Saturday, May 14, 2011

Cyber culture, dari face to face ke space to space


Mimpi Bill Gates yang menginginkan interaksi hanya dalam layar datar terjawab sudah. Ruang semakin menyempit dan datar. Interkasi face to face mulai bergeser ke ruang space to space. Sejak dipakai untuk keperluan militer (perang dan spionase) dunia teknologi informasi hingga saat ini tak berhenti berinovasi. Komersialisasi teknologi informasi dari komputer dekstop, notebook hingga komputer pintar dengan layar sentuh merengkuh kehidupan manusia. Dulu Bill Gates hanya membayangkan orang berinteraksi dalam tabung liquid. Tak selang berapa lama. Mimpi itu diwujudkannya dengan apa yang disebut internet.

Pertanyaan kemudian, apakah interaksi face to face akan beralih menjadi space to space ? jawabnya bisa ya bisa tidak. Asumsi pertama, ruang semakin menyempit dengan adanya jejaring sosial. Kicaun twitter, updetan status setiap menit sambung menyambung. Ruang offline hidup begitu rupa diruang online. Jadilah curhat, gosip dan diskursus yang biasa dilakukan di ruang offline kini bosa dilakukan diruang online. Dunia tak lagi selebar daun kelor. Sekarang malah lebih kecil lagi. Dunia yang datar. ruang bisa disempitkan dalam layar beberapa inch.

Ada beberapa peristiwa yang saya alami, ketika diruang offline (face to face) saya kaku bercakap kepada senior, dosen, mahasiswa saya, namun cair diruang online. Jika kita memakai analisis cultural studies maka hal ini bisa dikatakan representasi dari yang bukan diri (saya) sepenuhnya. Hibriditas identitas mengada di ruang maya. Di Dunia virtual, individu merasa lapang tanpa hambatan. Semisal emosi yang terwakilkan dengan simbol-simbol (walau belum tentu seseorang benar-benar tersenyum).

Asumsi kedua, ruang face to face tak akan digantikan dengan ruang virtual itu. Interaksi diruang “sebenarnya” lebih terlihat emosi. Ruang virtual hanyalah tool (alat) untuk berinteraksi. Ada ruang-ruang yang tidak bisa digantikan ruang cyber semisal emosi, hasrat dan sentuhan fisik. Bolehlah orang menggunakan simbol namun tetap tak bisa menggantikan ruang yang tanpa mediasi.

Ruang virtual (cyber culture) adalah media baru, orang bisa saja tidak serius tapi tidak untuk diremehkan perannnya.

Share:

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...