, peristiwa ini kembali saya temukan di daerah Lampung saat penelitian di salah satu daerah. janji-menjanji kembali dimunculkan pada pilkada yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini.

toh, dengan trauma masa pencalegan-2009 masyarakat tidak kapok dengan janji para penjanji (kandidat). inilah yang mungkin bisa disebut masyarakat tanpa kesadaran kritis (kesadaran palsu) menurut Marx, entahlah. tapi dengan trauma janji ini masyarakat masih suka dijanji.

dalam masyarakat yang suka dijanji ini, masyarakat terbuai dengan nuansa utopis dengan harapan janji akan terpenuhi.

"dulu pada saat pilcaleg, kami di janji lampu jalan mas, tapi setelah kandidat itu terpilih, kami menagih janji malah kami yang di cuekin"
cerita mas Ngatimin itu hanyalah sebagian kecil dari cerita pahit dari janji-janji. karena banyaknya janji yang ditebar, tidak heran jika ada lagu milik Broery Marantika, tinggi gunung seribu janji. janji hanyalah janji. janji tinggal janji.

jancimu taroe, dalam frase bugis dilukiskan jika janji tidak ditepati. janji tinggallah janji.

"Bukan janji namanya jika ditepati."
itulah adigium yang sering dimunculkan. janji itu bernama jika tidak dibuktikan. seribu janji melukiskan sesuatu yang jamak, (saya pun tidak luput dengan suka men-janji). termasuk janji manis dari seseorang. seribu janji seperti membilang yang banyak, tak terhingga, seperti seribu bintang, seribu kata-kata. tak terhingga.

***

menjanji dan dijanji adalah sebait pemanis kata untuk menyenangkan hati. orang paling senang dengan janji. yang memiriskan ketika terbuai dengan janji akhirnya larut dengan janji-janji.

perasaan ini kemudian bisa memunculkan bahwa ternyata janji itu bisa memuat kepalsuan. menjadi semata-mata "pil penenang" dalam ketakpastian kehidupan manusia. bagemana dengan orang yang suka menjanji ? entahlah. tapi disini dalam pemahaman bodoh saya dapat melihat bahwa ada keinginan untuk menepati. tapi keterbatasan waktu, dana dan ruang meluruhkan janji itu dan akhirnya menguap.

ada perasaan bersalah bersanding dengan perasaan tidak enak hati. disini orang mengalami dilema. agama dan nilai-nilai kejujuran seakan-akan ditempatkan pada tempat yang jauh sambil mengharap mendekatkan diri dari tempat itu : karena tuhan maha pengasih dan penyayang. manusia sadar bahwa janji adalah utang, dan utang menjadi dosa jika tak terbayar. dan dosa tempatnya di NERAKA. cerita itu seakan-akan sekedar menakut-nakuti. maka percuma ceramah agama, beribadah tiap waktu dan bermuka lugu dan religius. entahlah!.

tentu permasalahan menepati janji tidak semudah dibayangkan, sejauh pemenuhan materi dan degradasi masyarakat jujur (dishonest society) masih belum terpecahkan. seakan-akan kejujuran adalah sebagai "hantu" yang kadang kala di musnahkan namun dalam waktu yang lain dibutuhkan kehadirannya.

imbasnya adalah, terpaksa diperhadapkan pada kemunafikan yang kemudian menuntun seseorang untuk bersandiwara dalam hidup.

mungkin Goffman dalam panggung belakang dan panggung depannya dalam Dramaturgi bisa dikutip disini. manusia dalam mewarnai realitas sosialnya ibarat me-lakon-kan peran dalam sebuah panggung sandiwara.

lidah memang tak bertulang

tak terbatas kata-kata

tinggi gunung seribu janji

lain di bibir lain di hati

lagu Broery Marantika ini mungkin bisa menjadi penawar dari janji-janji itu.


Lampung menuju Jogja, 080711
Share:

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...