Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. e-mail: pattahindi@gmail.com

Sayap-sayap tanpa kita*


Ie...ie...ie bele wea seru molo mesa...a..a..a

Ie...ie...ie bele wea seru molo mesa...a..a..a

Seru kai nonge, nebu ola kobe one, ie nonge, ola baje wole..a..a..a..


(IE - flores island folksong : Dwiki Darmawan feat Dira Sugandhi)

Sepotong lirik lagu tradisional flores (flores island folksong) itu mengalun indah lewat Dira Sugandhi. dengan suara khasnya diiringi piano Dwiki Darmawan mampu menyihir tamu di acara peluncuran buku Anggito Abimanyu. Saya menyesal tak bisa hadir dalam peluncuran buku itu, namun oleh-oleh compact disc kumpulan lagu Anggito, Dwiki Darmawan dan Dira Sugandhi menjadi penawar penyesalan itu.

Saya terbawa harmoni lagu IE itu, saya kemudian bertanya pada teman yang berasal dari Flores-Nusa Tenggara Timur. Saya hanya mendapatkan sedikit informasi tentang lagu tradisonal flores itu. tapi cukup membuat saya tahu bahwa IE adalah tradisi orang flores dalam memanggil burung-burung. Semacam panggilan sahabat untuk kawanan burung...

Lagu IE hadir sebagai penanda kerinduan akan sayap-sayap yang merapat, sebab burung-burung di flores menjadi langka. Saya pun teringat tulisan Alan Weisman dalam bukunya the world without us (dunia tanpa kita). Pada bagian ‘sayap-sayap tanpa kita’ Weisman secara alegoris pada kenyataan bahwa burung-burung menjelang kepunahan di belahan bumi akibat perubahan iklim dan aktifitas manusia.

“Dalam dunia tanpa manusia, apa yang akan tersisa untuk burung-burung ? apa yang akan tersisa dari burung-burung ? di antara lebih dari 10.000 spesias yang telah hidup bersama-sama dengan kita, dari kolibri dengan berat kurang dari uang logam paling murah hingga burung moa tak bersayap yang memiliki berat 270 kilogram, sekitar 130 telah menghilang.”

Menghilangnya beberapa spesies burung bukanlah tanpa sebab, konversi hutan menjadi tambang, gedung-gedung dan pembabatan liar membuat tidak ada tempat lagi yang nyaman buat sayap mereka untuk hinggap di dahan.

Walaupun burung-burung menghabiskan sebagian besar waktu di udara dengan sayap-sayap anggunnya tentu mereka butuh hinggap dan berteduh. Saya tidak tahu apakah masih ada tempat aman bagi mereka ?. Di sangkar mungkin masih bisa bahagia, tapi mereka lebih bahagia dengan habitat aslinya : alam bebas.

*Judul Asli dari bagian buku Alan Weisman, The World Without Us, (Gramedia, 2009)




Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...