Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. e-mail: pattahindi@gmail.com

Mr. Judge dan Ms. Prejudice


Akhir ini saya mengalami hari-hari yang sulit. saya dianggap Mr. Judge oleh yang saya anggap orang itu 'asing'. perkataan saya dianggap sebagai penghakiman akhirnya disebut Mr.Judge, padahal teks sangatlah mungkin terbatas dalam memahami, apalagi dengan sepenggal saja. teks juga memiliki kekurangan.

saya pun tak membiarkan diri dianggap seperti itu, pe-label-an adalah sesuatu yang saya hindari, Mr. Judge adalah term yang disematkan kediri saya itu. dan itu sangat negatif buat saya. asumsi sederhananya, pelabelan adalah memberi 'cap' kepada seseorang dan bisa menjadi citra diri. dan lucunya, si Ms.Prejudice, si-prasangka (sebuah kata yang tepat disematkan untuk perempuan) itu. dengan melihat saya dengan cara pandang sinis dan 'kacamata kuda'. Yang hanya melihat cara saya menyampaikan lewat tulisan ato sms-an. oh tuhan, memandang hidup terlalu sederhana akhirnya bawaannya hanya prasangka, dan prasangka adalah naifitas adalah banal buat saya.

Perempuan itu mungkin mengiginkan semua seperti maunya, dalam realitas yang ia bangun sesuai konstruksi pikirannya. dan ketika bertemu dengan saya yang mengambil jalan lain kontra, melawan arus yang ia mau. maka saya pun disebutnya Mr.Judge. ia berpikir saya terlalu mencampuri urusan pribadi dan menelisik terlalu dalam kehidupan pribadi, padahal ia tak tau, saya (mencoba) membongkar 'kesadaran mitis' dirinya. dan usaha saya anggap itu berhasil. saya membayangkan betapa dia larut dalam kesadaran, tapi hanya kesadaran palsu. saya tendensius ? mungkin saja. tapi itu bukan arti diri saya yang sebenarnya.

teks, dan lisan tak melihatkan kepribadian diri, tergantung dari siapa yang dihadapi, karena seseorang bisa saja menggunakan konsep dramaturgi, pentas depan dan pentas belakang. hidup adalah sandiwara.

saya anggap Ms. Prejudice itu menggunakan tangan besi, tak mau ada interupsi. dia hanya memandang saya satu sisi, one dimensionally jika bisa memakai istilah Herbert Marcuse, padahal manusia dan juga saya adalah manusia yang multi makna. kita adalah manusia paradoks yang tidak punya satu sisi, tapi bersisi banyak. banalitas kadang terjadi jika sepintas mengenal orang. tapi itu bukan kesalahan, saya hanya menganggap angin lalu dan itu bisa menjadi pelajaran saya juga.

Damai hati...

*Gambar : Google.com
Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...