Wednesday, July 20, 2011

CINTA

Banyak defenisi tentang istilah ini, diikuti dengan pahit manisnya, suka cita dan duka cita melingkupinya. Orang tidak lelah berbicara dengan kata CINTA walau istilah ini termasuk tua. muncul rasa heran ketika dekat atau paling tidak berbicara cinta, orang rela membuang energi, perasaan, air mata bahkan mengahiri hidup hanya bersandar pada kata CINTA itu. “aku mencintaimu melebihi dari hidupku” kata itu selalu terdengar orang yang jatuh cinta.

Namun dari itu semua, tak ada yang mengalahkan CINTA dari sufi Rabi’ah al-Adawiyah, dengan cintanya pada Allah, merelakan tubuhnya tak terjamah laki-laki. Membiarkan diri perawan seumur hidup. Rabiah tidak rela membagi cintanya pada orang lain. Kekasihnya hanya Allah semata. Ia harus memberikan totalitas cintanya pada satu saja. bahkan kecintaanya mengalahkan rasa benci terhadap setan. Ia berkata, “cintaku kepada Allah tidak meninggalkan ruang kosong dalam diriku untuk rasa benci kepada setan”.
Ya Allah
Apapun yang Engkau karuniakan
Padaku di dunia ini
Berikan pada musuh-musuh-Mu
Dan apapun yang akan engkau karuniakan
Padaku di akhirat nanti
Berikanlah pada sahabat-sahabat-Mu
Karena Engkau sendiri
Cukuplah bagiku.
Cinta para sufi adalah cinta ilahi, yang transenden, melebihi cinta diri sendiri. Manusia akan benar-benar hidup dalam kedirian. Masing-masing membentuk dunianya sendiri-sendiri. Memaknai rasa cinta, beradasarkan keindividuan. Untuk merasa terpuaskan dengan seperti itu. cinta memang bukan terminologi kosong. Tapi sesuatu yang punya isi, ada berupa wujud, terkadang bersifat absurd. Mengawang-awang. Kosong tanpa makna.

Perdebatan soal cinta-mencintai akan seusia peradaban manusia. Sepanjang hayat, diskursus CINTA tak akan memudar. Seperti bau wangi bunga-bunga. Kadang wanginya terasa dekat di indrai namun sebenarnya jauh diseberang.

Seolah-olah menjauhi kata CINTA dan disisi lain mencoba mendekatkannya sedekat-dekatnya. Cinta memang membutuhkan kekuatan indra untuk memahami. Betapa tidak, cinta tidak hadir semata-mata dalam ruang kosong, namun kadang diisi.

Masihkah kita saling mengerti dan memahami tanpa mengenal kata cinta ? bukankah dunia masih tetap berputar tanpa kita saling mencinta ? dalam hal ini tidak ada yang benar, yang ada semua hal diperkenankan. Termasuk saya menulis cerita yang tidak penting ini.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...