Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. email:pattahindi@gmail.com

Kemana Ibu Budi ?

" ini ibu budi, ini bapak budi...ayah pergi ke kantor, ibu pergi ke pasar."
Setiap melihat anak sekolah dasar dengan seragam putih merah. Setiap itu juga saya dibawa dalam arus waktu yang lalu dengan buku teks dan ibu guru saya. Caranya mengeja, membaca - ibu guru selalu mendiktekan distingsi peran ibu dan ayah dalam keluarga harmonis Budi. Yang di ceritakan dalam keluara Budi adalah peran seorang perempuan (ibu) yang dikonstruksi dalam ruang domestik, dapur, sumur dan kasur. Sedang ruang laki-laki (ayah) di publik-membaca koran, atau ke kantor.

Itu adalah waktu yang silam, waktu yang lalu, dimana wacana itu lahir saat sekolah dasar dulu. Sekarang wacana itu tak pernah ada lagi, ingin sebenarnya bertanya pada anak berseragam putih merah itu, sekedar bertanya apakah Budi masi mewacana di papan tulis atau di buku teks ?. Tentang Ibu Budi yang ke pasar itu ?. Tapi entah mengapa, setiap mencoba bertanya setiap itu pula pertanyaan itu tertahan. Mungkin jika bertanya, tak ada lagi Ibu budi itu. Perempuan itu. Terhapus dalam ingatan. Karena kita slalu mudah untuk melupa.

Tentang waktu dan Ibu atau perempuan itu, teringat kata Sukarno dengan Sarinah-nya. Dengarlah dia berkata

"...sesudah saya berpindah kediaman dari Jakarta ke Yogyakarta, maka di Yogya itu tiap-tiap dua pekan sekali mengadakan “kursus wanita”...dalam kursus-kursus itu ada pokoknya,-akan mengerti apa sebab saya anggap soal wanita itu soal yang amat penting. Soal wanita adalah soal masyarakat.”
Jika perempuan atau wanita dan atau yang selalu disebut-sebut the second sex menurut Simone de Beauvoir. Perempuan dilupakan dalam panggung gemerlap kaum laki-laki.

Dari kisah ini perempuan dilahirkan sebagai entitas yang hidup melalui tulisan tangan Sukarno, Sarinah ditahun 1947-an itu. Saya kagum betapa Sukarno yang sibuk mengurus bangsa namun tak luput menghargai perempuan dan menuliskan perjuangan perempuan dalam sebuah buku.

Betapa perjuangan perempuan tak bisa dimatikan begitu saja dengan kata “ibu pergi ke pasar” tiap hari seperti itu. Soal-soal perempuan hampir selalu dilupakan dalam ingatan, peran, kesabaran dan pengorbanan.

Saya harus belajar menghargai perempuan, ibu, wanita dan the second sex itu. Karena perempuan adalah sebutir mutiara kata Sukarno...


kemana Ibu Budi ????

Jogja, 130511
Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga untuk sahabat yang berkenan menuliskan komentar kritisnya...salam bahagia