Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. e-mail: pattahindi@gmail.com

Nostalgia Terhenti di Alun-alun Selatan

Seakan waktu terhenti di alun-alun selatan. Dibawah padang bulan, saat mengenang masa-masa silam. masa kecil dulu. Nostalgia kanak-kanak itu hadir kembali di lapangan yang selalu ramai itu. Yang membuat kembali mengenang masa kecil tidak lain ketapel lampu berwarna itu. tak habis waktu, berjam-jam melepaskan ketapel berbentuk seperti baling-baling bambu dengan aksesoris led biru, hijau dan merah.

Tak heran jika ketapel berlampu itu laku keras. Yang memainkannya tak lagi mengenal usia : anak kecil, dewasa hingga orang tua tak ketinggalan meluncurkan ketapel itu. saling berlomba. Berlomba-lomba meluncurkan ketapel paling tinggi. saya dan sahabat kuliah sayapun tak ketinggalan mengadu ketapel. Beradu paling tinggi. Kepala memang pegal mendongak keatas. Tapi taburan warna led yang dipancarkan ketapel dilangit itu menyudahi lelah kami. Tak berfikir lagi capek. Sampai jam demi jam terlewati. Larut dalam euforia. Romantisme kecil dulu.
Bermain dengan ketapel atau baling-baling bambu berarti mengikat lagi masa lalu yang penuh dengan kenangan. Membawa pada 25 tahun yang lalu buat saya. Bermain ditanah lapang di bawah padang bulan. Berlarian mengitari lapangan padang rumput di kampung.

Saya tidak tau padanan kata yang cocok untuk menyebut ketapel berlampu itu. untuk saya dikampung menyebutnya patte’. Yang bergagang dengan karet sebagai pelontar. Biasanya ketapel itu dipakai untuk menembak burung. Tapi di alun-alun selatan, ketapel ini kemudian dikomodifikasi menjadi sarana hiburan. Dibuat seperti baling-baling bambu dan disisipi led warna warni.

Ketapel berlampu itu memenuhi langit di alun alun selatan, bermain di bawah padang bulan menambah suasana khidmat malam itu. saya takjub, ternyata ketapel berlampu ini tidak hanya menjadi mainan orang kecil, namun orang-orang bermobil, BMW, Merci, dan mobil mewah lainnya ikut bermain. Malah ada yang rela meninggalkan pacarnya di mobilnya hanya untuk bermain ketapel lampu itu. Ketapel berlampu kisaran Rp.5000 sampai Rp. 8000 tergantung bahan.

Saya tidak tau, sampai kapan ketapel berlampu itu akan bertahan. Tapi malam itu menghabiskan waktu berlama-lama dengan hanya untuk melepaskan ketapel. Seperti meluncurkan anak panah ke angkasa. Tarikannya begitu keras. Tapi bagi kami, waktu akan terulang bermain-main seperti ketika kecil dulu. Di alun-alun selatan itu.

Yogya-Alunalun selatan, 1707011
Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...