Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. e-mail: pattahindi@gmail.com

Pacaran

Sesaat sebelum masuk kelas, saya di tawan oleh sebuah pertanyaan dari teman, "kok kamu gak nyari pacar di Jogja mas" ? saya hanya senyum saja. dan membalasnya dengan datar “belum nemu mba”. Jawabanku singkat tapi tak jelas.

Sebenarnya jika mau memberi penjelasan, bisa saja, bahwa saya sudah punya tambatan hati di kampung ato mengutip dari note Robby Muhammad-pacaran itu tak rasional. Berusaha memperlihatkan sesuatu yang bukan diri kita. kadang membohongi diri kita, dan pasangan kita. dan akhirnya bertingkah seolah-olah sempurna (padahal palsu). Paradoks pacaran katanya dalam pandangan Robby Muhamad. Namun itu tidak penting buat saya menjelaskan se-detil itu dan bisa saja teman itu menyela lagi dengan nada sinis akhirnya debat kusir. Seperti membuang energi hanya untuk menjelaskan yang remeh-temeh itu. Hufft...

Tapi jika di Jogja dan kota besar di Jawa tak mendapatkan pacar alangkah ruginya jadi mahasiswa bujangan. Apalagi perempuan “ayu” bertebaran di sekitar kampus. Beberapa teman dengan mudahnya gonta-ganti pacar, dengan mudahnya menggandeng perempuan. Dalam hati (nafsu) saya, sebenarnya ingin tapi raga dan nalar tak mampu menjembatani. Akhirnya saya pun hidup dalam kebimbangan antara mencari pacar di Jogja ato sabar sebelum akhirnya ketemu. Karena jodoh buat saya adalah sebuah pertemuan. Entah disengaja ato tidak.

Saya pun membaca kembali tulisan Robby Muhammad di blognya yang menyitir “paradoks pacaran”. Menurutnya, Pacaran bisa menjadi kutukan...Semakin banyak bekas pacar, semakin banyak kemungkinan membanding-bandingkan. Jika akhirnya menikah, bagaimana membicarakan bekas pacar dengan pasangan? Padahal bekas pacar itu punya andil membentuk diri seseorang sekarang setelah menikah. Menyakiti dan disakiti tak bisa hilang begitu saja karena itu bagian dari pengalaman pribadi. Bekas pacar adalah termasuk pengalaman penting, tapi terpaksa ditekan dari memori. Semakin banyak bekas pacar, semakin banyak yang harus ditekan... Tuturnya.

Saya mengamini saja, walau tak menelan mentah-mentah, karena butuh rasionalisasi. Itu penting buat saya yang terombang-ambing antara pacaran ato tidak di seberang pulau (Jogja). Saya pun mengambil argumentasi tanpa pacaran pun orang bisa langgeng, dan contoh kasus dari orang tua saya yang memiliki anak 8 padahal tak mengenal kata pacaran. Itu dulu...konteks sekarang apakah sama ?...

Namun antitesis lahir dari anak muda sebaya saya (merasa muda) bahwa, dengan pacaran kita bisa mengenal lebih dalam sebelum menikah, apakah ini benar atau pembenaran ? pertanyaan ini berlaku juga bagi saya yang selalu menolak perjodohan padahal perempuan yang di jodohkan itu tak kalah “ayu” dengan perempuan di Jogja. Jawaban sederhana yang kembali saya kutip dari Mas Robby, orang-orang dulu tidak banyak referensi tentang pasangan, sehingga sedikit kemungkinan untuk membanding-bandingkan. Good point menurut saya.

Entah apa yang ada dibenak sahabat saya yang gonta-ganti pacar, adakah ia mau mengenal tipikal pasangan, ataukah ingin membanding-bandingkan pasangannya ? (padahal orang tidak suka dibanding-bandingkan, karena orang punya ke-unik-an masing-masing). Entahlah.

Pelajaran menarik dari pertanyaan teman, sekaligus menelusuri note Robby Muhammad yang juga ilmuan muda itu jangan terlalu banyak pacar dan melakukan perbandingan. Ibarat menyusuri hutan, semakin banyak kita mencari semakin tak menemukan apa yang kita cari. Karena hutan belantara yang sifatnya penuh misteri. Semakin tidak menemukan apa yang kita cari.
Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

8 comments:

  1. saya setuju kak, rata-rata pacaran malah dijadikan ajang "siapa yang paling hebat memiliki banyak pacar"....padahal kan sebenarnya ini adalah perjalanan menemukan belahan jiwa...^^

    ReplyDelete
  2. Meyke...benar skali dan itu banyak sy liat disini..tp bukan msalah hebat dia banyak pacar, tapi sekedar membandingkan padahal perempuan gak suka kan dibandingkan...dilema manusia sya pikir... :)

    ReplyDelete
  3. wah, berarti pacaran kayak beli barang di toko. Dipilah-pilih terus dibeli. Kalau sudah bosan ganti lagi...*__________*

    ReplyDelete
  4. yang di untungkan sapa ? perempuan ato laki2 nya ? yang jelas Meyke pasti dapat laki-laki yang baik hati...amin

    ReplyDelete
  5. siapa yang mendominasi selalu menang kak...tapi saya rasa itu bukan cinta. Cinta lebih daripada sekedar memiliki, bagaimana kak?

    kudoakan yang sama buat kak patta, mendapatkan perempuan yang baik. kan kata Al-Quran "Perempuan baik akan mendapatkan Laki-laki yang baik"

    ReplyDelete
  6. hegemoni dan dominasi biasa terjadi dalam pacaran, hanya sebagian orang nda bisa bedakan, antara dia terhegemoni ato terdominasi...ehehe,tau juga Alqur'an Meyke, salut

    saya mengutipkan kata Saint Petrus mendaki bukit di Vatikan, Domine, Quo Vadis ? tuhan hendak kemana ?

    jika bisa menjawabnya maka, pergi kemana hati membawa (seperti judul novel pengarang itali)

    Meyke akan mendapatkan laki-laki yang baik. Meyke orang cerdas. salut, lelaki yang dekat Meyke pasti seneng...

    ReplyDelete
  7. aminnn... Tuhan pasti akan mengatur yang terbaik untuk kita semua, kak..^^

    wah saya lagi cari buku nya Susana Tamaro yang "pergilah kemana hati membawamu" kak...kemarin saya yang saya baca itu "Rospondimi ( Jawablah Aku )"

    ReplyDelete
  8. kyknya ada, pernah sepintas, tapi aku tanyakan teman senin...kalo ada nanti ta kabari...

    ReplyDelete

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...