Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. e-mail: pattahindi@gmail.com

(ke) Pasar Kembang


Malam itu mulai dingin, singgah sebentar menyeruput teh di angkringan dekat stasiun Tugu sedikit melegakan badan. Tak selang berapa lama lepas magrib, saya dan teman kuliah menyusuri pasar kembang yang luasnya sekitar dua hektar, mungkin lebih luas sedikit dari perkiraan. Seperti pemukiman lainnya, masyarakat membaur, anak kecil berlarian bermain petak-umpet, ada pedagang kaki lima menjajakan makanan.

Tapi lansekap yang hadir itu adalah sebuah paradoks. Ada dunia lain yang hadir di pemukiman itu : pelacuran. Dikeremangan itu, gang-gang yang dijejali perempuan berpakain seksi menatap dengan harap. Ada yang mencoba menggoda, “mas tawar berapa ?”, sambil mencubit mesra dan....

Di gang kecil, dengan bedak tebal, gincu merah, pakaian u can see, perempuan-perempuan ayu itu mengerlingkan mata dengan cara menggoda. Berbaris mereka mencari pelanggan, mencari hidung belang yang haus dengan gairah. Teman sayapun mencoba menggoda, “gimana daeng, mau nggak ?” saya membalasnya “kita susuri jalan saja”...Bagi perempuan-perempuan malam itu, tak ada penghasilan juga tak ada pengharapan dalam hidup. sekali "mencicipi" tarif paling murah Rp50.000.

Kedatangan saya bukan untuk “mencicipi”. Saya hanya datang untuk melihat realitas di pasar kembang : dunia pelacuran. (maaf saya sedikit sok religius)...

Dalam temaran disepanjang lokalisasi itu, saya teringat tulisan Goenawan Mohamad, catatan pinggir-Pelacur. Goenawan melukiskan pelacur bernama Nur memecah batu di siang hari, malamnya menjajakan diri di atas gunung Bolo. Mungkin itu yang terjadi pada perempuan-perempuan ayu itu. ada pekerjaan tambahan untuk bertahan hidup.

Sebuah buku yang dikarang Than Dam Truong - Sex, Money and Morality. Melukiskan pelacuran di Thailand sebagai bagian dari industri. Pelacuran berkaitan dengan ekonomi politik. Dalam dunia pelacuran, terkait relasi kuasa dan seks. Ada baiknya menoleh sejenak sejarah seksualitas dalam karya Foucault, berbunyi paling tidak seperti ini, relasi antara kekuasaan dan seks bukan salah satu represi, jauh dari hal itu. (Entah jauh dari hal itu apa menurutnya), tapi menurut saya, Foucault berkata, itu berkaitan dengan ekonomi kesenangan (prokreasi) bukan norma-norma. Seks berkaitan dengan kebutuhan.

Jika diperhadapkan pada moral, maka yang menjadi korban adalah pelacur. Tataran normatif memang seperti itu tapi bagemana dengan nasib mereka ? bukankah mereka adalah objek dari kekuasaan ? mereka juga punya hak mendaku punya moral. Mereka punya alat produksi untuk bertahan hidup.

Terkadang Nur berbicara tentang Tuhan (ia belum melupakan-Nya). Ia menyebut-Nya ”Yang di Atas”. Mungkin itu untuk menunjuk sesuatu yang jauh—tapi justru tak merisaukannya, karena manusia, yang di bawah, tetap berharga: bernilai dalam kerelaannya.
Terkadang kita membenci dosa, tapi kita menyukai orang yang suka melakukan dosa. Entah, siapa yang disebut pendosa disini : pelacur, hidung belang ataukah orang-orang yang selalu melihat sebelah mata para pelacur ?...entahlah

dari sini haruskah pelacur dikatakan nista ? saya harus hati-hati untuk memberi jawaban. Setidaknya dia punya alat produksi untuk bertahan hidup.

hujan pun mengakhiri perjalan menyusuri pasar kembang....

Jogja, 050511
Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...