Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. email:pattahindi@gmail.com

Mural Sang Penyair


Tulisan dalam mural dibawah jembatan stasiun Tugu itu masih segar dalam ingatan, bergambar sastrawan besar angkatan 45-an. Bertuliskan (kira-kira) seperti ini “mampus kau di makan zaman”. Saya menganggap mural itu bukan sebagai hujatan pada sang penyair besar itu, justru sebaliknya, tulisan itu bisa jadi menggugah pembacanya atau mengenang diri dan puisinya.

Saya kira, tidak sendiri menjadi penikmat dan pembaca puisinya. Puisinya yang sering dikutip-kutip itu harus mati muda, meninggal di usia 26 tahun, sama halnya Soe Hok Gie yang mati muda (kebahagiaan yang mati muda). Padahal kita tahu, dalam puisinya AKU, ia ingin hidup seribu tahun tahun lagi. Jasadnya boleh “mampus” bersama tanah, tapi semangat dan puisinya adalah abadi.

Pahlawan. Saya menyebutnya pahlawan, karena tidak semua pahlawan harus mengangkat bedil dan bambu runcing. Ia melawan dengan kata-kata. Melawan penjajah dengan kata-kata bukanlah hal mudah. Tapi Chairil lain, ia mewacana dalam bentuk kata-kata dan akhirnya membangun kesadaran untuk merdeka. Seperti puisinya : Kerawang-Bekasi,

...Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Mengenangnya menjadi isyarat. Sejarah tak bisa kita lupakan kata Soekarno. Mural itu mencoba mengingatkan dengan kata-kata menghujam. Semiotika sebagai kajian relasi tanda memberi isyarat kehadiran mural dibawah jembatan stasiun tugu itu, menandai dan menggantikan kehadiran sosok penyair besar itu. setiap tanda memiliki karakteristik, begitu juga tanda (mural) di bawah jembatan itu.

Zaman memberi suatu peralihan-peralihan pada puisi, semangat dan gambar sang penyair. Ketika sulit mendapatkan catatan hidup sang penyair lewat buku dan tanda-tanda lain, mural-lah yang menggantikan kehadirannya. Penyair besar itu, Chairil Anwar.
Derai Derai Cemara (Chairil Anwar - 1949)*

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
*(diktutip, http://chairil-anwar.blogspot.com/)

Jogja, 230511

Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga untuk sahabat yang berkenan menuliskan komentar kritisnya...salam bahagia