Ayah dari seorang gadis kecil bernama Zahra Adeeva. Mengajar di Unismuh Kendari, Alumni UNHAS dan UGM. e-mail: pattahindi@gmail.com

Surat Bergambar Hello Kitty


Hello Kitty, surat itu bergambar kucing kecil, berpita merah itu akan melewati lautan dan daratan untuk menyampaikan pesan. Padahal dunia sangatlah datar sekarang, ketika teknologi memudahkan untuk berkirim kabar. Aku mengirimnkan dari tempat yang jauh meski kita telah saling melupa. Paling tidak tak sempat mengingat lagi sekarang. Hati beku sebeku malam. Tapi percayalah, surat ini pertanda sebagai tanda-tanda kerinduan lewat yang tergambar Hello Kitty, hewan kesayanganmu. Kucing jepang itu. Surat ini sebagai ucapan kabar yang lapang tentang warna kehidupan. Paling tidak membaca sebuah teks dalam ruang persegi bernama surat ini. Harus kau ingat Nayla, tulisanku tak secantik dan sebagus tulisan seperti saat menulis indah di sekolah dulu. Kau harus membaca tiap huruf, titik, koma dan tanda sambung dengan hati (hati).

Saat surat ini ada di tanganmu, lepaskan semua memori dan emosi negatif yang hinggap dalam pikiranmu. Karna kau tak akan menangkap makna jika kau punya pretensi. Anggaplah ini surat yang tak kau kenal sebelumnya, inilah surat pertama, dan akan berlanjut menjadi kepingan-kepingan catatan yang kelak kau simpan menjadi arsip di kotak kayu yang kubuatkan dulu.


Dear,

Nayla Nafeesah...

Awal dari surat ini aku mengutipkan sebaitsajak yang hadir dalam pikiranku saat menulis surat ini. Saat ini musim hujan, sebentar lagi memasuki musim kemarau, itu bertanda bahwa akan ada pesta musim panen. Tapi aku tak larut dalam pesta itu. Sungguh, melewatkan pesta itu adalah kerugian tapi aku tak bisa lepas menulis pesan ini untukmu. Ini lebih penting Nayla. Aku ingin curhat dalam surat ini, ditanganmu kutitipkan pesan dunia menjadi ironis. Aku baru saja membaca buku Sindhunata, Dilema Usaha Manusia Rasional. Aku sampai pada sebuah kesimpulan bahwa :

Pada Manusia rasional selalu berusaha untuk menyingkirkan kekuatan di luar diri manusia, dan menganggap sesuatu di luar manusia sebagai takhayul. Antropoentris cara pikirnya, tuhan hanya sebagai konsepsi kita saja, Manusia modern adalah manusia yang takut akan transenden, segala sesuatu dianggap imanen (dalam dirinya). aku menyebutnya paradoks hidup manusia modern. disisi lain dia bisa menjadi manusia periang disaat keramaian, tapi disisi lain, dia juga merasa sepi di keramaian (lonely on the crowed).

Saat aku menulis surat ini sore baru saja menyapa, di luar sana, cuaca mencapai titik didih tiga puluh derajat, panas sepanas api. Langit cerah. Pohon-pohon meranggas tanda mengurangi penguapan. Helai demi helai daun-daun berjatuhan, seremoni lahir di sore itu saat surat kutulis tangan sambil memandang dedaunan itu. Ranting-ranting pohon sepi di tinggal daun-daun. Terseret angin yang membawanya pergi. Dan pada saat-saat moment perpisahan yang menjelang sore menjelang matahari beringsut itu aku menulis surat sambil membayangkan aku hadir dihadapanmu becerita panjang lebar dengan membawa permen lolly-pop kesukaanmu, Aku harap bertemu pada musim-musim seperti ini. Sederhana dan bijaksana.

surat menjadi jembatan kerinduan itu. Sehelai kertas bergambar hello kitty ini telah melanglang jauh, melewati waktu dan daratan. Beribu kilometer telah ditempuh hanya untun menyampaikan kerindun dalam bentuk teks. Curhat tentang hidup, perasaan yang beku, kesedihan skaligus kebahagiaan. Mungkin akhirnya absurd. Tapi sedari awal aku mengharap tak ada iterupsi apalagi menegeluh. Surat ini akan berlanjut di hari-hari berikutnya Nayla. Sebelum aku lupa aku memberimu tugas, dan kuharap kau membalas suratku. Nayla, apa artinya berada (mu) ?... aku menunggu jawabanmu segera....


Sore Menyapa di Jogja, 070411



salam
Share on Google Plus

About Patta Hindi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih yang tak terhingga atas komentarnya...