Thursday, May 5, 2011

Kuliner dan Identitas

Francis Fukuyama pernah berkata dalam bukunya The Great Distruption, De gustibus non est dispuntandem-tidak ada perhitungan untuk selera. begitu juga dengan makanan. Beragam jenis menggoda selera. tak habis-habis panganan untuk di rasa. begitu banyak pilihan.

saya tentu tak melupakan kuliner asal saya lahir, Makassar, kulinernya tak kalah enak menggoyang lidah. juga makanan tempat tinggal saya di Kendari tak habis untuk di eja dengan kata-kata selain "maknyussss"...

kuliner tak harus mahal, yang penting soal rasa. sedikit berbeda dengan fukuyama yang mencontohkan makanan China, Meksiko, Itali, Amerika dan makanan oriental lainnya. soal selera tak mengenal kata mahal dan ini yang hadir di kuliner nusantara, seperti di jogja tak mengenal kata mahal (murah) dan menggoda selera.

soal selera atau pun rasa tak bisa direduksi untuk selera banyak orang begitu saja. karena rasa tergantung lidah inidividu. ada juga yang tak bisa merasakan manis, ada yang tak suka pedas, dan asin-tak mungkin di reduksi begitu saja...

Kuliner adalah identitas, tak bisa direduksi yang lain. kuliner adalah media beromantisme asal kita dan mengenang masa-masa asal. betapa banyak orang modern merindukan jajanan kampung, ibaratnya mencari identitas, asal usul diri lewat kuliner. saya merasakan itu, ketika di Jogja, saya tak jemu-jemu mencari coto, pisang ijo, pallu basa, dan kuliner lainnya. makanan itu membuat saya bernostalgia dengan asal usul saya.

makanan adalah identitas kita....


Share:

2 comments:

  1. Jadi ingat waktu liburan 3 bulan di Jawa, saya jadi kurus soalnya makanannya manis-manis semua tak ada pedis-pedisnya. Bahkan lomboknya pun manis ._.
    Saya setuju, dengan makanan adalah identitas saya

    ReplyDelete
  2. ehehe..spakat mbak. skarang juga masih susah menyesuaikan makanan yang manis, sayurnya manis dan hampir semua...:)

    salam hangat dan trimakasih telah mampir di lapak saya

    ReplyDelete

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...