Saturday, June 25, 2011

Kisah perempuan pembawa coklat...

“wanita harus membayar utang kehidupan ini bukan dengan apa yang ia kerjakan, tetapi apa yang ia derita. Ia harus merayapi hidup dalam penderitaannya karena hampir seluruh hidupnya ia harus tunduk kepada suaminya dan mencurahkan waktu untuk anak-anaknya” (Sindhunata, Burung-burung di Bundaran HI : 2007).
Dengan mengutip filsuf Schopenhauer, Sindhunata mencoba melukiskan kisah perempuan di Kramat Tunggak, Jakarta. Saya mencoba menghubungkan kisah perempuan dengan dunia yang berbeda, kisah yang berbeda dan persoalan yang berbeda pula. kisah perempuan yang lain itu terjadi rumah makan di Raminten.

Tentu kita bisa saja tidak bersepakat kata-kata pesimis Schopenhauer diatas itu. Apalagi ditengah wacana emansipasi perempuan saat ini. serasah tidak menarik.

Tapi ada yang menarik sepotong kata dari kalimat Schopenhauer itu.”...hampir seluruh hidupnya ia harus tunduk kepada suaminya dan mencurahkan waktu untuk anak-anaknya”. ada peristiwa yang mengharukan sekaligus menggugah di suatu malam di rumah makan Raminten Yogyakarta. Saya tidak sendiria malam itu, bersama teman-teman asrama.

***
Naluri ke-ibu-an mungkin menghendakinya demikian. Ia menyusuri malam-malam sambil menjajakan coklat yang dibuat dengan tangannya sendiri. Tak ada yang lain, perempuan itu berusaha dan tak mengenal waktu untuk kesembuhan putrinya yang terbarin sakit.

Dengan nada yang datar dan sopan, perempuan itu menyodorkan coklat buatan tangannya pada kami. “nuwun mas, saya menawarkan coklat untuk pengobatan anak saya yang sakit”. Coklat dengan kemasan cantik dengan rasa almon dan mete memang menarik hati. Tap harga yang kurang sreg membuat kami saling memandang. Bukan harga murah untuk kalangan mahasiswa. Tapi ada kata-kata pamungkas yang membuat kami empati, larut dalam dunia yang ia rasakan.

“untuk berobat anak saya, ia sekarang di rumah sakit, kena lupus mas”.
Kesedihan nampak di raut wajahnya tapi berusaha tegar. Hanya itu yang ia mampu. Ia mencurahkan hati dan tenaga untuk anaknya. Pukul 12.00 malam, Raminten tak menandakan sepi, padahal malam dinginnnya malam itu menusuk-nusuk tulang. Kidung Jawa masih mengalun dalam keramain tempat itu, remang cahaya lampu-lampu mengikuti nuansa kidung itu, mengikuti kisah perempuan itu : sepi

Perempuan itu berkeliling dan berpindah, dari meja ke meja. Ada yang hirau juga ada yang tak hirau. Ada yang menampakkan wajah kusam ketika dihampiri, seperti memberi isyarat mengganggu selera makannya. Dunia memang kadang paradoks. Ketika menyadari manusia dalam ketidakberdayaan, ada juga yang tak iba. Tak ada yang salah dari wajah-wajah itu. toh setiap manusia tidak selalu menjadi dermawan dalam setiap waktu. Termasuk kami. Yang kami lakukan hanya sekedar rasa kemanusiaan. Tidak lebih.

Seakan perempuan itu merasakan sepi dimalamnya. Sepi mengiris hatinya. Mengingatkan anaknya terbaring sakit dan tak mampu akan biaya. Negara pun alpa ketika dibutuhkan. Ia menyadari negara tak ada ketika ia membutuhkan. Maka ia menggunakan akal sehat dan tenaganya untuk bisa memberi harapan pada putrinya : kesembuhan.

***

Sesampai di kost, tak menunggu lama untuk membuka google dan membuka seperti apa penyakit lupus itu. sederhana, dengan keyword "lupus", akhirnya muncul 894.000 entry. Penyakit LUPUS adalah penyakit baru yang mematikan setara dengan kanker. Tidak sedikit pengindap penyakit ini tidak tertolong lagi, di dunia terdeteksi cheap prescription drugs without prescription penyandang penyakit Lupus mencapai 5 juta orang, lebih dari 100 ribu kasus baru terjadi setiap tahunnya.

Arti kata lupus sendiri dalam bahasa Latin berarti “anjing hutan”. Istilah ini mulai dikenal sekitar satu abad lalu. Awalnya, penderita penyakit ini dikira mempunyai kelainan kulit, berupa kemerahan di sekitar hidung dan pipi . Bercak-bercak merah di bagian wajah dan lengan, panas dan rasa lelah berkepanjangan , rambutnya rontok, persendian kerap bengkak dan timbul sariawan. Penyakit ini tidak hanya menyerang kulit, tetapi juga dapat menyerang hampir seluruh organ yang ada di dalam tubuh. Gejala-gejala penyakit dikenal sebagai Lupus Eritomatosus Sistemik (LES) alias Lupus. Eritomatosus artinya kemerahan. sedangkan sistemik bermakna menyebar luas keberbagai organ tubuh (http://doktersehat.com/2007/09/24/lupus-apa-itu-penyakit-lupus/#ixzz1PkHxg0wE).

Cerita ini adalah sebuah pengalaman hidup tentang arti perjuangan ibu yang menginginkan anaknya sehat dan bermain riang dihalaman rumah. Dengan segala cara, menjajakan coklat hasil buatan tangan ditengah malam buta dan dingin yang menusuk-nusuk tulang.

Pada akhirnya, coklat berisi almon dan mete itu akan melanglang ditengah malam yang menggigit meminta belas kasihan dari derita yang dihadapi. Terbaring, tak berdaya. Ironisnya, dengan itu ia membimbing dirinya di malam buta hanya sekedar untuk kesembuhan anaknya. Inilah mungkin yang disebut naluri, naluri perempuan sekaligu ibu.

Yogya, 250611



Share:

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...