Wednesday, July 27, 2011

Melankoli Pagi


"Morning is god’s special gift. In is quitness u can hear murmurs of life coming. The first light is like resurection".
Goenawan Mohamad (GM), sejak pagi hari mulai “berkicau” di twitter. Tidak beda dengan kuliah subuh atau khotbah, atau kultum. saya anggap saja demikian. biasanya dalam khotbah ataupun kultum--beberapa kata namun penuh khidmat. Tidak beda jauh yang ada di tv atau media lainnya.

Kicauannya yang dirangkum menjadi buku itu bertema—Pagi dan Hal hal-hal yang Lain, Sebuah Epigram, Kompas 2011—membuat pagi begitu penuh paradoks. Disadari memang, dalam epigram itu—mengajak kita untuk tidak menerima hidup apa adanya (dimaknai), epigram tidak saja sebagai prosa singkat namun menjadi kata-kata dengan sindiran, kearifan yang terkadang mengandung paradoks. Inilah yang ada dalam epigram GM itu.

Yang menarik disini adalah, mengapa GM memilih kata “pagi”? bukan “siang”, “sore” atau “malam” ? mungkin disini letak hebatnya GM, pagi yang terkadang sebagian orang tidak punya makna, namun di tangan GM persitiwa pagi begitu istimewa dan terkadang romantis. Mungkinlah pagi itu istimewa bila di tangan GM. Entahlah. Saya mencoba memetik epigram yang dirajut dan terangkum dalam catatan GM itu.
Pagi terbaik datang tanpa sisa mimpi—dan hari bisa dimulai dengan harapan.
Tentu pagi yang dirasakan GM berbeda dengan saya, orang lain, dan kita—tak sama sekali sama, tak akan pernah karena hari tidak pernah mengulang kisah yang sama. Mengolah indra adalah mengolah rasa. GM telah mewanti-wanti itu “dengan itu kita mengalami, menyaksikan, mengamati, dan merenungkan kembali pengalaman” . Apa yang kita rasakan akan sama sekali berlainan dengan orang lain.

Pagi menurut esais Catatan Pinggir itu adalah “pemberian”. Tidak berlebihan jika dia berkata itu. Di tempat yang jauh—di kampung. Pagi bisa menjadi sumber ilham dan sumber inspirasi bagi kebanyakan orang. Lihat saja di kampung. Orang-orang desa itu. Sejak subuh hari selepas bermunajat, bergegas mereka di pagi buta bertebaran mencari hidup dan bekerja.

Tak terkecuali Pagi pula adalah awal kehidupan mahluk hidup setelah sekian jam terlelap. Dan disitulah roh dikembalikan ke dalam jasad. Memulai hidup di pagi hari.

Pagi untuk sebagian orang adalah hal remeh temeh. Tapi tidak dengan Goenawan Mohamad, dalam catatannya dan kicauannya yang menghiasi twitter, pagi adalah tempatnya menyemai ion-ion positif. Tapi begitulah dia, hal sepele bisa menjadi hal yang luar biasa.
Yang paling melegakan dari pagi, seperti pagi ini adalah sejuk. Meskipun tak terasa harum kemuning yang semalam tertimpa hujan.
Kadang ia dengan metafora merajut dan meramu alam sedemikian dekatnya.

Saya coba bersiul memanggil angin, daun-daun praktis diam. Burung-burung hanya lewat. Tapi pagi pagi tetap sebuah prelude ringan, sebelum hari memberat.
Tema waktu memang tak bisa dilepaskan dari “pagi”, ia awal dari waktu. Ia bisa menjadi sesuatu yang lain, tidak bersahabat tak punya rasa kasihan. Saya ingat cerita itu, ketika Bandung Bondowoso gagal menaklukkan hati Loro Jongrang. Pagi adalah penanda besar dari cerita yang romantis sekalgus penuh kesia-siaan itu. jika tak ada bunyi tumbukan lesung padi, kokokan ayam—penanda pagi—tak ada cerita kesiaan hari itu, namun “pagi” adalah epilog dari Prambanan. tentang waktu yang tidak bisa ditaklukkan. sekuat apapun Bandung Bondowoso dengan bala tentara Penggingnya.

Dikisah yang lain, pagi dihidupkan kembali oleh GM melaui daun-daun dan burung-burung.

Mimpi bukanlah sisa keringat pada pagi hari. Ia hasrat yang menunggu siang. Setelah burung pergi.
Dan ia menambahkannya

Saya selalu merasa matahari pagi dan bau cemara hutan tak pernah mengulangi yang mereka berikan
Saya selalu merasa matahari pagi dan bau cemara hutan tak pernah mengulangi yang mereka berikan.Pagi : burung-burung terus saja sibuk, tanpa memilih sikap, tanpa dilema,mungkin juga tanpa harap dan kecewa.
Pagi terkadang punya melankolinya sendiri : saat sejuk yang menandai bahwa istirahat, seperti nikmat, hanya sebuah jeda.[...]

Mungkin epigram ini adalah penghias setiap kehidupan.Goenawan Mohamad begitu dekat dengan nuansa pagi. tidak ada yang salah andai bisa merasa, menikmati, memaknai, dan mengolah rasa saat-saat pagi di hari-hari kita. Jika memang tidak bisa, mungkin kita bisa mencari jawabnya pada Goenawan Mohamad dalam epigramnya.

saya harus mengucap selamat pagi dengan mewakilkan epigram GM

Selamat pagi, penjual roti yang lewat dengan bunyi yang itu-itu juga. yang rutin,yang terus menerus, yang sabar adalah air yang membentuk batu [...]

* foto : koleksi pribadi #lukisan anak-anak korban Merapi

Yogyakarta, 280711
Share:

2 comments:

  1. kemampuan menulis kanda patta ini kian sempurna. saya serasa membaca ulasan seorang penyair atau kritikus sastra. maju terus bro!

    ReplyDelete
  2. kalopun itu ada (proses kesempurnaan tulisan) itu karena saya banyak "mencuri" dari kita kanda. membaca, Sindhunata, Nirwan dan GM adalah sumber ilham yang lain yang slalu sy serap.

    trima kasih kanda Yus, karya2ta akan slalu banyak menginspirasi banyak orang...termasuk saya.

    salam hangat saya

    ReplyDelete

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...